MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR 41 - Meminta Izin Untuk Menikah



Tercenung Hanan dibuatnya, ucapan sang ibu berhasil menusuk hatinya. Selama ini, ia memang tidak memperlakukan Sena dengan benar.


Mencintai dengan cara yang salah.


Dan kini saat ingin meminang, ia nyaris melakukan kesalahan pula.


"Terima kasih, Ma," jawab Hanan patuh.


"Mau mama tenami?" tawar Mariam seraya mengulum senyumnya, berhadapan dengan Hanan benar-benar lucu, dia sudah duda tapi tidak tahu caranya melamar dengan benar. Berbeda sekali dengan zaman dulu, setiap pria yang ingin mempersunting kekasihnya harus melewati orang tuanya dulu. Tidak seperti sekarang, seenak udelnya sendiri. Seperti anaknya, Hanan.


Mendengar tawaran sang ibu, senyum Hanan langsung terbit, ia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan bersimpuh dihadapan sang ibu.


"Mau Ma," jawabnya dengan begitu semangat.


"Bantu aku Ma, untuk mwndapatkan restu orang tuanya. Aku benar-benar ingin menikahi Sena. Tapi jika kedua orang tuanya menolak bagaimana?" tanya Hanan yang kembali sendu.


Ya Allah, melihat itu Mariam ingin tertawa terbahak. Anaknya seperti masih usia 20 tahunan, padahal kini nyaris menginjak 40, bahkan sudah memiliki anak.


"Kalau orang tuanya menolak, tunjukkan keseriusanmu," jawab Mariam dengan mengulum senyum.


Dan Hanan hanya bergeming.


Akhirnya setelah bersepakat panjang kali lebar, Hanan dan Mariam memutuskan untuk besok pergi ke Palembang. Tak menggunakan helikopter, namun melalui jalan darat kayaknya orang biasa.


Hal pertama yang diajarkan Mariam adalah, jangan tunjukkan kekuasaamu ketika berhadapan dengan orang tua, merendahlah serendah mungkin.


Dan Hanan menurut tanpa banyak berdebat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pulang dari rumah Mariam, ia langsung menghubungi Sena.


Kata Mariam, kabarilah Sena terlebih dahulu tentang kedatangan mereka besok. Jadi Sena bisa memberi tahu kedua orang tuanya, hingga tak menciptakan huru hara disana.


Awalnya Hanan tak setuju, karena sebenarnya ia ingin memberikan kejutan.


Tapi saat Mariam kembali berceramah, akhirnya ia menurut.


Duduk disisi boxs bayi Noah, panggilan Hanan pada sang kekasih terhubung. Hanan berbicara dengan pelan, agar tak nembangunkan sang anak yang sedang terlelap.


"Katakan pada mamak dan bapak, besok aku dan mama akan datang kesana, melamarmu," jelas Hanan.


Mendengar itu, jantung Sena berdebar, debaran yang membuat kedua pipinya mengeluarkan semburat merah.


Sena tersenyum seraya menggigit bibir bawahnya dengan pelan.


"Benarkah?" tanyanya tidak percaya.


Sena memang sudah mengetahui tentang perceraian Hanan dengan istrinya, namun ia pikir Hanan masih butuh waktu untuk mengobati luka perceraian itu.


Namun ternyata dugaannya salah, belum lewat seminggu Hanan sudah mengatakan kesungguhannya untuk menikahi dirinya.


"Benar sayang, kamu tidak percaya padaku? ingin mama yang mengatakannya agar kamu percaya?" tanya Hanan yang ikut tersenyum pula, ia yakin jika diujung sana, Sena pun sedang mengulum senyumnya.


"Terima kasih," jawab Sena yang sudah kehabisan kata-kata, hanya ucapan itulah yang bisa ia ucapkan untuk menggambarkan rasa bahagianya. Rasa bersyukur, karena Hanan berniat menepati janji.


"Aku yang harusnya berterima kasih, sampai sekarang kamu masih setia menungguku," jawab Hanan dengan suaranya yang begitu lembut. Suara yang membuat Sena semakin merasa dicintai.


"Aku mencintaimu sayang," balas Sena.


"Aku lebih mencintaimu, Sensen."


Terkekeh pelan, ketika keduanya mendengar sebutan itu. Seolah mengingat pertemuan kedua mereka di kantor kala itu.


Keduanya terus berbincang, membicarakan banyak hal. Hingga Sena mengatakan jika sebaiknya besok Hanan dan Mariam menginap saja di rumahnya.


"Menginap?" tanya Hanan tak percaya, entah kenapa kata-kata biasa itu jadi terdengar vulgarr ditelinganya, seolah Sena mengajaknya untuk ... ya seperti itulah!


"Iya sayang, kasihan mama kalau harus segera kembali ke Jakarta. Pak Bagas dengan ibu Yoana juga menginap saja disini," pinta Sena lagi dengan sungguh-sungguh.


