MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 63 - Keputusan Nadia



Hingga tengah malam, Hanaf masih juga terjaga. Matanya tak bisa terpejam, dan terus menatap kearah pintu pengunjung diujung sana.


Kabar tentang dirinya yang ditahan oleh pihak kepolisian sudah tersebar luas.


Bahkan desas sesus tentang dirinya pun sudah berhembus tak bisa dikendalikan.


Namun hingga detik ini tak ada satupun pihak keluarga yang mendatanginya.


Menjenguk dan menanyakan kabar tentangnya.


"Dimana mama dan Nadia, kenapa mereka tidak datang kesini?" gumam Hanaf pelan.


Disaat seperti ini, hanya kedua wanita itulah yang ingat.


Dan hingga pagi menjelang, Hanaf masih setia membuka mata. Ia tak terpejam sedikitpun selama semalaman.


Pagi itu, yang datang hanyalah 2 pengawacaranya, Anwar dan Rudi.


Menyampaikan jika kini Hanaf sudah dipecat sebagai CEO ExstraFood. Semua harta atas namanyapun sudah dibekukan.


Dan Hananlah yang menggantikan dirinya di perusahaan itu.


Mendengar itu, Hanaf bergeming, menuntut balik pun ia tak mampu. Karena semua bukti yang dibawa oleh Bagas sudah begitu menjeratnya.


Ia tak bisa berkilah sedikitpun.


"Dimana mama dan istriku, kenapa mereka tidak datang kesini?" tanya Hanaf akhirnya, sedari semalam ia terus terpikirkan akan hal ini.


"Ibu Mariam menyerahkan semuanya kepada pak Hanan. Begitu juga dengan ibu Nadia. Ibu Nadia bahkan sekarang sudah tidak berada di Jakarta Pak, beliau pergi ke Bandung bersama Axel dan Aska." Anwar yang menjawab dan seketika Hanaf tersentak.


Dalam sekejab saja, dadanya terasa sesak, seolah dihimpit batu yang begitu besar.


"Berikan ponselmu," pinta Hanaf, dan dengan segera ia merampas ponsel milik Anwar itu.


Buru-buru ia mengetikkan nomor sang istri. Nomor Nadia yang begitu dihapalnya.


Namun sayang, 3 kali ia mencoba menghubungi, panggilannya tetap tidak mendapatkan jawaban.


"Ah! Sial!" umpat Hanaf, ia tahu betul jika istrinya itu tidak pernah menerima panggilan dari nomor telepon yang tidak dikenal.


Tak kehilangan akal, Hanaf pun langsung mengirimkan pesan pada Nadia. Mengatakan jika ini adalah dia.


"Nad, kenapa kamu pergi? aku butuh kamu disini Nad," ucap Hanaf langsung, bahkan sebelum keduanya saling mengucapkan kata salam.


Di ujung sana. Nadia bergeming.


"Nadia," panggil Hanaf lagi, lirih. Sumpah demi apapun, ia butuh Nadia disini.


"Maaf Mas, aku tidak bisa," jawab Nadia akhirnya, sekuat tenaga ia menegarkan hati. Tak ingin kembali terpengaruh dengan kata-kata manis sang suami.


Cukup, selama pernikahan mereka ia menanggung luka.


Kini, Nadia ingin terlepas dari rasa sakit itu. Biarlah ia hanya hidup bersama kedua anaknya.


"Kenapa Nad? apa yang Hanan katakan padamu, sampai kamu mendiamkan aku seperti ini?" balas Hanaf belum menyerah.


Hanaf sadar satu hal, hanya Nadialah yang selalu ada untuknya selama ini. Dan kini, Hanaf pun tetap ingin Nadia ada.


"Hanan tidak mengatakan apapun Mas, semua ini memang keinginanku sendiri. Aku ingin kita bercerai, Mas." Nadia, berucap dengan suaranya yang bergetar.


Ia bahkan berulang kali menelan salivanya dengan susah payah.


"jangan asal bicara, sampai kapanpun aku tida akan menceraikanmu," balas Hanaf sengit. Seketika kemarahannya membuncah saat mendengar Nadia ingin berpisah darinya.


Dan mendengar itu, Nadia pun akhirnya menangis.


"Cukup Mas, cukup. Aku mohon ceraikan aku. Aku sudah tahu semuanya Mas, semuanya aku tahu. Bagaimana kamu menghianati aku dan anak-anak. Bahkan kamu bermain api juga dengan Lora, adik iparmu sendiri," balas Nadia dengan sesenggukan.


Mendengar itu, Hanaf tercenung. Tak menyangka jika Nadia tau semuanya.


"Selama ini aku diam, berharap kamu bisa berubah ketika melihat kesungguhanku mencintai kamu. Tapi nyatanya, kamu malah semakin jadi. Aku sudah tidak sanggup Mas, aku tidak mau lagi jadi istrimu," timpal Nadia.


Suara tangisnya masih begitu jelas didengar oleh Hanaf.


"Ku pikir, kesalahanmu hanya satu, hanya tentang menyakiti aku. Tapi ternyata aku salah, kamu bahkan tega menyakiti Hanan dan juga Mama. Kamu tega merubah surat wasiat papa Mas. Ya Allah, kenapa kamu jahat sekali."


Mendengar semua ucapan sang istri, Hanaf tak bisa menjawab apa-apa, lidahnya kelu.


"Besok, aku akan mengajukan surat gugatan cerai kita." final Nadia.