
"Pak Bagas?" ulang Sena sekali lagi, takut-takut jika pendengarannya salah menangkap.
Dan menyadari ia sudah keceplosan, Felli hanya mampu membuang napasnya panjang.
"Kenapa dia membuat tanda itu didadamu? apa kalian sugar-sugaran?" tanya Sena lagi, menyedilik, mengintrogasi. Sena bahkan langsung duduk disisi ranjang dan menatap lekat kedua netra sang sepupu.
Felli, mati kutu.
"Jawab Fel!" titah Sena, menuntut.
Dan akhirnya, Felli pun buka suara. Mengatakan jika ia dan Bagas kini tengah menjalin kasih, sepakat untuk memiliki hubungan lebih.
Felli bahkan mengatakan jika iapun sebenarnya sudah lama tertarik pada asisten pribadi majikannya itu.
Medengar cerita panjang kali lebar Felli, Sena menghembuskan napasnya lega. Bersyukur bukan suaminya yang membuat tanda merah di dada sang sepupu.
"Tapi aku takut Sen, bagaimaba jika dia tahu kalau aku sudah tidak perawaan," ucap Felli, lirih, mulai sendu ketika mengingat satu hal itu.
Rasanya jika mengingat malam kelam itupun ia jadi merasa hina sendiri. Kala itu, Feli melayani seorang pria yang menggunakan topeng.
Pria itu hanya diam dan melenguh, menikmati pelayanan yang Felli berikan.
Dan mendengar kesedihan sang sepupu, Sena pun ikut merasa sedih pula. Ia sangat beruntung, karena orang yang mengambil kesuciannya adakah sang suami sendiri.
Sementara Felli?
"Maafkan aku Fell, karena aku kamu jadi terjebak juga dengan itu," ucap Sena, merasa bersalah.
Felli memang ingin menemani Sena rusak, meskipun ia mendapatkan uang bayaran pula.
"Jangan meminta maaf, aku juga mau melakukan itu, bukan hanya karena kamu."
Sejenak, keduanya saling memeluk erat. Sena, mencoba memberi kekuatan, agar sang sepupu lebih sabar.
"Jadi bagaimana?" tanya Felli lagi, bingung.
Bertanya setelah pelukan keduanya lepas.
"Jika pak Bagas ingin menikahimu, katakan dulu yang sebenarnya, agar dia tidak kecewa. tapi jika kalian hanya pacaran, tidak perlu mengatakan itu. Itu hanya akan membuatmu terlihat rendah dimatanya," jawab Sena, meski dengan rasa tak enak hati. Sungguh, ia tak ingin membuat Felli merasa terpuruk.
Dan melihat itu, Sena menelan salivanya dengan susah payah. Sena sadar, dia bukanlah orang suci. Rasanya pun tak pantas jika menghakimi keduanya.
Sena hanya diam, bingung harus menjawab apa.
"Kalau kita mau melakukan itu diluar pernikahan, kita harus siap menanggung resikonya seorang diri," ucap Sena, setelah cukup lama diam.
Dan Felli pun hanya bergeming, mendengarkan.
Siang itu, keduanya terus berbincang banyak hal. Sena bahkan mengatakan, jika ia sempat kecanduan sentuhan Hanan.
Awalnya memang Hanan yang meminta, namun lambat laun ia pun meminta lebih dulu.
"Sekali kamu melakukannya, kamu tidak akan bisa berhenti, seperti candu."
Ucapan Sena itu terus terngiang ditelinga Felli. Hingga saat sore tiba dan ia masih terus memikirkannya.
Noah baru saja diambil oleh Mariam. Memberi kesempatan Felli untuk mandi dan beristirahat sejenak.
Namun saat hendak ke kamar mandi, pintu kamar itu kembali di ketuk.
Felli, lalu dengan sigap kembali membukanya, takut jika ada yang dibutuhkan lagi oleh Mariam.
Namun alangkah terkejutnya Felli, saat ia tak melihat sang Nyonya disana, melainkan sang kekasih. Bagas.
Bagas langsung masuk ke kamar itu dan menguncinya rapat.
"Aku rindu," bisik Bagas lalu menyerang tanpa ampun kekasihnya yang masih membatu itu.
Felli melenguh kala Bagas meremat tubuhnya kuat menggunakan dua tangan sekaligus.
"Mas, jangan seperti ini," ucap Felli, ia menahan dada Bagas yang sudah nyaris menindihnya diatas ranjang.
"Kenapa?" tanya Bagas.
Dan Felli bingung harus menjawab apalagi.
Melihat sang kekasih tak memberikan penjelasan, Bagas pun kembali mengikis jarak. Menumpahkan kerinduannya yang membuncah.