MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 64 - Penyesalan



Panggilan Hanaf dan Nadia terputus, serentak pula dengan waktu jenguk yang sudah habis.


Gamang, Hanaf hanya terus terdiam. Ia bahkan tak peduli saat tubuhnya ditarik 2 penjaga penjara dan kembali menahannya didalam sana.


Ucapan sang istri terus terngiang, sementara otak dan hatinya menolak itu semua.


Yang bisa Hanaf lakukan hanya 1, terus menggeleng.


"Tidak, kamu tidak boleh meninggalkan aku Nad," gumamnya pelan.


Lalu sesaat setelah ingatannya kembali, ia sadar sudah dibalik jeruji.


"Buka! buka pintunya!" teriak Hanaf, ia bahkan menarik dan mendorong jeruji itu sekuat tenaganya.


Ia ingin keluar dari sini dan menemui sang istri.


Ingin bersujud dikaki Nadia dan mengakui kesalahannya.


"Buka!" teriak Hanaf begitu menggelegar, ia tak sadar, jika tindakannya itu mengganggu tahanan yang lain.


"Shiit! tutup mulutmu brengshek!" umpat seorang tahanan, yang berada disel yang sama dengan hanaf.


Tak sendiri, bahkan ketiga temannya pun menatap tajam ke arah Hanaf.


Bukan hanya Hanaf yang ingin segera keluar dari ruangan sempit ini. Namun mereka terus mencoba bertahan.


Tidak sampai seperti hanaf yang membuat keributan.


"Diam kalian!" bentak Hanaf, lengkap dengan tatapannya yang sengit.


Lagi-lagi, Hanaf tidak sadar, jika disini ialah yang tak memiliki kuasa.


Ke empat tahanan itu menyeringai, lalu tanpa menunggu aba-aba, mereka segera menyerang Hanaf secara bersamaan.


Memukul, meninju bahkan menendangnya sekaligus.


Hanaf jatuh, tersungkur diatas lantai dan bersimbah darah.


Sudah tak berdaya seperti itu, penjaga baru datang untuk menolongnya.


Hanaf, dibawa ke ruang rawat yang ada disana. Tapi tatapannya kosong, tak merasa sakit saat semuanya lukanya diobati.


"Pak, bolehkah saya menemui keluargaku, sekali saja, saya mohon, sekali saja. Jika perlu, ikatlah kaki dan tanganku saat menemui mereka, tapi saya mohon, izinkan saya menemui mereka," pinta Hanaf, lirih.


"Maaf Pak, kami tidak bisa," jawab salah satu polisi disana, hingga membuat seorang Hanaf, menjatuhkan air matanya.


"Ma, Nadia," lirihnya pelan.


Penuh dengan penyesalan.


Kembali teringat, bagaimana perlakuannya selama ini pada kedua wanita itu.


Hanaf dengan terang-terangan menunjukkan sikap tak sukanya pada sang ibu saat dulu Mariam tinggal di rumahnya.


Hingga membuat Mariam akhirnya memutuskan untuk tunggal seorang diri dirumahnya kini.


Mengingat itu, Hanaf sungguh menyesal. Padahal selama ini, Mariam selalu ada untuknya.


Perasaan berasalah itu makin kental terasa ketika ia mengingat sang istri. Betapa teganya, ia menghianati Nadia.


Bercumbu dengan banyak wanita dibelakang istrinya itu.


"Maafkan aku Nad, maafkan aku Bu," lirih Hanaf diantara isak tangisnya.


Air mata itu jatuh dengan begitu derasnya, bahkan kembali membasahi lukanya yang belum terbalut rapi.


Tangis Hanaf mereda saat siang datang.


Ia kembali dimasukkan ke sel yang sama, bersama ke empat pria yang tadi menghajarnya tanpa ampun.


Kali ini Hanaf tak bersuara, hanya duduk bersimpuh disudut ruangan kecil itu.


Hingga panggilan jika ada yang datang menjenguknya terdengar.


"Pak Hanaf, ada seseorang yang menunggu anda," jelas penjaga itu, lelu membuka sel penjara.


Seketika kedua netra Hanaf membola, seolah menemukan harapan baru. Harapan jika yang datang itu adalah ibu atau istrinya.


Dengan susah payah, Hanaf bangkit dan keluar dari sana. Mengikuti langkah sang penjaga untuk menuju ruang kunjungan.


Sampai disana, Hanaf tertegun, kala melihat siapa yang datang.


Hanan, sang adik.