"Aku sih mau saja menginap sayang, tapi aku takut khilaf."


"Sayang!!" teriak Sena kesal, disaat sedang bicara serius begini, sempat-sempatnya membicarakan tentang khilaf.


Terlebih mereka sudah lama sekali tidak bertemu, membicarakan tentang itu membuat sesuatu yang dibawah sana berkedut tidak jelas.


"Iya iya, maaf. Aku sudah berjanji kan, aku tidak akan menyentuhmu lagi sampai kita halal."


"Hem," balas Sena cepat.


Dan sudah disepakatilah jika besok Hanan dan yang lainnya akan menginap pula di Palembang, tapi tidak tidur di rumah Sena. Mereka semua akan menginap di rumah pak RT. Rumah yang memang menyediakan kamar menginap untuk para tamu yang datang ke desa mereka.


Karena masih menerapkan pasar apung, kadang banyak pula warga kota yang kesini untuk berpariwisata.


Dan kepala RT lah yang menyambut kedatangan mereka.


Cukup lama mereka saling bertukar kabar, hingga saat jam sembilan malam, barulah mereka mengakhiri panggilannya.


Setelah telepon itu terputus, Sena keluar dari dalam kamar. Menemui sang ibu dan ayah yang sedang menonton televisi di ruang keluarga mereka, ruangan kecil yang hanya ada karpet dan lemari TV.


"Mak," sapa Sena seraya ikut duduk disana.


"Kamu belum tidur? Mamak kira sudah tidur," jawab Sarni, ia sedang memijat punggung sang suami, Rudi. Dan Sena lansung bergerak memijat kaki sang ayah.


"Belum. Mak, Bapak, sebenarnya ada yang mau Sena sampaikan," ucap Sena dengan begitu gugup, entah kenapa rasanya ia begitu malu, meski berbicara dengan kedua orang tuanya sendiri.


"Apa Nak?" tanya Rudi perhatian, penyakitnya sudah berangsur membaik, apalagi setelah Sena pulang. Seolah anaknya itu adalah obat penawar dari semua rasa sakitnya.


Dengan kegugupannya itu, Sena mulai menjawab pertanyaan sang ayah. Menceritakan semua tentang rencana kedatangan Hanan dan mamanya kesini besok, untuk melamar dirinya.


Sena juga menceritakan jika ia dan Hanan bertemu di perusahaan ExstraFood, saat Sena bekerja di Jakarta dulu.


Bahkan dengan memberanikan diri, Sena mengatakan jika ia dan Hanan saling mencintai.


Tak sampai disana, Sena bahkan dengan terang-terangan mengatakan jika Hanan sudah duda dan memiliki 1 anak yang masih bayi.


Awalnya begitu yakin untuk menyetujui Sena, namun saat mengetahui status sang pria, Sarni dan Rudi langsung nampak ragu. Merasa Sena akan kesulitan kelak.


"Apa kamu yakin Nak akan menikah dengan pria itu? jika kamu sudah menikah dengannya, maka anak itu akan menjadi tanggung jawabmu." Rudi menanggapi setelah Sena selesai bercerita.


"Insya Allah Pak, Insya Allah Sena siap. Sena sudah menerima semua yang ada di Mas Hanan. Dan mas Hanan juga sudah menerima semua kekurangan Sena," jawab Sena dengab yakin. Ia malah bersyukur jika diberi kesempatan untuk merawat Noah.


Noah adalah bayi yang malang bagi Sena, hingga ia ingin memberikan curahan kasih sayang yang tanpa henti pada bayi itu.


"Semua keputusan ada ditanganmu Nak, ini adalah hidupmu. Mamak dan Bapak hanya bisa mendukung, selama ini kamu sudah bekerja keras untuk keluarga kita, sudah saatnya kamu memikirkan masa depanmu sendiri," ucap Rudi yang mulai sendu.


Antara rela dan tidak, namun memang harus seoerti inilah jalannya. Anaknya kelak akan menikah dan ikut sang suami.


"Benar kata Bapak Nak, Mamak dan Bapak hanya bisa mendukung dan mendoakanmu, semoga kelak pernikahan kalian akan bahagia," Sarni menimpali.


Sementara Sena sudah menunduk dan menangis, entah kenapa ia merasa akan ada perpisahan diantara mereka.


Melihat anaknya yang haru, Sarni pun mendekati Sena dan memeluk ya erat.


"Sudah, jangan menangis. Mamak dan Bapak akan selalu ada untuk kamu Nak, meskipun kamu sudah menikah nanti," ucap Sarni yang malah membuat tangis Sena semakin pecah.


Malam itu, mereka terus berbincang hingga larut malam. Hingga Sena menangis berulang ketika Sarni membicarakan masa kecilnya.


Kini sang anak sudah dewasa, bahkan sudah meminta izin untuk menikah.