MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 59 - Surat Wasiat



Berada di dalam mobil yang tengah melaju.


Hanan, terpaku dengan pikirannya sendiri. Jujur saja, ia begitu terpukul atas pengakuan pengacara sang ayah.


Roy mengatakan, jika Hanaf bisa mendapatkan warisan itu jika ia sudah meninggal.


Dan sebelum itu terjadi, Hanaf meminta Roy untuk memalsukan surat wasiat ayah mereka.


Yoana yang duduk di kursi depan dengan sang supir pun merasa iba, kala melihat wajah sang Tuan yang nampak diselimuti kesediha.


Fakta baru yang mereka tahu bukanlah sesuatu hal yang baik.


Bayangkan saja, jika saudara kandung sendiri menginginkan ia meninggal.


Sebenarnya apa salahku padamu Han? tanya Hanan didalam hati.


Cukup lama pikirannya kosong, hingga akhirnya ia mengingat satu hal.


Brangkas sang ayah yang tidak bisa dibuka karena passwordnya diganti oleh Hanaf.


Mengingat itu, Hanan yakin, jika Hanaf menyimpan surat wasiatnya disana.


Saat itu juga, Hanan memerintahkan Yoana untuk mencari orang yang bisa membuka brangkas secara paksa.


Tanpa banyak bertanya, Yoana pun langsung menyanggupi.


Hanan memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya dan membuka brangkas itu. Ingin memastikan sendiri, benarkah isi wasiat sang ayah sama seperti yang diucapkan oleh Roy.


Sampai di rumah, Hanan dibuat tercengang saat melihat sang kakak ipar juga ada disana.


Nadia datang, berniat untuk menjenguk sang ibu mertua. Memastikan langsung jika saat ini Mariam baik-baik saja.


"Loh Mas, kenapa kembali?" tanya Sena heran.


Mereka semua memang sedang berkumpul si ruang tengah, Noah dan Felli juga ada disana.


Mata semua orang makin menatap bingung saat dua orang berseragam teknisi datang tak lama setelah Hanan disana.


"Ma, orang-orang ini yang akan membuka brangkas papa, bolehkan?" tanya Hanan pada sang ibu.


Dan dengan sedikit ragu, Mariam mengangguk.


Dari sorot mata Hanan, Mariam tahu jika kini anaknya itu tidak baik-baik saja. Entah apa yang membuat anak bungsunya itu kembali dingin seperti ini.


Sebelum menuju ruang kerja sang ayah, Hanan lebih dulu menghampiri istrinya. Mengelus pucuk kepala Sena sejenak, lalu segera pergi.


Hati Sena berdesir, kala melihat sang suami yang tak biasa.


"Sen, jangan berpikir yang macan-macam. Mama rasa, Hanan sedang ada masalah di kantor," ucap Mariam yang tahu kecemasan menantunya itu.


Karena iapun nerasakan kecemasan sang sama.


Dari sana, mereka semua bisa mendengar dengan jelas, pukulan besi yang sangat keras dari ruang kerja di rumah itu.


Mariam yang merasa cemas pun memutuskan untuk menyusul sang anak, lalu Nadia pun mengikuti.


Sementara Sena dan Felli, dilarang ikut oleh Mariam. Mariam mengatakan jika sebaiknya Sena dan Felli mengajak Noah untuk menjauh.


Tak ingin bayi mungil itu terganggu dengan suara bising.


Sena dan Felli pun menurut, meraka sungguh tak ingin Noah merasa ketakutan.


Di ruang kerja sang ayah.


Pukulan besi masih terus bergema.


Nadia dan Mariam bahkan sampai meringis, kala bunyi itu terasa sangat nyaring.


"Han," panggil Mariam lirih, seraya menyentuh lengan sang anak.


"Kita tanya Hanaf saja ya, berapa passwordnya, jangan dipaksa seperti ini," ucap Mariam lagi, namun Hanan malah bergeming.


Hanan yakin, jika sampai kapapun kakaknya itu tidak akan memberitahu password yang baru brangkas ini.


hanya inilah satu-satunya cara yang bisa ia gunakan.


Membukanya dengan paksa.


Hingga entah dimenit keberapa, akhirnya brangkas itu berhasil dibuka.


Hanan buru-buru memeriksanya, menelisik tiap berkas yang ada di dalam sana. Hingga matanya terkunsi pada sebuah map berwarna hitam pekat.


Tertulis dengan jelas, jika itu adalah surat wasiat sang ayah.


Sejenak, jantung Hanan seperti berhenti berdetak.


Takut untuk membuka isinya, takut jika semua yang diucapkan oleh Roy adalah benar.


"Apa itu?" tanya Mariam, heran.


Apalagi saat melihat sang anak yang nampak ragu untuk membukanya.


Tanpa izin Hanan, Mariam pun langsung merebut berkas itu dan langsung membacanya.


"Surat wasiat."


Nadia mendekat, lalu ikut membaca saat sang ibu mertua membuka lebar-labar isi wasiat itu.


Kedua netra wanita ini langsung membola, kala menyadari surat itu berbeda dengan surat yang dibacakan Roy kala itu.


Dan makin terperangah lagi saat membaca kalimat akhrinya.


Jika Hanaf, hanya mendapatkan seperempat harta dari semua warisan sang ayah. Seperempatnya lagi untuk Mariam dan setengah untuk Hanan.


Selama Hanan masih hidup, Hanaf, tidak akan mendapatkan lebih dari itu.