
Sampai di dada, Bagas mulai menarik wajahnya. Sedikit menjauh dari tubuh yang membuatnya candu.
Menatap wajah kekasihnya yang sudah bersemu merah.
Pelan, Bagas kembali mengancingkan baju Felli yang sempat ia lepas, lalu menjatuhkan ciuman terakhir diatas bibir ranum itu.
"Aku tidak akan memaksamu," ucap Bagas dengan tersenyum kecil.
Meski rasanya dibawah sana begitu sesak, namun sekuat tenaga ia tahan. Bagas ingin, Felli juga menginginkan dirinya.
"Aku punya sesuatu untukmu," ucap Bagas lagi, lalu menarik Felli untuk mulai duduk.
Bagas kemudian mengambil paperbag yang ia lempar asal di atas ranjang itu. Sebuah kado kecil untuk sang kekasih.
"Ku rasa ini pas ditubuhmu," jelas Bagas lagi, seraya mengulurkan paperbag itu pada sang kekasih.
Felli membenahi rambutnya dulu, menyelipkan dibelakang telinganya lalu menerima uluran paperbag itu.
"Boleh ku buka sekarang?" tanya Felli dengan antusias, ia sudah kembali tersenyum, ketakutannya tentang Bagas yang akan meminta itu sudah menghilang.
Ia cukup lega, saat mendengar Bagas tidak akan memaksanya.
"Bukalah, tapi jika kamu buka sekarang, kamu harus langsung memakainya," tawar Bagas, dengan tersenyum miring. Hingga membuat Felli menaruh curiga, dan jadi takut sendiri.
"Memangnya apa isinya?"
"Satu stel baju," jawab Bagas cepat, namun berhasil membuat Felli mengerutkan dahinya, seolah tidak percaya.
Mendadak jadi ragu, apakah harus dibuka sekarany atau nanti.
"Nanti sajalah ku buka, setelah Mas pergi," putus Felli hingga membuat Bagas terkekeh dan merasa kecewa.
"Ah, bukan hari keberuntunganku," keluh Bagas, diantara kekehannya.
"Ya sudah mandilah, aku akan pulang. Sampai bertemu lagi," timpal Bagas lagi, ia mengelus pucuk kepala Felli dengan sayang, lalu segera berlalu dari sana.
Namun langkahnya terhenti, saat tangan Feli mencegah.
Gadis ini lantas berdiri dari duduknya dan mulai mengambil inisiatif untuk meraup bibir kekasihnya itu lebih dulu.
Bagas, langsung memeluk tubuh Felli erat. Seraya membalas ciuman sang kekasih dengan lebih kasar.
"Sampai jumpa," ucap Felli dengan napasnya yang terengah,napas keduanya saling beradu dan memburu.
"Kapan-kapan, aku akan mengajakmu ke rumahku, Maukan?" tanya Bagas lagi.
Dan Felli menganggukkan kepalanya patuh dengan darah yang berdesir lebih deras.
Merasa kelak saat dirumah Bagas mereka akan melakukan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore di kamar Hanan dan Sena.
Kedua netra Sena membola, saat melihat 30 set bikini yang suaminya berikan.
"Memangnya kita mau ke pantai?" tanya Sena, tidak percaya atas kelakuan suaminya itu.
Hanan mendekat, menganbil satu pasang bikini berwarna merah muda dan menyerahkannya pada sang istri.
"Tidak ada yang mau ke pantai, mana sudi aku memperlihatkan tubuh istriku pada orang lain. Jadi kamu akan menggunakan bikini-bikini ini di dalam kamar. Saat hanya ada aku," jawab Hanan, dengan senyum mesumnya.
Hingga membuat Sena mendelik.
"Kamu tidak ingin aku melihat tubuh wanita lain kan?"
Sena menganggukkan kepalanya dengan cepat. Mulai paham apa maksud sang suami.
Sena bahkan langsung mengambil bikini yang diulurkan suaminya itu.
"Mas ingin melihatku pakai ini?"
Hanan mengangguk.
Dan tanpa banyak bertanya lagi, Sena segera masuk ke dalam kamar mandi dan mulai mengganti bajunya.
Sebuah bikini dengan G-string dan bra yang hanya menutupi bagian inti dadanya. Terlihat jelas kedua bongkahan itu yang tumpah-tumpah.
Hanan, duduk disisi ranjang dan terus melihat kearah pintu kamar mandi.
Hingga dilihatnya pintu itu terbuka dan sang istri keluar secara perlahan.
Persis seperti fantasinya, Sena sungguh menggoda.
"Sensen," panggil Hanan dan Sena mendekat lalu duduk diatas pangkuan sang suami.
"Mas suka?" tanya Sena dan Hanan mengangguk.
"Aku punya peraturan baru untukmu," ucap Hanan kemudian.
"Apa?"
"Jangan pernah pakai bikini selain di kamar ini, bahkan di pantai sekalipun aku tidak mengizinkannya. Hanya aku yang boleh melihatmu memakai baju bikini," jelas Hanan, sungguh-sungguh.
Mendengar itu, Sena mengulum senyumnya. Lalu menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami, hingga wajah suaminya itu persis berada didepan kedua dadanya.
"Selamat makan," ucap Sena hingga membuat Hanan terkekeh.
Hanan senang sekali, jika Sena sudah liar seperti ini. Dan tanpa babibu, Hanan langsung menyantap makanan pembukanya.
Memakannya secara bergantian hingga membuat Sena melenguh. Tanpa melepaskan penutup intinya, Sena langsung menyatukan diri diatas pangkuan suaminya itu.
Ia menggeliat, mencari kenikmatannnya sendiri.
Hingga saat intinya bergetar, Sena langsung memeluk tubuh suaminya erat. Ambruk dengan tubuhnya yang terkulai kemas.
Tanpa melepaskan penyatuan, Hanan bangkit dan menggendong Sena seperti bayi Koala. Lalu membawa istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Menuntaskan permainan mereka di dalam sana.