
Setelah Mariam pulang dari Bandung, Hanan kembali menemui ibunya itu.
Kembali membicarakan tentang Hanaf dan juga memintanya untuk mengunjungi sang kakak.
Tapi saat itu, lagi-lagi Mariam menolak. Ia tetep kukuh pada pendiriannya untuk tidak menemui sang anak.
Bukan hanya tentang rasa kecewa, namun untuk menghargai sang menantu yang sudah sangat disayanginya, Nadia.
Hanan, akhirnya tak bisa membujuk lagi.
Awalnya, Hanan merasa jika ia akan sangat senang ketika memasukkan sang kakak ke dalam penjara. Namun saat melihat Hanaf yang tidak melakukan perlawanan apapun, bahkan terkesan pasrah dan menerima semuanya membuat Hanan iba.
Namun meski begitu, Hanan tak berniat untuk membantu sang kakak. Untuk semua kesalahannya itu, Hanaf memang harus mendapatkan hukuman yang setimpal.
Namun dihatinya, Hanan sudah memaafkan sang kakak.
Persidangan kasus Hanaf berjalan lancar, tak ada yang mempersulit dan semua bukti sudah terkmpul.
Tak butuh waktu lama, kasus itu langsung mendapatkan putusan.
15 tahun mendekam di dalam penjara adalah waktu yang Hanaf butuhkan untuk bisa kembali bebas.
Lagi-lagi Hanaf tak menolak, ia menerima itu semua dengan ihklas.
Sakit hatinya bukan tentang putusan sidang kasusnya sendiri, melainkan putusan sidang cerainya nanti.
Nadia tetap bertekad akan menceraikan Hanaf meski berulang kali Hanaf menolaknya, membuat sidang itu berjalan pelik.
"Aku tidak bisa Han, aky tidak mau berpisah dengan Nadia. Aku mohon Han, tolong bantu aku untuk masalah ini," pinta Hanaf pada sang adik, kata-kata inilah yang ia ucapkan setelah ia ditetapkan menjadi tahanan selama 15 tahun.
Hanan bergeming, jadi dilema.
"Hanan," panggil Hanaf sekali lagi, waktunya untuk bicara tak banyak tapi Hanan malah hanya diam saja.
"Maaf Mas, untuk masalah mbak Nadia aku tidak bisa bantu, itu sudah keputusan mbak Nadia," jawab Hanan akhirnya, hingga membuat air mata yang sedari tadi menggenang di mata Hanaf akhirnya jatuh juga.
Namun dengan cepat pula, Hanaf menghapus air mata itu dengan kedua tangannya.
"Baiklah," balas Hanaf akhirnya, dengan keputus asaan yang begitu dalam.
Hanan bergeming, merasakan juga dadanya yang sesak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu.
Hari-hari gelap itu kini berangsur kembali cerah. Mariam sudah bisa kembali tersenyum, bahkan ikut antusias ketika menyambut pernikahan Felli dan Bagas.
Bahkan iapun ingin ikut mengantar asisten anaknya itu untuk kembali ke Palembang dan mempersuntung Felli.
Sementara Hanan, kalau bisa ia tak ingin ikut. Karena kini ia sudah tak punya helikopter pribadi lagi. Helikopter itu sudah terjual, saat ia belum mendapatkan bantuan dari Adam Malik untuk masalah perusahaannya.
Hanya membayangkan naik perahu ketek, sudah membuatnya merasa mual.
"Kamu mual itu bukan karena mau naik perahu ketek Han, tapi karena Sena hamil," jelas Mariam.
Ya, 2 minggu lalu Sena dinyatakan hamil, dan semenjak itu Hanan sering sekali mengeluh mual.
Sedikit-sedikit mual.
"Mana mungkin seperti itu Ma, yang hamil kan Sensenku, masa aku yang mual," jawab Hanan tidak terima.
"Pokoknya aku tidak mau ikut," timpal Hanan lagi, mengambil keputusan.
"Ya sudah, Mas di rumah saja sendiri. Aku akan pulang dan bertemu dengan mamak bapak." Sena yang menjawab.
Membuat Hanan langsung meronta-ronta, takut tidak bisa celap celup jika tak ada istrinya disini. Sedangkan rasa mual itu hanya bisa reda ketika ia menyentubuhi istrinya. Yang bisa Hanan lakukan hanya satu, mengikuti kemanapun Sensen pergi, agar hidupnya senantiasa aman damai.
"Ya sudah lah, aku ikut!" final Hanan, dengan ketus.
Akhirnya, Sena mulai memasukkan baju sang suami ke dalam tas, dengan senyumnya dan senyum Mariam yang mengembang.
Saat ini, Mariam memang sedang berada didalam kamar anaknya, menggendong Noah dan memberi kesempatan Sena untuk berkemas.
Besok mereka akan ke Palembang, sedangkan Felli sudah lebih dulu pulang kesana.