
"Coba mama hubungi mas Hanaf, tanya saja berapa passwordnya yang baru," jawab Hanan yang tidak ingin ibunya itu merasa cemas perihal brangkas sang ayah yang tidak bisa dibuka.
Mendengar saran Hanan, Mariam pun menganggukan kepalanya, setuju.
Hanan duduk di salah satu kursi, setia mendengarkan ibunya itu yang akan menelpon sang kakak.
Karena sebenarnya pun, ia merasa penasaran perihal ini brangkas itu.
"Tidak diangkat Han," ucap Mariam, dengan wajahnya yang mengisyaratkan kekecewaan.
"Coba hubungi mbak Nadia."
Mariam tak langsung menuruti keinginan anaknya yang kali ini. Ia nampak berpikir, lalu menggelengkan kepalanya sejenak.
Mariam begitu menghapal perangai anak sulungnya itu. Ia tak suka jika urusannya dicampuri orang lain, termasuk istrinya sendiri, Nadia.
Tak ingin hubungan Nadia dan Hanaf memanas gara-gara brangkas ini, Mariam memilih untuk bersabar sejenak.
Nanti saat ada waktu, ia akan menanyakan kembali kepada Hanaf.
"Tidak usahlah sayang, biar kapan-kapan ibu hubungi mas Hanaf lagi," jawab Mariam, setelah cukup lama terdiam. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Dimana Sena?" tanya Mariam lagi, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mandi Ma," jawab Hanan apa adanya.
Pagi itu, di ruang kerja suaminya, Mariam kembali menceritakan masa-masa sang suami hidup kepada anak bungsunya ini.
Mariam mengatakan, jika dulu mereka juga sempat hidup susah. Sampai akhirnya ayah Hanaf dan Hanan itu bisa mendirikan ExstraFood.
"Dulu, ExstraFood itu tidak sebesar sekarang. Hanya sebuah pabrik makanan rumahan," jelas Mariam, lalu tersenyum kala mengingat masa-masa itu.
"Mama hanya berharap satu hal Han, jika suatu saat nanti kita kehilangan ExstraFood, kita janganlah terpuruk. Karena itu semua hanya titipan," timpal Mariam lagi.
Itu juga adalah kata-kata yang selalu diucapkam suaminya.
Mendengar itu, Hanan pun menganggukkan kepalanya patuh.
"Aku kembali ke kamar dulu ya Ma, sepertinya Sena sudah mandinya," ucap Hanan setelah sang ibu selesai bercerita.
"Kenapa memangnya? kamu mau pakaikan Sena baju?" ledek Mariam, pada sang anak yang baru menikah ini.
Hanan tak menjawab apapun, hanya mengerlingkan matanya sebagai jawaban.
Melihat tingkah sang anak, Mariam hanya mampu terkekeh.
Dengan langkah cepat, Hanan kembali ke kamarnya sendiri.
Dan benar saja seperti dugaannya, sang istri baru saja selesai mandi dan kini sedang berdiri didela lemari pakaian.
Berniat memilih baju ganti untuknya.
"Jangan pakai baju dulu, sini ku pijat tubuhmu," ucap Hanan, seraya menarik istri kecilnya itu kembali ke ranjang.
Lalu membaringkan sensennya disana dengan hanya menggunakan handuk.
Mencoba percaya jika suaminya akan memberi pijatan. Kalah boleh jujur, Sena memang membutuhkan sentuhan kuat itu.
Setidaknya untuk mengembalikan kebugaran tubuhnya setelah semalam melayani sang suami.
"Aw!" Sena meringis, kala sang suami mulai memijat kakinya.
Hanan juga menambahkan minyak kayu putih disana, hingga terasa hangat.
Pijatan itu naik, hingga ke paha. Masuk ke sela-sela handuk yang dikenakan Sena.
Pelan, Sena terkekeh, "Mas, geli," ucapnya jujur.
Bukannya berhenti, Hanan malah menaikkan tangannya hingga lebih dalam. Masuk dan menyentuh dua gundukan bokong sang istri.
"Mas!" pekik Sena, kesal.
Dan Hanan terkekeh, nakal.
"Pinggangmu juga harus dipijat sayang, seperti ini, enak kan?" tanya Hanan setelah kekehannya mereda, kini pun ia meminat pinggang kecil sang istri hingga membuat Sena merasa keenakan.
"Iya sayang, enak," jujur Sena.
"Lepas handukmu, pasti rasanya akan lebih enak."
Tanpa curiga dan banyak perdebatan, Sena pun membuka handuknya hingga menampilkan tubuh polos tak tertutup apapun, tengkurap dengan begitu indahnya.
"Enak kan?" tanya Hanan lagi, dengan sedikit menambah kekuatan saat memijat pinggang itu.
"Iya sayang, enak," jawab Sena lagi, jujur.
Sesaat, Hanan memang menjadi tukang pijat dadakan. Namun lambat laun, ia menjadi tukang pijat mesum.
Meminta istrinya untuk berbaring dan beralasan memijat dada, Hanan malah lama-lama memasukkan jarinya di bawah sana.
Hingga berhasil membawa keluar cairan hangat. Sementara Sena, menggelinjang denga tubuhnya yang seperti cacing kepanasan.
"Enak kan?"
"Jahat!" kesal Sena, lalu melempar wajah suaminya itu dengan bantal.
Hanan terkekeh, lalu menindih sang istri dan mulai menyatukan diri.
Inti yang basah itu, membuat Sensennya tak merasa kesakitan meski berulang kali ia memasuki dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai haii, Sensen sudah kembali 😍😍😍
apa masih ada yang inget alurnya? 🤣
Maaf ya kelamaan, soalnya baru kmren lulus kontrak 🙏