MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 72 - Itu Adalah Aku



Hari ini, masih 2 hari Mariam pergi ke Bandung, itu artinya besok baru ia akan kembali ke Jakarta.


Hanan, Bagas dan Yoana masih sibuk mengurus perusahaan dan juga kasus Hanaf.


Untunglah ada Felli di rumah itu hingga Sena tak merasa sendiri.


Setiap hari, selama pergi Mariam juga selalu menghubungi Sena. Ingin anak menantunya yang satu itu tetap memperhatikan kesehatan.


"Kata mas Hanan, mungkin dia butuh waktu satu bulan untuk bisa bikin perusahaan normal seperti biasanya," jelas Sena, pada sang sepupu.


Sena sedang menggendong Noah, sementara Felli sedang memotong kukunya yang mulai panjang.


Kini mereka sedang berada di taman belakang rumah, didekat kolam ikan koi milik Mariam.


"Iya, semenjak ada kasus ini, aku belum pernah bertemu dengan mas Bagas, bahkan memberi mengurim pesan padaku saja tidak," keluh Felli, ia menatap Sena sekilas dengan tatapan sendu, lalu kembali menunduk dan memotong kuku kukunya.


"Pak Bagas pasti lebih sibuk dari mas Hanan," jelas Sena dan Felli pun menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.


Dari pagi hingga malam, Sena dan Felli terus menghabiskan waktu bersama.


Bahkan sebelum Hanan pulang, Sena ikut tidur di kamar Noah pula.


"Nanti, saat Noah sudah tumbuh semakin besar apa kamu akan memberi tahu dia siapa ibu kandungny?" tanya Felli, kini Noah sudah tertelap, sementara ia dan Sena duduk di sofa dekat ranjang Noah, memperhatikan bayi itu.


"Kalau aku sih iya, tapi nggak tau mas Hanan," jawab Sena apa adanya.


Bagi Sena, baik Noah ataupun Lora keduanya berhak tahu satu sama lain. Karena mereka memiliki ikatan yang tak main-main, ikatan darah antara ibu dan anak.


Tok tok tok


"Mas Hanan," ucap Sena langsung ketika ia mendengar suara pintu kamar yang diketuk.


Sena lantas segara bangkit dan membuka pintu.


Dan benar saja, Hanan berdiri disana dengan wajahnya yang lelah.


"Mas," panggil Sena, hingga membuat Hanan tersenyum kecil.


Sebelum kembali ke kamar mereka sendiri, Hanan lebih dulu melihat anak laki-lakinya itu. Ia sungguh berasa tenang, kala melihat Noah yang tertidur pulas.


Puas memandangi Noah, Hanan pun mengajak sang istri untuk kembali ke kamar mereka.


Setelah Sena dan Hanan pergi, Felli pun hendak menutup pintu kamarnya, namun urung kala ada seseorang yang tiba-tiba masuk.


Bagas, ada disana.


Felli yang terkejut nyaris berteriak, namun dengam cepat Bagas pun menutup mulut kekasihnya itu menggunakan sebuah ciuman.


"Mas disini?" tanya Felli setelah ciuman keduanya terlepas.


Bagas hanya mengangguk lalu menutup pintu itu dan menguncinya rapat.


Menarik sang kekasih hingga duduk disisi ranjang.


"Malam ini aku menginap disini," ucap Bagas apa adanya, sebenarnya Hanan meminta Bagas untuk tidur di kamar tamu di lantai 1.


Namun tak ingin hilang kesempatan, ia pun langsung naik menuju kamar Felli, setelah memastikan Tuan dan Nyonyanya itu keluar dari dalam kamar ini.


"Tidur disini? disini? di kamar ini?" tanya Felli mendesis, tak ingin keterkejutannya menganggu tidur noah.


Dilihatnya Bagas menganggukkan kepalanya kecil sebagai jawaban.


Dan..


Deg!


Seketika, jantung Felli seolah berhenti berdetak sepersekian detik.


Ia tak tahu harus bahagia atau bagaimana. Disatu sisi iapun merindukan kekasihnya itu, disatu sisi Felli takut Bagas akan meminta ini dan itu hingga akhirnya ia tak bisa menolak dan Bagas akhirnya akan tahu semuanya.


Tahu, jika ia sudah tidak perawan. Pernah disetubuhi oleh pria lain.


Melihat wajah pias Felli, Bagas pun langsung mendorong tubuh kekasihnya itu hingga terbaring diatas ranjang.


Tanpa segan pun Bagas pun ikut baik dan tidur disebelah sang kekasih.


Menarik pinggang Felli dan memeluknya erat.


