MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 46 - Cara Membangunkan Suami Yang Benar



Jam 5 subuh, Sena bangun lebih dulu.


Ia tak langsung membangunkan sang suami, namun lebih dulu memeriksa keadaan sang ibu mertua, Mariam.


Di dalam kamar itu, ternyata Mariam tidak tidur


sedirian, ia tidur bersama Nadia. Ya, semalam, Nadia memutuskan untuk tidur bersama sang ibu mertua,


Meliat itu, Sena tersenyum. Mulai mengerti kenapa Hanan menyembunyikan semuanya dari sang kakak ipar.


Nadia begitu baik, dan tak pantas merasakan sakit hati hanya karena Hanaf.


Dengan perlahan, Sena kembali menutup pintu dan kembali ke kamarnya sendiri.


Dilihatnya sang suami yang masih terlelap, sangat tampan.


“Sayang,” panggil Sena pelan, seraya mengelus wajah Hanan lembut. Ia duduk disisi ranjang, tepat disamping sang suami.


“Hem, kamu darimana?” jawab Hanan dengan matanya yang masih tertutup. Ia sudah bangun, hanya masih enggan untuk beranjak.


“Kamar mama, ternyata disana ada mbak Nadia,” jelas Sena apa adanya. Mendengar itu, hanan mulai membuka mata.


“Jadi kamu lebih memilih membangunkan mama dulu dibanding membangunkan aku? Suamimu?” tanya Hanan tidak terima.


“Ya sudah ayo bangun, kita shalat subuh berjamaah,” balas Sena seraya hendak menarik Hanan untuk bangkit.


Bukannya bangun, Hanan malah menahan tangan Sena dan menyeringai


Sena, hapal betul apa arti dari seringai itu, buaya


yang sedang kehausan.


“Cara membangunkan suami yang benar itu bukan


seperti ini, tapi bangunkan dulu yang itu,” Ucap Hanan ambigu, namun Sena mengerti dengan jelas apa maksudnya.


Sena sedikit berteriak saat Hanan menariknya untuk berbaring, lalu tanpa aba-aba Hanan langsung menindih.


“3 ronde.”


“Banyak banget!” keluh sena.


"1 untuk rinduku selama berbulan-bulan tidak


bertemu, 2 untuk malam pertama kita yang gagal.” Jelas Hanan.


Dan tanpa babibu lagi, ia segera menanggalkan semua baju sang istri.Mencetak tanda merah abstrak ditubuh polos itu. Sena menggeliat, merasakan tangan sang suami yang mulai bergerilya, 3 ronde bagi Hanan bisa jadi 10 ronde bagi Sena.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kamu tidak berangkat kerja?” tanya Hanaf pada sang adik, Hanan.


Hanaf sudah rapi dengan baju kerjanya, sarapan


ditemani oleh Nadia. Sementara Axel dan Aska sudah lebih dulu berangkat


sekolah.


Sedangkan Hanan, datang ke meja makan hanya


menggunkan celana boxer pendek dan kaos hitam polos.


“Ya kali pengantin baru udah kerja, kan lucu ya


Mbak?” tanya Hanan pada Nadia, mendengar  itu Nadia hanya terkekeh seraya menggelang gelengkan kepalanya.


“Mbak, tolong siapin makan untuk Sena ya, biar


sarapannya ku bawa ke kamar,” timpal Hanan lagi dan Nadia mengangguk.


Cukup tau alasannya kenapa pagi ini Sena tak keluar kamar, pastilah Hanan sudah memggempur habis istrinya itu.


“Setelah sarapan, ajak Sena berendam air hangat,” ucap Nadia dan Hanan mengangguk patuh.


“Ada, nanti mbak ambilkan.”


“Kenapa kamu harus repot, biar mereka urus sendiri urusan mereka," Kesal Hanaf, kenapa pula Nadia slalu menuruti permtaan Hanan.


“Mas apa-apaan sih, cuma begini saja apanya yang repot.” Jawab Nadia apa adanya, Hanaf terlalu berlebihan, pikirnya.


Selesai menyiapkan sepiring nasi penuh lauk untuk


Sena, Nadia beranjak megambil obat merah. Meninggalkan kakak beradik itu hanya berdua di ruang makan.


“Sena bukan Lora, jadi jangan coba-coba untuk mendekati istriku.” Ucap Hanan dingin, ia pun menatap tajam pada kakaknya itu.


“Beda apanya? Mereka sama-sama ******, bukankah kau sudah sering memakainya sebelum kaian menikah?’ balas Hanaf tak kalah sengit,


ia begitu geram melihat penampilan Hanan pagi ini, mengisyaratkan percintaan panas ia dan sang istri semalam.


“Tentu saja beda, karena Sena hanya aku yang menyentuhnya dari dulu hingga sekarang, bukan seperti jalan-jalangmu itu, kamu pikir mereka


hanya setia padamu? Cuih, bahkan diluar sana, Lora atau siapapun itu tetap membuka kakinya lebar untuk semua pria! Kamu memang pantas mendapatkan barang


seperti itu!”


Hanaf  langsung bangkit dan menarik kerah baju Hanan, ia hendak memberikan


pukulan pada adiknya itu, namun terhenti saat mendengar suara sang istri memanggil, Nadia datang.


"Mas Hanaf!” cegah Nadia cepat, ia bahkan menarik tangan Hanaf untuk turun.


“Mas apa-apaan sih, ini di rumah mama Mas, bagaimana kalau mama lihat?" keluh Nadia dengan suranya yang lirih, ia begitu menyesalkan


atas tindakan Hanaf dan Hanan itu.


Tapi tak peduli dengan yang diucapkan sang istri,


Hanaf  langsung saja pergi meninggalkan


ruang makan itu. Dengan penuh kemarahan, ia meninggalkan rumah.


“Maaf Mbak,”  ucap Hanan tulus, sumpah demi apapun ia tak ada niat untuk membuat


keributan, ia hanya ingin mengingatkan Hanaf untuk tidak mendekati istrinya.


“Kalian kenapa sih? Ribut terus, mama itu sakit


darah tinggi Han, mama tidak bisa banyak pikiran, kalau sampai ada komplikasi bagaimana? Bisa-bisa saluran darah mama pecah,” jawab Nadia dengan menangis, hatinya tak hanya sakit melihat pertengkaran sang suami dengan adik iparnya, namun sikap Hanaf yang memperlakukannya sesuka hati membuat hatinya terluka.


Nadia hanya manusia biasa, ia bisa saja menangis.


“Maaf Mbak, aku tdak akan mengulangi ini lagi,”


sesal Hanan.


Dan Nadia mengangguk, ini semua memang bukan


sepenuhnya salah Hanan, suaminya pun pasti bersalah, pikir Nadia.


“Ini obat merahnya, kembalilah ke kamar, sena pasti sudah lapar.” ucap Nadia seraya menghapus air matanya dan mengulurkan obat merah itu.


Hanan menerima uluran obat merah, lalu sepiring nasi pula. Setelah itu ia segera berlalu kembali kedalam kamarnya sendiri.


Disana Sena masih menunggu, bersandar disandaran ranjang dan berbalut selimut, tubuhnya masih polos.


“Maaf sayang, aku lama ya?” tanya Hanan dan Sena mengangguk.


“Maaf, sebagai permintaan maafku, nanti saat mandi akan ku beri pelayanan plus-plus.”


Dan Sena, langsung melempar sang suami dengan


bantal. Hanan menghindar, lengkap dengan kekehannya.