MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 49 - Rindu Sugar Babyku



Selesai berpamitan dengan kedua orang tuanya,


akhirnya Felli dan Bagas pergi dari  rumah itu. Mereka berjalan beriringan menuju lapangan desa, dimana helikopter berada.


“Maaf ya Pak, bapak jadi repot gara-gara saya,” ucap felli yang merasa tidak enak hati. Sebenarnya bisa saja ia pergi ke Jakarta seorang


diri, tapi Hanan malah memerintahkan Bagas untuk menjemputnya.


“Apa aku setua itu, sampai-sampai kamu selalu


memanggilku Pak?” tanya Bagas seraya menoleh sekilas ke arah Felli, gadis yang nampak lebih cantik saat rambut panjangnya diikat tinggi seperti ekor kuda, dan ada beberapa anak rambut yang jatuh mengenai leher jenjangnya.


Felli terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Hanya mengggit bibir bawahnya, bingung.


“Kamu saja panggil pak Hanan Om, padahal aku lebih muda dari dia,” jelas Bagas lagi, yang seolah tidak terima.


Sementara Felli makin dibuatnya kebingungan, “Jadi saya harus panggil Pak Bagas apa? Apa om juga?” tanyanya takut-takut.


Dan Bagas menghembuskan napasnya pelan. Panggil Mas! Batinnya menuntut.


Tapi Bagas tak menjawab apapun, hanya ingin Felli peka, tidak ada lagi pembicaaan diantara keduanya sampai mereka tiba di helikopter itu.


Bagas membantu Felli untuk Naik, bahkan memasangkan sabuk pengaman tanpa segan, seolah Felli adalah gadis kecil yang butuh


perlindungnnya.


Diperlakukan seperti itu, tentu Felli berdear, namun ia berusaha sekuat tenaga agar tak besar kepala. Felli yakin, Bagas hanya tak ingin terjadi sesuatu yang buruk degannya, Felli Yakin, Bagas menjaganya hanya karena perintah Sena, yang kini menjadi istri Tuannya.


Lagi, hingga sampai di Jakarta mereka masih betah saling terdiam. Helikoper itu berhenti di atap persahaan ExstraFood. Dari sana ke rumah Sena, mereka menggunakan mobil Bagas.


“Saya bia pergi sendiri Pak,” ucap Felli saat mereka sudah sampai di basement kantor.


Bagas terdiam, menatap tajam pada gadis dihadpannya ini. Felli banyak sekali membuatnya kesal, pertama selalu saja diam, padahal Bagas begitu tahu jika Felli adalah gadis yang cereswet, kedua Felli tetap memanggilnya Pak, padahal sudah jelas-jelas dia protes akan hal itu, dan yang ketiga, Felli menolak saat hendak diantar olehnya.


“Masuk!” titah Bagas singkat, ia bahkan membuka pintu untuk Felli dan mendorong gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


20 menit perjalanan yang hening itu akhirnya


terhenti, mereka sudah sampi di  rumah


tempat tinggal Sena yang baru, rumah Mariam.


“Terima kasih Pak,” ucap Felli, namun saat ia hendak membuka pintu itu, ternyata Bagas masih menguncinya.


“Pak buka pintunya,” pinta Felli degan wajahnya yang nampak polos, menatap Bagas dengan kedua matanya yang bulat, seperti anak kucing.


“Kalau ada yang kamu butuhkan beri tahu aku, mamak dan bapak mu sudah menitipkanmu padaku,” jelas Bagas seraya membalas tatapan


Felli itu.


Mendengar itu, Felli terkekeh.


“Mamak sama bapak cuma basa basi saja Pak, nggak usah diambil hati,” jelas Felli yang merasa lucu, kenapa Bagas menganggap serius ucapan kedua orang tuanya itu.


Tapi seketika kekehan Felli terhenti saat Bagas


malah menatapnya dengan tatapan tajam.


“Iya Pak,” jawab Felli kemudian, seraya menunduk


takut.


Lalu terdengar bunyi Klik, tanda kunci pintu mobil


itu terbuka. Namun  saat Felli hendak turun,


lagi-lagi ia gagal, seolah tubuhnya ada yang menahan.


“Lepas dulu seatbelt mu,” ucap Bagas dengan mengulum senyum.


Felli malu, ia menunduk, menyembunyikan wajah yang sudah semerah kepiting rebus. Lalu berusaha membuka seatbelt itu dengan susah


payah. Hingga Bagas bergerak mendekat dan membukakan seatbelt untuknya.


Deg!


Seolah waktu terhenti, keduanya saling tatap dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan Bagas bisa melihat dengan jelas, lentiknya bulu


mata Felli.  Turun ke bawah lalu memperhatikn


hidungnya yang macung.


