MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR 43 - Niat Baik Jangan Ditunda



Pagi hari, Sena terbangun dengan wajah yang berseri. Seolah pertemuannya dengan sang kekasih semalam, adalah vitamin baginya.


"Sen, panggilah ibu Mariam dan anaknya kesini, minta mereka untuk sarapan disini saja," titah Sarni saat sang anak baru saja keluar dari dalam kamar.


"Aku bantu Mamak masak dulu saja ya?" tawar Sena dan dengan cepat Sarni menggeleng.


Sarni sudah mulai masak sejak subuh tadi, kini semua hidangan sudah rapi terhidang diatas meja.


Mendengar penjelasan sang ibu, akhirnya Sena menurut. Ia mengajak Felli untuk memanggil Mariam.


Rupanya Mariam, Hanan dan Bagas pun sudah bersiap untuk ke rumah Sena. Hanan ingin menghadap pada kedua orang tua Sena secara langsung.


Baru kali ini Hanan merasa begitu gugup dan takut.


Hilang sudah keberaniannya sebagai seorang wakil presdir, kini, ia hanya seperti pemuda biasa yang hendak melamar kekasihnya.


Sampai di rumah Sena, Sena mengajak Felli untuk kebelakang lebih dulu. Sementara yang lainnya masih berada di ruang tamu.


"Perkenalkan Om, Tante, nama saya Hanan," ucap Hanan memperkenalkan diri.


Kedua telapak tangannya sudah dipenuhi keringat dingin.


"Sena, sudah banyak bercerita tentangmu," balas Rudi. "Jangan panggil om dan tante, panggil saja mamak dan bapak, seperti Sena," timpal Rudi lagi dengan wajahnya yang ramah.


Sang putri mendapatkan lamaran seperti ini, tentu saja membuatnya senang. Sena, berhak bahagia dengan pria pilihannya, siapapun itu, lajang ataupun duda.


Karena kebahagaiaan Sena, hanya Senalah yang bisa merasakannya.


Cukup lama merea berbincang disana, hingga kecanggungan Hanan menguap begitu saja. Kini menjadi dekat dan tak ada penghalang.


"Sebenarnya, Sena masih mempunyai kakak laki-laki, Saka namanya. Tapi dia sudah lama pergi meninggalkan rumah," jelas Rudi apa adanya, dengan wajahnya yang sendu. Membayangkan anak pertamanya itu yang entah nasibnya bagaimana.


"Jika nanti saat Sena dan Hanan menikah lalu anakku itu kembali, maafkan saya jika dia membuat keributan," jelas Rudi lagi.


Ia cukup cemas, jika anaknya itu tiba-tiba pulang dan menghancurkan pernikahan sang adik.


"Pak Rudi jangan bicara seperti itu, bagaimanapun Saka adalah anak Pak Rudi, kakak Sena dan calon ipar Hanan. Jika nanti dia kembali, itu adalah hal yang bagus." Mariam yang menanggapi, pun Hanan mengangguk setuju.


Mariam cukup tahu, jika mungkin Saka bukanlah anak yang baik.


Kalau sampai berani menghancurkan pernikahanku, akan ku buat Riska yang menyelesaikannya. Batin Hanan dengan menyeringai, lalu melirik Sena yang juga meliriknya.


Ah jangan Riska, Bagas saja yang mengurusnya, bagaimanapun Saka adalah kakak dari gadis yang kuncintai. Batin Hanan lagi dengan senyumnya yang entah.


Selesai berbincang, akhirnya mereka semua sarapan bersama.


Hanan dan Sena hanya mampu saling tatap, mereka sangat dekat namun terasa begitu jauh. Mereka tak diizinian untuk berdekat-dekatan.


Bahkan duduk bersebelahanpun dilarang.


Hanan hanya terus bermonolog dibatinnya, mengumpat kesal. Benar-benar tak ada kesempatan untuk berdua bersama sang gadis.


Bisa dipastikan, jika kepulangannya nanti tidak ada ciuman selamat jalan.


"Hati-hati ya?" ucap Sarni seraya memeluk Mariam erat, mereka semua mengantar kepulangan Mariam, Hanan dan Bagas sampai di lapangan desa. Felli tak ikut kembali ke Jakarta, ia akan kembali bekerja di ExstraFood cabang Palembang.


Mariam sudah menyerahkan uang seserahan, 2 minggu lagi ia akan kesini mempersunting Sena untuk sang anak, Hanan.


Aku mencintaimu Sen, peluk cium. Batin Hanan pilu.


Melihat wajah murung sang kekasih, Sena malah mengulum senyumnya. Ia tahu betul apa keinginan Hanan, ciuman panas sebelum berpisah.


Tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak bisa melakukannya disini.


Helikopter itu mulai menyala, seketika angin berhembus dengan kencang. Dan perlahan terbang, membawa wajah kesal Hanan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Jakarta.


Hanaf sudah menunggu kepulangan sang ibu di rumah Mariam. Saat datang kesini, ia tak melihat Mariam dimanapun.


Dan saat bertanya pada pembantu disana, ia mengatakan jika Nyonya Mariam pergi ke Palembang. Melamar seorang gadis bernama Sena untuk Hanan.


Mendengar itu, Hanaf mengepalkan tangannya kuat. Selain benci melihat kebahagiaan Hanan, ia juga merasa tak dianggap sebagai keluarga.


Harusnya Hanan memberi tahunya tentang keputusan itu. Mendengarkan pendapatnya tentang setuju atau tidak.


Nyaris jam 12 siang, akhirnya Mariam sampai di rumah. Ia datang seorang diri, karena Hanan dan Bagas pulang ke rumahnya masing-masing.


"Han?" sapa Mariam ramah, ia bahkan tersenyum lebar saat melihat Hanaf duduk di kursi ruang tengah.


Bukannya menyambut, Hanaf malah menunjukkan wajah kesalnya.


"Mama darimana?" tanya Hanaf langsung saat Mariam pun sudah duduk disana.


"Palembang Han, melamar kekasih adikmu."


"Hanan itu baru bercerai Ma, kenapa Mama izinkan dia untuk menikah lagi? Mama tidak pikirkan bagaimana perasaan Lora?" tanya Hanaf dengan nada tak suka.


Namun mendengar itu, Mariam malah menatap tajam pada sang anak.


"Untuk apa mengasihani Lora? dia sudah menjebak Hanan, lalu menelantarkan Noah, kenapa kamu peduli sekali dengan dia? harusnya kamu pikirkan bagaimana perasaan Hanan," jawab Mariam dengan suaranya yang lirih, tak habis pikir dengan apa yang diucapkan oleh Hanaf.


Bukannya memikirkan bagaimana perasaan sang adik, Hanaf malah berbicara tentang Lora.


Bahkan seluruh orang Jakarta tahu, bagaimana buruknya sikap Lora selama ini. Itulah kenapa, Hanan sampai menceriakan dirinya, tak peduli meski Noah masih berusia 2 bulan.


"Bu-bukan seperti itu maksudku Ma, aku hanya merasa ini terlalu terburu-buru," jelas Hanaf yang mulai gugup, nyaris saja ia salah langkah.


"Niat baik tidak usah ditunda, lagipula Sena sudah mengetahui latarbelakang Hanan dan dia menerima itu. Jadi tidak usah dipersulit," jelas Mariam apa adanya.


Dan Hanaf tak bisa berkata apa-apa lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Besok Sena nikah 😍🤣