MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 71 - Nadia



Bandung.


Nadia, terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam didinding, waktu masih menunjukkan jam 2 dini hari.


Nadia terduduk dan mengusap wajahnya dengan kasar. Sekuat tenaga ia terlelap, namun nyatanya mata itu tak kunjung terpenjam.


Akhirnya Nadia memilih turun, keluar dari dalam kamarnya yang remang dan sepi itu.


Nadia, mendatangi kamar Aska dan Axel secara bergantian.


Kedua anak laki-lakinya itu sudah beranjak dewasa. Dan ternyata, mereka juga sama-sama sudah tahu jika selama ini sang ayah terus nenyakiti batin ibunya.


Aska dan Axel bahkan meminta, sang ibu untuk berpisah dari ayahnya itu. Lalu mereka pergi menjauh dan hanya hidup bertiga.


Kedua anak laki-lakinya itu bahkan berjanji, akan selalu menjaga dan melindungi ibunya.


Lagi, air mata Nadia mengalir. Segara ia kembali menutup pintu kamar Axel secara perlahan.


Bersandar dipintu itu dengan air mata yang terus mengalir. Dan merasakan kepalanya yang terasa kosong.


"Kenapa kita jadi seperti ini Mas?" lirih Nadia, berucap seolah suaminya itu ada disini dan bisa mendengar pertanyaannya.


Tak bisa bohong, nyatanya Nadia memang masih mencintai suaminya itu. Meski berulang kali hanaf menyakitinya, namun berulang kali pula Nadia memaafkan.


Anggaplah ia bodoh, namun memang seperti itulah keadaannya.


Tak ingin kalut dengan pikirannya sendiri. Nadia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar. Mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat malam, tahajut.


Meminta, agar hatinya dikuatkan untuk berpisah dengan Hanaf. Lalu bisa menjalani hari-hari barunya tanpa menanam duri dihatinya sendiri.


Pagi menjelang.


Kala itu, Nadia hendak mengantar kedua anaknya ke sekolah baru mereka di bandung.


Namun baru sesaat mereka keluar dari rumah, langkah ketiganya terhenti saat melihat Mariam berdiri disana.


Ya, setelah berbincang dengan Hanan subuh tadi, Mariam langsung bergegas pergi ke Bandung bersama supir pribadinya.


Dan kini, ia sudah berada disini. Didepan rumah sang menantu pertama, Nadia.


"Nenek," panggil Aska, ia dan sang adik lelu menghampiri Mariam dan memeluk neneknya erat.


"Bolehkah nenek ikut mengantar kalian ke sekolah?" tanya Mariam seraya menghapus air matanya sendiri dengan cepat setelah pelukan lama diantara mereka terlerai.


Dan dengan tersenyum, Aksa dan Axel menganggukkan kepalanya.


Pagi itu, Nadia dan Mariam akhirnya mengantarkan Aska dan Axel ke sekolah baru mereka.


Mariam menunggu dikursi tunggu taman sekolah saat Nadia masuk dan menemui guru baru Aska dan Axel.


Memenuhi beberapa berkas yang kemarin belum lengkap untuk kepindahan sekolah kedua anaknya itu.


Cukup lama, hingga akhirnya Nadia kembali menemui sang ibu mertua.


"Ma, kenapa mama kesini pagi-pagi sekali?" tanya Nadia, cemas. Baru ia memiliki waktu untuk bicara berdua dengan sang ibu.


Mariam tak langsung menjawab, ia lagi-lagi menangis seraya menggenggam erat kedua tangan sang menantu.


"Mama ingin sekali bertemu dengan kamu Nak," balas Mariam, jujur.


Melihat air mata sang ibu, Nadia tak mampu berkata-kata lagi, ia hanya mampu memeluk Mariam erat.


"Mama tidak bisa tidur dengan nyenyak Nad, Mama terus memikirkan kamu," jelas Mariam apa adanya.


Bukan Hanaf dipenjara sana yang ia pikirkan, melainkan Nadia yang begitu ia sayangi.


"Nad, meskipun kamu dan pria itu bercerai nanti, kamu tetap anak mama kan?" tanya Mariam, seraya menatap penuh harap pada menantunya itu. Mariam, sungguh tak ingin kehilangan Nadia.


Dan dilihatnya, Nadia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Terima kasih Ma," jawab Nadia, penuh syukur.


Ada Mariam, membuat hatinya menghangat, dan tak terasa hampa.


Dari Bandung, Nadia mulai memasukkan gugutan cerainya di Jakarta melalui seorang pengacara.


Nadia dan Mariam juga sepakat, untuk kelak mereka akan menemui Hanaf saat Nadia sudah bercerai secara resmi dengan pria itu.


Hari itu, Mariam tak langsung pulang. Ia menginap di rumah Nadia selama 3 malam.