
Akhirnya hari itu mereka sampai di Jakarta dengan selamat. Dan esok paginya, Nadia serta anak-anaknya langsung kembali ke Bandung. Tempat dimana mereka tinggal, bukan lagi di rumah yang dulu ditempati bersama Hanaf.
Hari berlalu begitu cepat. Dan secepat itu pula rasa dalam diri Saka, menggelora untuk janda beranak dua bernama Nadia.
Tidak pernah absen, lelaki satu ini selalu menghubungi Nadia, berbasa-basi dan sekedar bertanya apa kegiatan wanita itu.
Sama halnya dengan Saka, Nadia yang merasa nyaman dengan Saka, tidak pernah menolak panggilan itu. Karena bersama Saka, Nadia bisa kembali tertawa, tawa yang sempat meredup, seiring terbongkarnya aib sang suami, Hanaf.
Namun, kini tidak lagi. Ada Saka yang membawa keceriaan dalam hidupnya.
Seperti saat ini, Nadia tengah memasak. Dan sepagi ini, Saka sudah menghubunginya terlebih dahulu.
Nadia meloud speaker panggilannya. Sedangkan dia bolak-balik untuk mengambil bumbu, dan beberapa bahan yang akan dia racik menjadi sarapan pagi untuk anak-anaknya.
"Mbak Nanad, masak apa?" tanya Saka diseberang sana. Dia masih bergulung di dalam selimut, sambil memeluk guling.
"Ayam goreng kesukaan anak-anak, Ka." Nadia memasukan ayam ke dalam bumbu, seraya menunggu minyak di wajan itu panas.
Kini, panggilan mereka terasa lebih akrab.
"Kalo aku udah jadi suami, Mbak. Nanti masakin makanan kesukaan aku juga yah. Aku suka ikan goreng." Ucap Saka manja.
Dan Nadia terkekeh kecil, merasa lucu.
"Haduh, kamu ini apaan sih?" Balas Nadia seolah acuh, padahal hatinya ikut berbunga-bunga.
"Hehe, serius lho, Mbak. Tapi kalo Mbak Nanad yang masak aku suka semua deh," mulai menggombal seperti biasa.
Dan Nadia tidak menanggapi terlalu serius, bahkan dia sesekali membalas ucapan Saka dengan cadaan. "Meskipun keasinan?"
"Semuanya aku makan, Mbak."
"Yaudah nanti aku masak keasinan terus," lagi-lagi Nadia terkekeh kecil.
"Yeh, berarti aku diterima dong jadi kandidat calon suami Mbak?"
"Jangan ngaco!"
Tak menanggapi, Nadia hanya geleng-geleng kepala dengan uluman senyum di bibirnya. Dan itu semua, tidak luput dari perhatian Aksa dan Axel yang sudah duduk di meja makan, menunggu sang ibu menyelesaikan masakannya.
Keduanya tidak melarang Nadia berhubungan dengan Saka, lelaki yang mereka panggil Om. Selagi Nadia bahagia, maka mereka pun ikut bahagia, meski keluarga mereka tidak lagi utuh seperti dulu.
"Aku matikan ya, Ka. Aku sama anak-anak mau makan." Ucap Nadia, seraya menghidangkan ayam goreng di atas meja.
"Oke deh, Mbak. Tapi inget yah, saat sidang perceraian nanti aku bakal temenin Mbak Nanad, aku bakal ke Jakarta." Ucap Saka mantap.
Nadia mengulum senyum, hatinya tiba-tiba menghangat dengan ucapan Saka. "Iya, Ka. Nanti aku kabarin lagi."
Dan setelah Nadia mengatakan itu, Saka benar-benar memutus panggilannya. Mereka sarapan bersama, meski di dalam belahan bumi yang berbeda.
*******
Sementara di Jakarta.
Felli dan Bagas juga sudah kembali ke sana. Dan Felli tetap menjadi baby sitternya Noah.
Namun, kali ini wanita itu tidak lagi menginap di rumah Sena. Melainkan setiap sore Bagas menjemput sang istri, sekalian mengantar Hanan pulang ke rumahnya.
"Sen, aku pamit yah. Mas Bagas udah di depan katanya." Pamit Felli, saat dia mendapat pesan bahwa sang suami sudah berada di halaman rumah Sena. Lelaki itu tak berniat untuk turun.
"Iya, Fel. Noah, biar aku yang jaga, dia sudah tidur kan?"
"Baru aja. Abis mandi, aku kasih susu, dia tidur." Jelas Felli sambil membereskan barang-barangnya.
Sena mengangguk, dan Felli pamit untuk pulang. Sena ingin mengantar, tetapi wanita itu menolak, dan membiarkan Sena menemani baby Noah.
"Mas Bagas," panggil Felli ceria, saat dia membuka pintu mobil suaminya.
Membuat lelaki itu mengulum senyum. Dan saat Felli sudah duduk dengan sempurna, Bagas mencondongkan wajahnya, untuk mencium bibir ranum Felli.
"Saatnya menjadi baby sitterku," ucap Bagas, lalu menancap gas.