MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 79 - Hujan Deras



Setelah melepas kepergian Hanan dan keluarganya yang lebih dulu kembali ke Jakarta. Felli dan Bagas kembali ke rumahnya.


Keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Sedangkan uluman senyum itu terus tersemat, tanpa tahu kapan tertanggal.


Menandakan bahwa mereka merasa beruntung untuk saling memiliki, menjaga, dan mencintai satu sama lain.


Dari arah luar rumah Felli masih terlihat berantakan, sisa pesta semalam. Hingga wanita paruh baya yang kerap Felli panggil mamak itu, menyarankan pada kedua sejoli itu untuk pergi berbulan madu ke kota Palembang.


"Bu, apa Bagas tidak perlu membantu membereskan rumah terlebih dahulu?" tanya Bagas pada sang mertua. Lelaki satu ini merasa tak enakan. Karena meninggalkan rumah yang berantakan, sedangkan dia pergi bersenang-senang.


"Tidak apa-apa, Nak Bagas. Namanya pengantin baru," balas mamak Felli sambil menepuk bahu Bagas, sang menantu.


Lagi pula, banyak sanak saudara yang akan membantu, mereka tidak mungkin kekurangan tenaga.


Bagas dan Felli saling pandang, lalu kembali mengulum senyum. Sedangkan otak keduanya sudah melanglang buana, membayangkan yang tidak-tidak saat mereka berbulan madu.


Akhirnya, kedua insan itu mengangguk, menyetujui ide mamak Felli. Mereka pamit untuk berkemas, rencananya Bagas akan membawa mobil sendiri menuju kota Palembang.


Dan siang itu, Felli dan Bagas benar-benar berangkat ke kota Palembang. Keduanya pamit pada keluarga, menyalimi satu persatu tangan yang mulai menua itu satu persatu.


"Bismillah... Semoga pulang dari sana ibu cepet dapet cucu," bisik Feni pada sang anak, membuat Bagas langsung mengacungkan jempolnya dengan terkekeh.


Pokoknya soal itu beres. Batinnya.


Tepat pukul setengah satu, Bagas membawa kijang besinya keluar dari pedesaan yang memiliki jalan terjal itu. Mobilnya terus bergoyang-goyang.


"Sayang, ini jalan kayanya ngeledek kita deh," ucap Bagas setelah menerima suapan anggur dari tangan Felli.


Gadis itu mengernyit. "Ngeledek gimana maksud kamu, Mas?"


"Lah ini goyang-goyang terus, kaya kamu semalem pas naik ke atas badan aku."


"Ih, Mas Bagas apaan sih, nggak lucu." Pipi Felli merona, sumpah demi apapun, kalau diingatkan seperti itu rasanya dia sangat malu.


Dan Bagas justru terkekeh, dia merasa gemas kalau Felli menunjukkan wajah seperti itu di depannya.


Lelaki itu mengusak puncak kepala istrinya, sedangkan Felli masih setia menunduk dengan semburat merah yang sudah tak tertolong.


Dan tiba-tiba saja, rintik hujan mulai turun, saat mereka hampir saja keluar dari gapura pedesaan. Bagas kira hanya akan gerimis, tetapi prediksinya salah, rintik itu berubah hujan deras.


Membuat perjalanan kedua sejoli itu terpaksa dihentikan sejenak. Bagas menepikan mobilnya ke sisi jalan.


Karena memang cuaca telah berubah. Masuk tahun baru, hujan sudah mulai sering berdatangan.


"Sudah tanggung, Sayang. Kita nikmati saja perjalanan ini," balas Bagas santai.


Lantas, dia meminta Felli untuk duduk di pangkuannya. Awalnya ragu, tetapi seolah mata itu memiliki sihir, Felli mengangguk patuh, dan akhirnya mendudukkan dirinya di atas pangkuan Bagas, hingga dress yang ia kenakan sedikit tersingkap.


"Kamu terlihat kedinginan, Sayang." Bagas menyapu wajah mulus Felli, hingga gadis itu menggeliat geli.


"Sedikit, Mas," balasnya dengan bola mata sayu.


Bagas dengan segala buncahan rasa yang menggelora di dalam dada, melingkarkan tangan Felli ke lehernya, dan pandangan mereka bertemu, terkunci amat dalam.


"Aku akan menghangatkanmu."


Dengan gerakan cepat, Bagas menyatukan kembali bibir mereka. Memberikan sesapan buas, bak singa yang baru saja merasakan daging segar mangsanya.


Lidah tajam itu melesak, sedangkan Felli memberikan akses dengan mudahnya, kini lidah itu saling berpaut, menyesap satu sama lain, hingga menyisakan rasa kebas.


Tangan Bagas tak tinggal dia, terus berlarian kesana-kemari, dan bermuara pada inti di bawah sana. Inti yang terasa mulai basah.


Entah sebesar apa gairah lelaki itu. Hingga dengan cepat melucuti pakaian istrinya. Tak kenal kata bosan, Bagas menyesap dua gundukan itu secara bergantian, hingga membuat Felli mengerang, dan menjabak rambut Bagas.


"Mas."


Denyutan itu semakin terasa, Felli merasa tak sanggup menahan lebih lama, dia ingin dirasuki benda panjang milik suaminya.


"Sebentar lagi, Sayang."


Bagas tak henti-hentinya memberikan sensasi yang membuat hasrat gadis itu menggelegak. Tak hanya diam, akhirnya Felli pun menyerang leher Bagas.


Hingga lelaki itu berhasil membuat penyatuan. Tanpa dipinta Felli mulai memompa tubuhnya, membuat lelaki itu tersenyum senang.


Suara erangan mereka bersahut-sahutan, dengan hujan dan decitan mobil yang ikut bergoyang.


Bahkan suasana dingin di sekitar mampu terkalahkan oleh panasnya kegiatan mereka. Felli semakin bergerak cepat, saat gelombang itu nyaris datang menghampirinya.


Dia terus memeluk leher Bagas erat, dan lelaki itu ikut menggerakan pinggulnya. "Sayang, sekarang!" Pekiknya, dengan menekan tubuh Felli. Dan lahar itu sukses membuncah di dalam sana.