MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR 36 - Aku Akan Balas!



Berdiri dengan gugup, Felli menundukkan wajahnya. Menatap pada garis-garis lantai yang tersusun rapi. Pikirannya melayang kemana-mana, memikirkan tentang nama Hanan dan semua kemungkinan.


Seperti menyusun puzle satu per satu.


"Felli."


"Iya Pak!" jawab Felli tersentak, saat mendengar suara bos besarnya memanggil. Dengan kegugupan yang maksimal, ia mulai mengangkat wajah.


Memberanikan diri melihat kearah Hanan, pria dewasa yang nampak sangat tampan dengan tubuh tinggi tegap, juga tatapannya yang mengintimidasi namun makin terlihat berkharisma.


"Duduklah," titah Hanan, dan dengan ragu Felli mula melangkahkan kakinya yang bergetar. Duduk dihadapan Hanan dengan meja sebagai pembatas.


Ia meremat kedua tangannya diatas pangkuan.


Sementara kepala HRD tadi sudah keluar lebih dulu, setelah mengantar Felli sampai didalam ruangan ini.


"Jangan tegang begitu, santai saja," ucap Hanan, yang ingin mencairkan suasana. Bukannya tenang, Felli malah semakin gusar.


"Aku bukan ingin membicarakan tentang pekerjaan, tapi Sena," jelas Hanan.


Mendengar itu, kedua mata Felli membola. Setelahnya ia bersorak didalam hati, seperti mendapatkan durian runtuh, sang sepupu kesayangannya mendapatkan seorang Sugar yang kaya raya. Bahan pemilik perusahaan ternama.


"Apa yang bisa saya bantu Pak?" tanya Felli langsung dengan kedua bola mata yang mulai berbinar.


Tak menunggu lama, Hanan langsung mengutarakan maksudnya. Ia menceritakan duduk masalah yang dihadapinya dan Sena. Bahkan menceritakan tentang Lora dan anaknya yang baru lahir.


Felli terperangah, kehidupan orang-orang kaya memang selalu lebih rumit daripada kehidupan orang biasa.


Hanan tak meminta bantuan, tapi lebih terdengar seperti perintah. Hingga Felli tak kuasa untuk menolak.


"Jadi berkemaslah, sekarang juga ikut denganku kembali ke Jakarta," ucap Hanan setelah mengakhiri cerita panjangnya.


Menelan saliva dengan susah payah, Felli mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Sena.


Sedari tadi pagi, gadis cantik ini mulai berbenah rumah. Selesai memasak, ia langsung mengambil sapu, tak lama setelahnya mengepel semua sudut rumah.


Ia menyesal, sangat menyesal tak pulang dari dulu. Tak pernah memberi kabar selama ia tinggal di Jakarta kemarin.


Melihat keadaan rumah yang nampak lebih kotor, Sena yakin ibunya pasti lelah dan kualahan. Mengurus sang ayah dan juga mencari rezeki tambahan.


Membayangkan itu, bahkan Sena sampai menitikan air matanya diam-diam.


"Sen, mandi dulu sayang, setelah itu sarapan," ucap Sarni, ia menghampiri Sena yang sedang membakar sampah.


Sena menoleh dan mencoba tersenyum riang.


"Iya Mak, sebentar lagi," jawabnya, seolah tak terjadi apa-apa. Seolah hatinya tak sedang bergemuruh seperti ini.


Sarni mengangguk, lalu kembali masuk ke dalam rumah. Kembali meninggalkan Sena di halaman belakang seorang diri.


Yakin tak ada lagi sang ibu disana, Sena merogoh salah satu saku di celananya. Mengambil 1 tablet obat yang selama ini ia konsumsi, pil KB.


Dengan perasaan bersalah yang membuncah, Sena melempar obat itu ke dalam bara api. Lalu menutupnya dengan sampah-sampah yang lain.


Hingga Api kecilnya tadi berubah semakin membara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lora sudah diperbolehkan pulang hari ini. Merasa kesal karena Hanan tak mendampinginya, akhirnya ia menelpon Mariam untuk datang menjenguk.