Ia mendekat dan mengikis jarak, menjangaku bibir ranum yang mengeluarkan napas hangat itu. Kedua mata Felli membola ketika bibir tebal Bagas menjamah bibirnya dengan begitu lembut.


Namun sepert terhipnotis, Felli malah membuka mulutnya, memberi akses Bagas untuk masuk lebih dalam.


Hingga lambat  laun tak hanya Bagas, namun Felli pun ikut membalas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di dalam rumah sana, Sena sudah menunggu dengan tidak sabaran. Terakhir Felli memberinya kabar, ia sudh dalam perjalanan menuju kesini, harusnya 10 menit yang lalu Felli sudah tiba, tapi hingga kini sepupunya itu tak menampakkan batang hidung.


mendatangi suaminya itu yang sedang duduk di meja kerja. Meja kerja yang berada di dalam kamar mereka.


“Mungkin macet sayang, tunggu sebentar lagi, pasti mereka sampai dengan selamat,” jawab Hanan seraya menatap wajah cemas sang istri.


“Sini, biar aku bantu gigit bibirnya,” ucap Hanan lagi saat melhat sang istri terus beruang kali menggigit bibir bawahnya, cemas.


Mendengar itu sena langsung cemberut, seraya


mencubit lengan suaminya.


“Mas ih, ada Noah, nggak malu,” jawab Sena dengan bibir yang mengerucut.


Dan hanan malah dibuatnya gemas.


“Sayang, sayang sudah tidak minum pil KB lagi kan?” tanya Hanan seraya menarik pinggang sang istri untuk mendekt, Sena menurut, ia


masuk diantara kedua kaki suaminya yang sedang duduk di kursi, sementara sena berdiri.


“Tidak sayang, semenjak aku pulang ke Palembang, aku tidak pernah minum pil itu lagi.”


“Bagus,” jawab Hanan cepat.


“Aku ingin segera memiliki anak darimu, kamu tahu kenapa alasannya?”


Sena menggeleng.


“Agar kamu tidak bisa pergi dariku.”


Sena terkekeh, “Alasan macam apa itu?” tanyanya diantara kekehan.


Hanan tak menjawab, hanya mengedikkan bahunya.


Dan saat kekehan Sena terhenti, ia mentap lekat kedua mata sang suami. Lalu bergerak lebih dulu mencium bibir Hanan, tak tinggal diam, hanan pun membalas lumaatannya.


“Kita sudah menikah sayang, bahkan sebelum kita


menikah aku sudah menyerahkan semuanya padamu. Apa itu belum cukup membuktikan


cintaku?” tanya Sena serius.


Hanan menggeleng.


“Lalu?” tanya Sena tak terima.


Bukannya langsung menjawab, hanan malah menarik tengkuk sang itri dan membisikkan sesuatu ditelinganya. Membisikn kata-kata yang


terdengar begitu vulgard. Bahkan Sena sampai bergidik ngeri.


Tiap malam menarilah diatas tubuhku.


“Mesum!” jawab Sena ketus dengan wajahnya yang garang.


Hanan terkekeh, “Saat masih menjadi sugar baby kamu sangat penurut, lalu saat jadi kekasihku kamu mulai membantah, dan sekarang saat


jadi istri, kamu selalu memarahiku,’ keluh Hanan mengutarakan isi hati.


“Aku rindu sugar babyku,”rengek Hanan lagi.


Bukannya melunak, Sena malah makin menatapnya tajam.


“Rindu rindu! Inget anak, apalagi Noah sekarang tidur bersama kita,” ketus Sena tak habis-habis.


“Tapi kan nanti malam Noah tidur sama Felli.”


“OH, jadi cari babysister biar aku bisa jadi sugar


baby lagi?”


Hanan mengangguk cepat.


“Em, baiklah, tapi sekarang aku minta bayaran yang lebih mahal,” tawar Sena dan Hanan mengulum senyumnya, senang sekali jika Sena sudah mulai nakal seperti ini.


“Apa?” tanya Hanan kemudian.


Dan kini giliran Sena yang berbisik dengan suaranya yang mendesaah.


Black Card.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sapa Author 👋


Jangan lupa dukungannya ya, Insya Allah Hanan dan Sena akan up setiap hari jam 5 subuh.


Jika berkenan, terus berikan dukungannya ya, like dan komen sebanyak-banyaknya, Vote dan juga Hadiah.


Karena dengan dukungan kalian, buat author jadi semangat nulis, meski hujan badai ataupun panas terik 🙈😆


Salam HS (Hanan & Sensen)🌹