
“Maafkan saya Pak,” pinta Roy penuh permohonan.
Sementara Hanan hanya berdiri dengan angkuhnya, ia bahkan tak peduli saat pria paruh baya ini bersujud memegang kedua kakinya.
Bagas pun sama, ia masih setia berdiam diri disamping sang tuan.
Sementara Yoana, ia sendiri yang merasa iba. Sebagai seorang wanita, perasaannya lebih sensitif.
“Percuma meminta maaf, sebaiknya sekarang anda jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, surat wasiat yang anda berikan itu palsu kan?” tanya Yoana, yang tak ingin berlama-lama melihat adegan seperti ini.
Ia ingin masalah sang Tuan bisa segera diselesaikan, tanpa ada banyak drama.
Bagas langsung menarik tubuh Roy Hutomo, pengacara yang tengah bersujud itu agar segera bangkit dan menjelaskan semuanya dengan rinci.
Merasa kakinya bebas dari benalu, Hanan segera duduk di salah satu sofa di kamar hotel nomor 3021 itu.
Sementara yang lainaya masih setia berdiri.
“benar pak, surat wasiat itu palsu. Yang asli disimpan oleh pak hanaf, dia sengaja menyimpan surat waisat itu, karena disana tertulis jika dia bisa mendapatkan semua harta warisan jika anda sudah tidak ada lagi,” jelas Roy apa adanya dan mendengar itu Hanan berdecih.
Lain dengan bagas dan Yoana yang kedua netranya langsung membola. Itu artinya untuk mendapatkan semua harta warisan sang ayah, Hanaf harus menunggu Hanan mati.
Sungguh kejam sekali, seolah melupakan jika mereka adalah saudara kandung, satu darah mengalir di tubuh keduanya.
Tak sampai disana, Roy juga menjelaskan alasan dia kenapa sampai bisa menuruti semua keingan Hanaf itu. Anak gadis satu-satunya, yang bernama Seline menjadi tawanan Hanaf kala itu, dan Hanaf berjanji akan melepaskan Seline jika dia menuruti semua keingan Hanaf.
Saat itu Roy tidak punya pilihan apapun, akhirnya ia menghianati tuanya sendiri.
Selama di pengasingan, Hanaf terus megirimkan uang.
Hanaf juga mengancam jika kini mereka adalah satu sekutu, jika Roy membonglar semuanya, maka ia juga akan hancur.
Namun setelah Yoana dan Bagas berhasil menemukannya, kini Roy tidak peduli lagi pada kehidupannya, asalkan semua keluarganya mendapatkan jaminan selamat, maka ia siap untuk hancur bersama Hanaf sekaligus.
Riska yang menjadi pengawal bayangan untuk melindungi keluarga Roy saat ini.
“Aku tidak butuh semua kata-kata manismu itu, aku hanya butuh bukti. Bukti nyata bahwa kamu bersedia hancur bersama Hanaf sekaligus,” jawab hanan, dengan suara yang kembali dingin. Ia bahkan menatap lurus tak sudi untuk sedikitpun menatap Roy.
“Baik Pak, saat ini juga saya akan menyerahkan diri ke polisi,” jawab Roy, patuh. Ia memang sudah memantapkan hatinya untuk melakukan ini. Ia tak ingin, seumur hidupnya merasa bersalah pada mendiang sang
Tuan.
Tanpa banyak bicara lagi, Hanan segera bangkit dari sana, lalu keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kali ini Yoana yang ikut bersama Hanan, sementara Bagas yang tinggal bersama Roy.
Bagas lah yang akan menyerahkan Roy ke kantor polisi.
“Apa semua bukti sudah anda bawa?” tanya Bagas pada pengacara paruh baya itu.
“Sudah pak Bagas, semua sudah saya siapkan didalam tas itu.”
Tak ingin kecolongan, Bagas pun memeriksa terlebih dulu bukti yang diucapkan oleh Roy. Membaca, memeriksanya satu per satu.
Tak hanya bukti percakapan dan bukti transfer uang, di dalam sana juga ada foto bukti Hanaf pernah membekap Seline dan melakukan sedikit pelecehan.
Bagas mengambil foto itu dan menghembuskan napasnya pelan.
Hanan, sudah berulang kali mengatakan padanya, jika ia hanya ingin menghancurkan Hanaf seorang diri, tanpa melibatkan sang kakak ipar, Hanan ingin Hanaf hancur melalui kecurangannya di perusahaan, dan bukan tentang para wanita.
Mengingat itu, Bagas pun menyingkirkan foto pelecehan Hanaf.
“ini biar ku simpan, jangan katakan papun tentang kebejatan Hanaf . Pak Hanan tidak ingin menyakiti ibu Nadia dan kedua keponakannya.”
Mendengar itu, Roy menganggukan kepalanya, patuh.
Dan tak mengulur-ngulur watu lagi, keduanya segera menuju kantor plolisi.