MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 66 - Cara Yang Sena Tahu



Hanan, menarik dan menghembuskan napasnya pelan. Ketika baru saja ia masuk ke dalam mobilnya setelah beberapa saat lalu ia menemui sang kakak.


Awalnya, Hanan memang ingin menertawakan kakaknya itu, namun ketika melihat Hanaf yang nampak seperti orang berputus asa. Seketika niatnya itu menghilang entah kemana.


Perasaan marahnya berubah menjadi iba dalam waktu sekejab mata.


“Bagaimana Mas? Apa hatimu lega setelah bertemu dengan pak Hanaf?” tanya Sena.


Sena, memang ikut menemani suaminya itu untuk menjenguk sang kakak ipar. Namun saat tadi hendak turun, Hanan melarangnya. Ia meminta waktu untuk bicara berdua saja dengan sang kakak.


Dan Sena pun menurutinya.


Semenjak Hanaf ditahan, suasana di rumah jadi lebih suram. Ibu Mariam terus menyalahkan dirinya sendiri atas semua perbuatan Hanaf itu.


Bahkan Mariam sungguh malu pada Nadia dan kedua cucunya. Juga merasa bersalah pada mendiang sang suami. Merasa gagal menjadi seorang ibu.


Tak sampai disana, saham perusahaan ExstraFood pun mulai turun. Kepercayaan pasar pada pemimpin  perusahaan itu menurun seketika. Dan Tak mudah bagi Hanan untuk mendapatkan kepercayaan itu lagi.


Hanan, tak langsung menjawab pertanyaan sang istri, ia lebih dulu menoleh dan menatap istrinya itu. Seketika, kedua netra Sena membola, saat melihat sang suami yang nampak babak belur.


“Ya Allah Mas, wajahmu,” ucap Sena, lirih. Ia bahkan langsung meneteskan air matanya tanpa aba-aba.


Ada darah menggumpal di sudut bibir Hanan, juga lebam di beberapa bagian wajah.


“Apa pak Hanaf yang melakukan ini padamu? Tega sekali, jahat,” lirih Sena. Dengan cepat ia mengambil kotak p3k didalam laci dashboard mobil itu, lalu mulai membersihkan luka suaminya.


“Jangan menangis Sen, aku baik-baik saja. Bahkan luka mas Hanaf lebih parah dariku,” jawab Hanan, ia tersenyum. Namun sungguh Sena tak menyukai senyum itu.


Senyum yang dengan jelas menggambarkan kesedihannya, senyum getir.


“Apa kalian bertengkar? Memangnya tidak ada penjaga?” tanya Sena lagi, ia menghampus air matanya sendiri, lalu fokus mengobati.


Melihat sang kakak yang babak belur, Hanan sungguh tak tega. Ia bahkan sampai ingin tahu bagaimana rasa sakit yang dialami kakaknya itu.


Karena itulah, Hanan memprovokasi sang kakak dengan membawa-bawa nama Nadia. Berharap Hanaf memukulnya dengan membabi buta.


Dan mendapatkan luka dari sang kakak itu, Hanan tersenyum. Perih memang, namun ia senang karena kakaknya tidak sakit sendirian.


“Kami bertengkar dan aku yang menang, hebatkan?” bangga Hanan, bukannya senang. Sena malah merasa kesal.


Ia bahkan menghentikan tangannya yang sedang sibuk menggobati. Menyempatkan diri untuk menatap tajam pada suaminya itu.


“Jangan buat tubuh suamiku terluka, aku tidak suka melihatnya,” balas Sena, ketus.


Dan Hanan malah terkekeh, ucapan Sena itu seolah mengisyaratkan jika dia yang duduk disini bukanlah Hanan, suaminya Sena.


“Sayang, kamu tahu cara paling ampuh untuk menyembuhkan luka?” tanya Hanan, seraya menatap dalam pada istrinya itu.


Yang ditatap hanya terdiam, malas berpikir dan sedang kesal.


“Oles menggunakan air liur,” timpal Hanan lagi. Lengkap dengan suaranya yang dibuat menggoda, jika sudah seperti ini, Sena langsung paham apa maksud suaminya itu.


Tak ingin banyak berdebat, Sena lalu menarik kerah baju sang suami dan mendekatkan wajahnya di luka itu.


Perlahan, Sena mulai menjilati sudut bibir Hanan yang terluka. Bersikap nakal, seperti yang suaminya suka.


 Sena tahu, suaminya ini sedang dalam keadaan tak baik, mata sendu Hanan mengisyaratkan jika ia memiliki banyak beban.


Tak tahu harus melakukan apa untuk meringankan beban itu, Sena memilih untuk menyerahkan tubuhnya.


Hanya itulah, satu-satunya cara yang Sena tahu.