
Sena memandang Airin begitu lekat. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya nampak sempurna. Airin begitu seksi dengan tubuh langsing serta berat badan yang proposional, parasnya cantik bahkan hanya dengan polesan make up tipis.
Sementara dirinya? Bak karung beras yang biasa dipanggul di pasar. Sena merasa begitu minder dengan itu semua.
Hingga perasaan takut itu tiba-tiba menghinggapi hati ibu hamil itu. Apalagi Hanan dikenalnya sebagai sugar daddy, pastilah lelakinya itu senang dengan body seperti Airin, bening dan seksi.
Akhirnya Sena berlalu dari sana, tanpa mengucap sepatah katapun, dia merajuk seperti anak kecil yang tak dibelikan sebuah mainan oleh orang tuanya.
Tanpa melirik ke arah Airin. Hanan mengejar Sena, dia tidak mau pikiran-pikiran negatif, bersarang di otak istrinya itu.
"Sayang." Panggil Hanan tanpa berhenti melangkah.
Ibu hamil itu langsung masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan menutup diri dengan selimut sampai ujung kepala.
Hanan menghela nafas, lalu pelan-pelan mendekati Sena yang tengah merajuk. "Sayang." Panggil Hanan mesra.
Dia mencoba membuka selimut itu, dan Sena enggan menatap suaminya, tiba-tiba dia kesal dengan lelaki itu, entah sebab apa.
"Sayang, kenapa kamu tiba-tiba marah seperti ini? Kalau aku salah aku minta maaf yah." Ucap Hanan lembut, membujuk Sena.
"Jelas aja aku marah, mantan kamu cantik gitu, sementara aku?" Ujar Sena dengan bibir yang bergetar menahan tangis.
Mendengar itu, Hanan malah mengulum senyum, merasa lucu. Ternyata Sena cemburu.
"Sementara aku apa?" Tanya Hanan sambil mengusap puncak kepala Sena. Ibu hamil itu terlihat bergeming.
"Ya lihat aja aku kayak apa? Aku kalah cantik kan sama dia? Aku kalah seksi kan?" Dadanya semakin bergemuruh mengetahui fakta itu.
"Tapi cuma kamu yang aku cinta. Kalau memang kamu kalah dari dia, aku pasti masih duduk di bawah sana, tapi kamu lihat kan Sayang? Aku di sini, aku maunya kamu." Ucap Hanan sungguh-sungguh.
"Mau bukti?" Hanan mengangkat kedua alisnya.
Dan Sena mengangguk sebagai jawaban. Secepat kilat, Hanan meraup bibir Sena, dia langsung menyerang dengan beringas, membuktikan bahwa hanya Sena yang dia inginkan.
Lidah Sena ditarik keluar, lalu masuk ke dalam mulut Hanan untuk disesapnya. Hingga entah di menit ke berapa, keduanya sudah menyatu dengan Hanan yang terus memompa tubuh Sena.
"Percayalah, Sayang. Cuma kamu yang aku ingin kan." Ucap Hanan sambil menghentak tubuh bagian bawah Sena, dengan benda panjang miliknya.
Sena hanya mampu menjawab ucapan Hanan dengan lenguhan yang menderu tak habis-habis, dia meremass rambut Hanan dan terus membusungkan dadanya.
Ingin digigit dan dimanjakan oleh lelaki itu.
Sementara di bawah sana, akhirnya Mariam yang menemui Airin, karena Hanan sedang membujuk Sena yang tiba-tiba merajuk.
"Hanan memang sudah cerai dari istrinya, Lora. Tapi Hanan juga sudah menikah lagi, Nak. Dia menikahi Sena, dan sekarang mereka sedang menanti kelahiran anak pertama mereka, Mama harap kamu mengerti ya." Jelas Mariam apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi.
Mariam berharap, Airin tidak akan jadi pengganggu bagi rumah tangga anaknya.
Airin menganggukkan kepalanya, dia mencoba untuk mengerti dan menerima semuanya. Bahwa sang pujaan, tak bisa lagi dia miliki, dia tidak mempunyai kesempatan itu.
"Tapi aku mau bertemu mas Hanan, Ma. Sekali saja." Ucap Airin, untuk yang terakhir kali, dia ingin menemui Hanan, dan Mariam tidak bisa menolak itu, selagi Hanan dan Sena setuju.
Malam itu, Airin terus menunggu Hanan. Namun, sampai jam 10 malam, lelaki itu tak kunjung menemuinya, penantian Airin sia-sia. Dan akhirnya wanita muda itu memutuskan untuk pulang.
Sementara Hanan tak peduli pada apapun, dia terus mengajak Sena untuk menyambangi nirwana, mengarungi surga dunia yang selalu membuatnya menggila.
Sena adalah satu-satunya candu yang selalu ingin dinikmatinya.