
Pagi hari.
Setelah shalat subuh berjamaah bersama sang istri. Hanan, memutuskan untuk turun ke lantai 1. Ia ingin menemui sang ibu di kamarnya sana.
Mengetuk pintu beberapa kali, lalu Mariam membukakannya.
"Han," sapa Mariam, lirih.
Ia masih menggunakan mukenah ketika membuka pintu untuk anaknya itu.
"Aku boleh masuk Ma?"
"Masuklah," jawab Mariam seraya membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Hanan masuk ke dalam sana, mengekori mariam hingga akhirnya mereka duduk bersama di sofa kamar itu.
"Ada apa Han? Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan mama?" tanya Mariam langsung. Ia melepas mukenah lalu melipatnya diatas pangkuan.
"Ma, perusahaa kita baik-baik saja. Mama tahu Adam Malik? dia membantuku," jelas Hanan.
Memdengar itu, pergerakan tangan Mariam terhenti, ia lalu menoleh dan menatap anaknya lekat.
"Benarkah Han?" tanya Mariam dengan wajahnya yang mulai berbinar.
Dilihatnya sang anak mengangguk kecil.
Marian sontak tersenyum lebar, lalu memeluk Hanan erat.
Bukan masalah bangkrut yang ia takutkan. Tapi nasib para karyawan dan usaha keras suaminya lah selalu menjadi beban pikirannya perihal perusahaan itu.
Terlebih lagi, ia tak akan sanggup jika melihat Hanan menanggung semua kesusahan gara-gara ulah Hanaf.
Tapi mendengar seorang Adam Malik meembantu anaknya, Marian sungguh merasa lega.
Siapa yang tak mengebal Adam Malik. Pengusaha nomor 1 diindonesia dan disegani oleh semua orang.
Sejak dulu, Hanan dan Adam memang berhubungan baik. Mariam sangat bersyukur, kini pun Adam sudi untuk menolong keluarga mereka.
"Alhamdulilah, masya Allah Han, mama bahagia sekali," ucap Mariam, seraya melerai pelukannya dengan sang anak.
Tak sampai disana rasa syukur Mariam, ia juga berulang kali mendoakan keluarga Malik, agar senantiasa selalu diberi kebahagiaan serta keberkahan.
"Ma, apa mama tidak ingin menemui mas Hanaf?" tanya Hanan, hati-hati.
Namun tetap saja membuat Mariam yang tadinya tersenyum lebar kini senyum itu perlahan menyurut.
Bahkan sorot matanya pun kembali sendu, tak lagi berbinar seperti beberapa detik lalu.
Hanan tahu, mamanya masih enggan. Tapi jika teringat sang kakak, Hanan pum tak tega melihat Hanaf jika harus melalui semuanya sendiri.
Keluarga yang harus selalu menemani disaat yang lainnya tegah terpuruk.
Terdengar jelaa oleh Hanan, Mariam yany menarik dan menghembuskan napasnya berat.
"Mas Hanaf hanya ingin meminta maaf Ma, dia ingin menemui mama dan mbak Nadia, tapi sudah tidak bisa," jelas Hanan apa adanya.
Tak hanya tangannya yang diborgol, kakinya pun seperti di rantai hingga membuatnya tak bisa keluar dari sana.
Meski sebentar saja.
"Han," jawab Mariam, lirih. "Maafkan Mama, tapi untuk saat ini mama tidak ingin menemui kakakmu itu. Sangat banyak kesalahan Hanaf Han, apalagi pada Nadia. Mama tidak bisa." Mariam bahkan berulang kali menggelengkan kepalanya setelah selesai berucap.
Ia tak punya cukup nyali untuk menemui anaknya itu. Rasanya, selama Nadia belum memaafkan Hanaf, maka selamanya ia pun tak akan bisa memaafkannya.
Mendengar itu, Hanan pun hanya mampu bergeming. Ia sangat mengerti bagaimana perasaan sang ibu.
Selama ini, Mariam begitu sayang kepada mbak Nadia. Bahkan mbak Nadia lah selalu ada untuk menjaga dan merawat dirimnya.
Mengetahu anaknya sendiri tak berbuat baik pada mbak Nadia, membuat mama Mariam malu.
Tak lagi memiliki wajah untuk bertemu dengan mbak Nadia.
Jika sudah seperti ini, maka Hanan memutuskan untuk menemui mbak Nadia dulu.
Mendapatkan maaf dari mbak Nadia untuk kakaknya, baru kembali menghadapi sang ibu.
Pelan, Hanan kembali memeluk ibunya yang berwajah sendu itu.
"Ma, jangan bersedih lagi, mama tahu, sepertinya Sena sedang hamil," ucap Hanan yang ingin mengalihkan pembicaraan.
Dan ucapannya itu, berhasil menggugah semangat Mariam lagi.
"Benarkah? darimana kamu tahu? kalian sudah periksa?" tanya Mariam bertubi dan menggebu.
Hanan pun tersenyum, kala melihat ibunya kembali bersemangat seperti ini.
"Belum kami periksa Ma, tapi aku yakin Sena sudah hamil. Dulu, Noah saja sekali tembak jadi, apalagi Sena yang setiap hari aku tembak-tembak."
Plak!
Mariam, langsung memukul lengan anaknya itu. Anaknya yang mesum.
"Ingat, Sena itu masih kecil, beri dia waktu untuk beristirahat, jangan kamu gempur terus," kesal Mariam, dan Hanan malah terkekeh.
Rindu, dimarahi ibunya seperti ini.