"Mas," lirih Felli saat merasakan hembusan hangat Bagas menyapu tengkuknya.


"Tidurlah, jika kamu hanya tidur dan tidak banyak bergerak aku juga hanya akan tidur," balas Bagas, matanya sudah terpejam. Namun ia menyempatkan diri untuk mencium sekilas tengkuk Felli itu.


Sebagai wanita yang pernah disentuh, Felli pun masih teringat bagaimana rasa nikmat itu.


Hingga hanya dicium seperti ini saja sudah berhasil membuatnya melenguh.


Namun sekuat tenaga Felli tahan agar tidak terpancing, meskipun dibawah sana sudah terasa berdenyut.


Jam 12 malam Noah terbangun, dan Felli pun ikut bangun pula.


Mengganti popok bayi itu dan memberikannya susu.


Setelah Noah kembali tidur, Felli tidur lagi juga. Kini, ia memberi jarak guling diantara dirinya dan Bagas.


Jam 3 dini hari, Noah kembali bangun dan Felli pum ikut membuka mata. Namun alangkah terkejutnya dia ketika bangun ternyata sudah berada di pelukan Bagas lagi.


Pelan-pelan Felli turun dan kembali mengurus Noah dengan sayang.


Ia bahkan sedikit menimang bayi ini agar segera terlelap.


Dan tak butuh waktu lama, Noah kembali melepas dotnya dan tertidur. Felli, lalu kembali menidurkannya didalam box.


Dan kembali tidur ketika dirasa Noah sudah pulas.


"Sayang," panggil Bagas dengan suaranya yang serak. Tiap Felli dan Noah bangun, sebenarnya ia juga bangun.


hanya pura-pura tidur karena tak ingin mengganggu Felli.


"Mas bangum toh?" tanya Felli pula, ia naik ke atas ranjang dan mulai tidur juga.


Dan Bagas langsung mengikis jarak dan memeluk tubuh kekasihnya erat.


"Noah sudah minum susunya?" tanya Bagas dan Felli menganggukkan kepala.


"Sekarang giliranku yang minum susu."


Kedua netra Felli langsung membola.


Bahkan tanpa aba-aba, Bagas langsung menindih tubuhnya dan melabuhkan sebuah ciuman memabukkam dibibir ranum Felli. Ciuman yang terus turun hingga sampai dikedua benda sintal itu.


Bagas membuka penutupnya hingga menyembul sempurna. Dan melahapnya tanpa ampun hingga membuat Felli mencengkram erat kain sprei ranjang itu.


"Mas," lenguh Felli, selalu diberi sentuhan seperti ini, membuat iapun tak bisa menahan diri.


Apalagi saat sang kekasih mulai memainkan beberapa jari diintinya yang sudah basah.


Felli, akhirnya menyerah. Ia bahkan membuka kakinya lebar, ingin segera dimasuki dengan sesuatu yang lebih besar.


Dan entah kenapa, tiba-tiba air mata Felli jatuh, ketika kedua inti itu sudah menyatu dengan sempurna.


Bagas tak langsung bergerak. Ia lebih dulu menghapur air mata kekasihnya itu dan menciumi kedua netra Felli.


"Kamu ingat pria bertopeng itu? itu adalah aku," bisik Bagas, tepat ditelinga Felli hingga membuat kedua netra gadis ini membola.


Dulu, Bagas melihat Felli yang menunggu diluar Sena yang masuk ke dalam apartemen bosnya.


Sejak saat itu Bagas sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia mulai meminta seseorang untuk menyelisiki Felli. Dan alangkah terkejutnya Bagas, jika Felli juga akan memberikan keperawanannya pada pria hidung belang untuk mendapatkan sejumlah uang.


Sama seperti Sena.


Tak terima jika wanita incarannya dengan mudah disentuh orang lain.


Bagas pun memanipulasi semuanya.


Menggantikan posisi pria hidung belang itu untuk dilayani oleh Felli. Dan semenjak malam itu, Bagas sudah menjadikan Felli sebagai kekasihnya.


Tapi si wanita, tak menyadari itu.


Dan diantara keterkejutan Felli dan ketidaktahuannya, Bagas mulai menggerakkan tubuh bawahnya. Naik turun degan tempo yang pas.


Awalnya terasa sakit, namun lambat laun Felli pun mendesahkan suaranya pelan. Mulai menggerakkan pinggulnya meski berada dibawah kungkungan kekasihnya.


Bagas tersenyum dan makin menghentak kekasihnya kuat-kuat.


Penyatuan dulu, setelah ini baru penjelasan.