MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 65 - Saudara



Sesaat, Hanaf hanya tercenung kala melihat adiknya disana.


Hanan bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan sang kakak. Melihat Hanaf dari atas hingga bawah, memperhatikannya lekat. Pakaian lusuh, dengan banyak luka lebam diwajah.


Sumpah demi apapun, Hanan tak tega melihat itu. Namun jika teringat semua kejahatan sang kakak. Ia kembali membenci.


"Waktu untuk berkunjung hanya 20 menit, nanti saya akan kembali jika waktunya sudah habis," ucap penjaga itu.


Namun baik Hanaf ataupun Hanan, keduanya hanya sama-sama diam. Tak memberikan tanggapan apapun.


Hingga akhirnya penjaga itu pergi dan hanya menyisahkan mereka berdua.


"Kamu ingin menertawakanku?" tanya Hanaf, ia bahkan berdecih setelah mengatakan itu.


Dan mendengar seraya melihatnya, Hanan pun tersenyum kecil.


"Ya, aku ingin tertawa keras dihadapanmu. Menertawakan nasib hinamu ini," balas Hanan sengit.


Hingga membuat Hanaf mengepalkan tangannya kuat. Sedari dulu, Hanan, selalu saja lebih beruntung dibanding dirinya.


Dan kenyataan itu, benar-benar membuatnya benci.


"Pergilah, aku tidak sudi melihat wajahmu," ucap Hanaf, ia bahkan hendak meninggalkan Hanan disana.


Namun terhenti, saat Hanaf mengeluarkan selembar kertas dari tas kerjanya.


"Aku juga tidak sudi melihatmu disini, aku datang hanya karena permintaan mbak Nadia," jawab Hanan, seraya mengulurkan surat gugatan cerai Nadia itu untuk sang kakak.


Melihat surat itu, kedua netra Hanaf membola, ia tak menyangka jika Nadia akan benar-benar menceraikan dirinya.


"Cepat ceraikan mbak Nadia, setelah dia berpisah darimu, mungkin aku bisa menikahinya secara sirih," ucap Hanan, dengan terkekeh pelan, hanya ingin memprovokasi sang kakak.


Dan niat Hanan itu berhasil, sebuah kalimat yang mampu menyulut kemarahan Hanaf hingga membara.


Tanpa babibu, Hanaf langsung melayangkan sebuah tinjuan keras ke wajah sang adik.


Ia bahkan langsung menindih tubuh Hanan yang tersungkur dan memukulinya membabi buta.


Tapi anehnya, Hanan tak membalas, ia hanya menerima semua pukulan itu hingga Hanaf menghentikan sendiri aksinya.


Melihat Hanan yang hanya diam dengan banyak luka itu, membuat ia semakin geram.


Hanaf bangkit dan berteriak sekuat yang ia bisa. Hanaf bahkan menarik rambut dan mengacaknya frustasi.


Ia berteriak terus hingga membuat beberapa penjaga datang dan mencekal tubuhnya.


Hanaf, akhirnya terduduk dilantai, ia menangis dan membiarkan tubuhnya dicekal oleh dua penjaga disana.


Hanan pun bangkit dan ikut bersimpuh dihadapan sang kakak.


"Sebenarnya apa salahku Mas, kenapa kamu begitu membenciku?" tanya Hanan, lirih. Terlebih luka di sudut bibirnya yang membuat ia sulit untuk buka suara.


Ditanya seperti itu, Hanaf malah gamang.


kekurangannya lah yang membuat ia benci kepada sang adik. Ketidakmampuannya dalam banyak hal yang membuat ia marah.


"Apa salah Mama Mas, sampai Mas mengacuhkan mama seperti itu?" tanya Hanan lagi.


"Dan apa salah mbak Nadia, sampai mas tega berulang kali menghianati dia?" Hanan, ia pun meneteskan air matanya kala mengucapkan semua pertanyaan itu.


Lebih-lebih Hanaf yang tangisnya makin terisak.


"Maafkan aku Han, maafkan aku, tolong bawa mama dan Nadia kesini Han, aku mohon," pinta Hanaf sungguh-sungguh.


Namun Hanan tak bisa menuruti keinginan kakaknya itu.


Mariam sudah sangat kecewa, Hanaf sudah merubah surat wasiat suaminya, menghianati menantunya, bahkan merebut sebagian hak karyawan di perusahaan mereka.


Sudah teramat banyak kesalahan Hanaf yang sulit untuk ia maafkan.


Dan Nadia pun, sudah tak ingin kembali berhubungan dengan pria bernama Hanaf itu.


Sudah cukup, Nadia sudah memantapkan hatinya untuk bercerai.


"Aku sudah memaafkan Mas, karena kita adalah saudara," balas Hanan.


"Aku juga akan membujuk mereka untuk menemui Mas Hanaf, tapi aku tidak bisa meminta mbak Nadia untuk mencabut gugatan itu. Mbak Nadia berhak bahagia Mas, tidak dibayang-bayangi penghianatanmu."