Mariam yang sudah menunggu-nunggu kelahiran cucunya pun langsung datang tanpa mengulur-ngulur waktu.


Bahkan Mariam pun ikut mengantar Lora pulang sampai ke rumahnya.


"Dimana Hanan? apa sedari kemarin ia tidak melihat keadaanmu?" tanya Mariam, saat mereka baru saja masuk ke rumah Lora.


"Entahlah Ma, bahkan saat aku melahirkan pun mas Hanan tidak mendampingiku. Ku rasa dia juga membenci anak ini," jawab Lora dengan sengit, sumpah demi apapun ketika mengingat itu ia sangat kesal.


Mendengar itu, Mariam hanya mampu menghela napasnya dengan kasar, tak mampu menanggapi apa-apa.


"Mama pulang saja, lagipula ada babysister yang akan membantuku," jelas Lora lagi sungguh-sungguh. Percuma saja ada Mariam disini, ia juga tak bisa membawa suaminya kembali. Malah membuat ia tak bisa bebas.


Saat ini juga Lora sangat yakin, jika Hanan sedang bersama gadis sundal itu, Sena.


"Baiklah, Mama akan pulang. Kalau ada apa-apa, kamu kabari Mama ya?"


"Hem, iya Ma," jawab Lora dengan malas-malasan.


Setelah Mariam pergi, Lora memberikan sang anak yang berada di gendongannya pada sang babysister, Tia.


"Urus anak ini, jangan buat dia menangis. Tangisan bayi hanya akan membuatku stres," ucap Lora setelah bayinya yang ia beri nama Noah sudah berada di gendongan Tia. Bayi laki-laki yang terlihat tampan itu sedang tertidur pulas.


"Baik Nyonya," jawab Tia patuh. Lalu segera naik ke kamar Noah yang sudah sejak lama dipersiapkan. Kamar yang terletak diantara kamar Lora dan Hanan di lantai 2.


Sementara Lora, memutuskan untuk duduk di sofa ruang tengah lebih dulu. Rasanya belum sanggup untuk langsung naik ke lantai 2. Saat melahirkan Noah kemarin, ia mendapakan 7 jahitan.


Merasa mengantuk, Lora mencoba memejamkan matanya. Namun suara-suara cekikikan seorang wanita mengganggu pendengarannya.


Dengan kesal ia membuka mata, bangkit dan menoleh kearah belakang.


Dilihatnya Hanan datang bersama dengan seorang wanita. Wanita baru lagi dan bukan yang seperti Airin.


Lora terperangah, tak percaya atas kelakuan suaminya itu.


Dengan senyum lebar, Hanan menggandeng Felli hingga berdiri tepat dihadapan sang istri.


"Siapa lagi dia Mas?" tanya Lora geram, wajahnya memanas tanda amarah.


Disaat ia baru saja melahirkan, Hanan malah membawa seorang wanita pulang ke rumah mereka. Dimana hati nurani pria ini?


"Wanita baruku, cantik dan masih perawan," jawab Hanan seraya mengendus rambut Felli seolah candu.


Tangan Lora terkepal kuat, dalam hatinya ia terus mengutuk dan mengumpat. Ingin sekali ia menjambak dan menendang wanita sundal ini. Wanita yang berani-beraninya memeluk lengan Hanan dihadapannya.


"Pergi!" usir Lora dengan suara yang meninggi.


Hanan berdecih, " Kamu tidak punya hak untuk mengusir siapapun, bahkan para pelayan disini hanya aku yang bisa memecatnya. Jika kamu ingin pergi, pergilah, pergi tanpa membuat keributan."


Setelah mengatakan itu Hanan berlalu, menarik Felli untuk mengikuti langkahnya, menaiki anak tangga menuju ke lantai 2. Lora tahu betul kemana tujuan mereka, kamar Hanan.


Dan bisa ia dipastikan, apa yang akan mereka lalukan selanjutnya.


"Aa!!!" Lora berteriak, mengacak rambutnya frustasi.


"Badjingan kamu Mas! aku akan balas kamu! sialaan!" umpatnya tak habis-habis.