
Pagi ini, Hanan sengaja membawa Felli untuk keluar rumah. Bisa dipastikan jika kelak, rumah ini akan ada perperangan hebat, antara dirinya dan sang istri, Lora.
Hanan mengantarkan Felli ke rumah sang ibu, memperkenalkan Felli sebagai sepupu sang calon istri, Sena.
Saat kembali ke rumah, ia sudah disambut oleh teriakan Lora yang menggema.
"APA INI?" bentak Lora seraya berteriak, kemarahannya sudah seperti api yang membara, tak bisa dipadamkan. Saat hendak keluar rumah, ada seorang kurir mengantarkan surat untuknya, gugatan cerai sang suami, Hanan.
Bak disambar petir, Lora langsung berteriak kesal.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bercerai denganmu Mas, ingat itu! aku akan tolak gugatan ini!" bentaknya lagi, hilang sudah sopan santun itu dilahap oleh amarah.
Hanan hanya berdecih, saat melihat Lora membuang surat gugatannya ke lantai, berserak lalu diinjak-injaknya dengan brutal.
"Selama aku memilili Noah, kamu tidak akan bisa menceraikanku," geram Lora lagi, menatap tajam Hanan dengan matanya yang merah menyala.
Tapi Hanan tetap bergeming, tak sudi menanggapi kemarahan sang istri, buang-buang tenaga.
"Ku pikir, kamu benar-benar mencintai Airin, ku pikir juga kamu mencintai wanita di apartemen itu, tapi sekarang kamu malah ingin menikah dengan wanita yang lain lagi. Kamu benar-benar tidak memiliki hati, Mas," sindir Lora dengan suaranya yang mulai memelan, berulang kali ia menarik dan menghembuskan napas, mencoba tenang.
Berbicara dengan Hanan adalah perkara yang sulit.
"Kamu boleh berhubungan dengan siapapun, tapi aku tidak mau dimadu," jelas Lora, suara memang pelan, tapi tatapannya menatap tajam.
Jika tak seperti ini, Hanan pasti tidak akan mendengarkannya.
"Sudah berapa kali ku bilang, kamu, tidak punya hak untuk mengatur hidupku. Dan aku, akan tetap menceraikanmu," balas Hanan sengit setelah lama terdiam.
Lora berdecih, percuma memang bicara dengan suaminya ini. Bicara pelan pun tetap tak didengarnya.
"Kamu tidak akan bisa menceraikanku, camkan itu!" ancam Lora.
Namun seketika kedua mata Lora terbelalak, saat melihat beberapa orang berseragam polisi masuk ke dalam rumahnya begitu saja.
Bahkan melewati Hanan dan berdiri tepat di hadapannya.
"Ibu Lora, anda kami tahan atas laporan yang berikan oleh pak Hanan, dengan tuduhan penelantaran anak. Anda bisa membela diri melalui pengacara, kini anda harus ikut kami lebih dulu," jelas salah satu orang.
Lora menggeleng, seraya mundur beberapa langkah.
"Apa-apaan ini, aku tidak mau ikut kalian!" bentak Lora, kepanikan datang secara tiba-tiba.
Namun tak ucapan Lora, dua orang polisi langsung mencekal tangannya. Sementara satu yang lain malah berjabat tangan dengan Hanan.
"Apa yang kamu lakukan Mas? kamu melaporkan aku kepolisi? penelantaran anak? kamu lah yang menelantarlan Noah Mas!" geram Lora, ia mencoba berlari namun tak bisa.
"Nikmati saja hukumanmu, mantan istriku!" hardik Hanan dengan tatapannya yang menusuk.
Lora terperangah, tak menyangka Hanan bertindak sejauh ini.
"Jahat kamu Mas! JAHAT!" teriak Lora frustasi.
"Kamu sengaja menjebakku Mas! kamu jahat! aku akan balas kamu Mas! lihat saja, lihat! aku tidak akanp pernah masuk penjara ..."
"Kamu tidak akan bisa memperjarakan aku!"
"TIDAK AKAN BISAA!"
"SELAMANYA AKU AKAN JADI ISTRIMU!"
Tak peduli apapun yang diucapkan Lora, Hanan terus berjalan masuk ke dalam rumah, naik ke lantai dua dan segera masuk ke dalam kamar sang anak, Noah.
Dilihatnya saat itu, Noah sedang disusui oleh Tia, menggunakan botol dot.
Melihat majikannya masuk, Tia langsung bangkit dari duduknya dan menunduk hormat.
Tanpa babibu, Hanan segera mengambil sang anak dalam gendongan Tia, memindahkannya masuk ke dalam dekapannya sendiri.
"Keluarlah, biar aku yang memberikannya susu," ucap Hanan, dan dengan patuh Tia keluar.
Meninggalkan ayah dan anak itu berdua di dalam kamar ini.
Hanan duduk dikursi yang tadi diduduki oleh Tia, kursi menyusui. Di pandanginya wajah sang anak yang nampak begitu kecil, dengan lahapnya meminum susu.
"Maafkan ayah, Noah. Maafkan ayah," ucap Hanan lirih. Selama ini ia selalu bersikap seolah tak menginginkan sang anak, seolah membencinya dan seolah tak peduli.
Tapi percayalah, itu semua hanya siasatnya. Di dalam hati Hanan, ia begitu menyayangi sang anak.
"Maafkan ayah, Noah," ucap Hanan sekali lagi, penuh dengan penyesalan.
"Mulai sekarang, ayah akan selalu ada untukmu."
Hanan mengangkat gendongannya dan mencium kening sang anak dengan sayang. Apapun, akan ia lakukan untuk Noah, memberikan yang terbaik untuk anaknya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu bulan kemudian.
Ketukan palu sudah terdengar di ruang sidang perceraian Hanan dan Lora, kini mereka sudah resmi bercerai. Hanan mendapatkan hak asuh Noah secara utuh.
Penelantaran anak yang dilakukan Lora adalah kesalahan fatal, tak hanya diceriakan, ia juga kini masuk ke dalam bui.
Bahkan saat kasus Lora mencuak, Jeni pun ikut mengajukan gugatan, dengan tuduhan penganiayaan.
Akhirnya Lora dihukum pasal berlapis, tak hanya denda, ia juga mendapatkan hukuman 7 tahun penjara.
Awalnya ia ingin meminta bantuan Hanaf, tapi naas, Hanaf malah pura-pura tak mengenalnya. Bak jatuh tertimpa tangga. Kini Lora tak bisa apa-apa.
Dengan kebencian yang menumpuk, ia meninggalkan ruangan persidangan itu.