
Hari ini keluarga Hanan dan Bagas akan pergi ke Palembang. Tujuannya hanya satu, mempersunting Felli untuk Bagas.
Subuh tadi Hanan sudah mengisi banyak-banyak amunisi, mencumbui istrinya sampai puas. Sampai mual itu tidak berani menghampiri dirinya.
Seperti hidup kembali, kini tubuh Hanan terasa segar bugar.
Tapi lain dengan Sena yang tampal lemas kehabisan tenaga. Untunglah, kali ini Nadia datang dan ikut membantu menjaga baby Noah.
Mama Mariam memaksa Nadia untuk ikut, sekalian liburan kata mama saat itu. Aksa dan Axel juga di boyong oleh mereka.
Benar-benar sebuah perayaan yang membuat semua keluarga berkumpul.
Bersama-sama kedua keluarga ini menuju Bandara internasional Soekarno-Hatta. Menempuh perjalanan udara selama 1 jam 5 menit hingga akhirnya sampai di kota Palembang.
Mereka semua lantas segera menuju mobil jemputan yang sudah terparkir dengan rapi. Totalnya ada 7 mobil. 2 mobil untuk keluarga Hanan dan 4 lainnya untuk keluarga Bagas dan 1 kosong untuk ditinggal di Palembang nanti, untuk Bagas dan Felli pulang ke Jakarta berdua.
Melewati jalur yang berbeda seperti saat dulu membuat Hanan mengerutkan keningnya bingung.
"Bukannya kita mau ke rumah Felli dan Sena Pak? kenapa lewat sini?" tanya Hanan pada sang supir.
Sementara Sena hanya mengulum senyumnya seraya asik memberi susu pada baby Noah.
"Memang menuju kesana Pak dan memang lewat sini jalannya," jawab si supir apa adanya, membuat tawa Sena akhirnya keluar juga.
Tawa yang ia tahan dan hanya jadi kekehan kecil, karena tidak ingin menganggu baby Noah.
Mereka semua memang menggunakan jalur yang lain, jika dulu menggunakan speetboad dan lewat sungi musi. Kini mereka memutuskan untuk menggunakan mobil dan melewati jalan pinggiran sungai musi.
Lebih lama memang, tapi lebih aman karena kini mereka membawa baby Noah juga.
"Kenapa tidak bilang dari kemarin," jawab Hanan dengan mengeram kesal.
Tau begini ia tidak akan sampai kembali teringat tentang traumanya naik speetboad.
"Hih!" kesal Hanan, ia menjitak pelan kepala istrinya itu dan Sena makin terkekeh dibuatnya.
Beberapa kali mereka berhenti untuk beristirahat. Sebisa mungkin membuat baby Noah agar tetap merasa nyaman. Bahkan Sena dan Nadia juga saling bergantian menjaga baby Noah.
Sedangkan di mobil lain, Bagas merasa perjalanan mereka begitu lama. Lambat seperti pasukan keong yang melewati pinggiran sungai musi.
Bagas sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah pujaan hatu, meluapkan rasa rindunya yang sudah membuncah.
"Bagas, daripada gelisah begitu mending kamu hapalin ijab kabul, biar besok ijabmu lancar," ucap Ibu Fenni, ibunya Bagas.
"Sudah hapal Buk, sudah di luar kepala," balas Bagas jumawa.
Dan ayahnya yang bernama pak Anwar hanya geleng-geleng kepala. Sedari dulu disuruh menikah banyak sekali alasan. Sekarang malah buru-buru ingin menikahi gadis pujaannya.
"Pak kita duluan saja, biar rombongan pak Hanan di belakang," titah Bagas pada sang supir.
Dan si supir hanya bisa menurut seraya menambah sedikit kecepatan. Bukan apa-apa, jalanan disini lumayan banyak yang berlubang, jadi tetap saja mereka tidak bisa dulu-duluan.
Dan Bagas mengeram kesal.
"Sabar Gas, nanti juga sampai," ucap ibu Fenni.