
Melihat sang ibu mertua yang nampak begitu lelah. Sena, akhirnya mengurungkan niatnya untuk bicara tentang sang kakak ipar, Hanaf.
Sena memilih untuk keluar dan meminta ibu mertuanya beristirahat.
Naik ke lantai 2, Sena langsung menuju kamar sang anak Noah. Mengetuk pintu itu lebih dulu, menunggu Felli untuk membukanya.
Ya, mulai kini, Felli memang selalu menutup pintu kamar itu.
Dan tak lama kemudian, pintu terbuka. Sena masuk, melihat anaknya sedang bermain di atas ranjang.
"Bagaimana?" tanya Felli langsung.
Dan tanpa menutup-nutupi, Sena langsung menceritakan semuanya pada sang sepupu.
Mereka sama-sama duduk diatas ranjang dengan memperhatikan Noah yang sedang bermain dengan jari-jarinya sendiri.
"Kalau seperti itu, kasihan juga ya pak Hanaf. Aku tidak menyangka jika kehidupan mereka serumit ini. Padahal setahuku, hidup orang kaya itu pasti enak," balas Felli setelah Sena selesai bercerita.
"Aku juga tidak menyangka Fel. Sekarang bagaimana dengan mama dan mbak Nadia? huh, hanya memikirkannya saja, aku tidak sanggup." Sena, menarik dan menghembuskan napasnya pelan.
Disatu sisi ia merasa iba pada pak Hanaf. Tapi disatu sisi yang lain ia juga mengerto bagaimana sakit hatinya mbak Nadia dan mama Mariam.
"Kamu jangan terlalu stres, bukannya kamu dan pak Hanan sedang program hamil?"
Sena tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dengan wajahnya yang masih nampak murung, bingung.
Cukup lama ia berada disana, hingga akhirnya Noah terlelap dan ia baru memutuskan untuk keluar.
Masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mulai merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Dengan malas-malasan Sena pun kembali bangkit dan menghampiri tasnya yang berada diatas nakas.
mengambil ponsel itu dan melihat ada pemberitahuan apa.
Ternyata, ada satu pesan masuk dari sang suami.
Suamiku:
Sensenku sayang, maafkan aku ya, malam ini aku akan pulang larut. Aku harus segera menemukan penanam modal baru. Malam ini ada pertemuan di hotel, dan aku akan menghadiri itu.
Tak menunggu sampai lama, sena langsung membalas pesan dari sang suami.
Sena:
Iya Mas, aku akan menunggumu. semangat ya.
Lama menunggu, ternyata Hanan tidak lagi membalas pesan itu.
Dan hingga tengah malam, Sena masih terjaga.
Ia bahkan duduk di ruag keluarha dan menunggu suaminya pulang. Mariam sudah meminta menantunya itu untuk tidur lebih dulu, namun Sena menolak.
Ia merasa lebih tenang jika menggu seperti ini, daripada tidur.
dan tepat jam 1 dini hari, barulah Hanan sampai di rumah itu.
Sena bahkan langsung bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri sang suami.
Memeluknya sekilas, lalu membawa suaminya untuk duduk disaana.
"Akan aku ambilkan minum," ucap Sena dan Hanan menganggukkan kepala.
Ia, memang merasa haus.
Membawa segelas air putih hangat, Sena kembali menghampiri suaminya. Dan menyerahkan gelas itu pada Hanan. Diminum, hingga tandas.
"Mas ingin langsung naik atau istirahat disini dulu?" tanya Sena, penuh perhatian. Ia bahkan memijat dengan lembut lengan suaminya itu.
"Duduk disini sebentar ya?" pinta Hanan dan Sena mengangguk.
"Mas, ambil saja black card ku, aku tidak membutuhkan itu lagi," ucap Sena, setelah beberapa detik hanya ada diam diantara mereka.
Mendengar itu, Hanan malah tersenyum smirk.
Hanan tahu, istrinya ini pasti mengira jika ia sudah bangkrut.
"Aku sudah memberikannya padamu, mana mungkin ku ambil lagi," jawab Hanan, serius.
Karena black card permintaan istrinya itulah, kini ia bersusah payah mempertahankan perusahaan agar tetap berjalan seperti biasanya.
"Tapi sekarang, Mas lebih butuh itu daripada aku," jawab Sena sungguh-sungguh.
Hanan tak langsung menjawab, ia lebih dulu tersenyum dan mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang.
"Semuanya baik-baik saja Sen, temanku Adam bersedia membantuku. Dan karena Adam mengambil peran, banyak pula pengusaha lain yang ikut membantu," jelas Hanan apa adanya.
Berkat sahabatnya Adam Malik, kini perusahaannya berangsur kembali normal. Bahkan harga saham di pasaranpun mulai beranjak normal.
"Benarkah, kita tidak jadi bangkrut?" tanya Sena dan Hanan menganggukkan kepalanya.
"Iya.."