
"Sayang, kamu mau kemana? nggak mau istirahat dulu," tanya Sena pada sang suami.
Baru saja ia selesai merapikan bajunya dan Hanan di dalam lemari. Mamak Sarni tadi sudah memerintahkan mereka untuk beristirahat, sementara baby Noah ia dan Saka yang akan menjaga.
Tapi kini Sena malah melihat suaminya yang bersiap untuk keluar dan bukannya merebahkan diri di atas ranjang.
"Aku ingin menemui kakak ipar ku," jawab Hanan, ingat tatapan tajam yang diberikan Saka tadi membuat Hanan tak ingin tinggal diam.
Hanan tidak ingin adanya Saka di rumah ini malah membuat istrinya merasa tidak nyaman. Hanan ingin memperingati Saka, bahwa kini Sena tidak sendiri lagi. Ada dia yang akan selalu melindungi Sena, termasuk dari sang kakak.
Hanan merasa ia perlu segera menyampaikan itu sebelum nanti Saka bertindak yang tidak-tidak.
"Nanti sajalah Mas temui abang Saka, sekarang kita tidur dulu sebentar, yuk," tawar Sena, ia tahu kini Hanan sedang capek, bicara dengan Saka dalam keadaan lelah seperti ini pasti hasilnya tidak akan baik.
"Sayang tidurlah, aku hanya sebentar saja menemui kakakmu itu."
"Nanti saja, sekarang mimik cucu dulu, mau nggak?" tawar Sena seraya membusungkan dadanya, ia bahkan duduk disisi ranjang dengan melipat kedua kakinya erat.
Membuat Hanan langsung menegang seketika.
"Baiklah," jawab Hanan dengan kedua netra yang berbinar. Tidur siang bersama sang istri memang lebih penting daripada menemui Saka.
Di ranjang kecil itu, mereka berdua menciptakan suara decitan yang begitu teratur. Bahkan ******* tertahan Sena membuat Hanan makin bersemangat menghentakkan pinggulnya.
Kali ini Sena berani lebih nakal dari biasanya. Saat kedua tangan Hanan menahan tubuhnya yang menggungkung Sena, istrinya ini memainkan tangannya sendiri dikedua gundukan sintal itu. Membuat fantasi Hanan menjadi makin liar.
"Sugar baby ku sudah ahli ya," desis Hanan, diantara rasa nikmat yang ia rasa.
Dan Sena hanya menyeringai, tak mampu bicara karena denyutan pelepasan itu nyaris mendatangi dirinya.
"Mas ...."
"Tunggu sayang," balas Hanan dengan gerakan semakin cepat dan makin cepat.
Sampai akhirnya kedua lahar itu tumpah bertemu di hentakan begitu dalam. Sementara Sena tidak bisa lagi menahan suaranya. Jadi ah yang cukup keras terdengar.
Hanan terkekeh, tadi berani sekali sekarang hanya karena satu suara Sena jadi takut.
Setelah mencabut diri dan menciumi sang istri berulang, barulah Hanan keluar dan menemui Saka. Kini ia tak marah-marah lagi, pelepasan yang ia dapat bersama sang istri membuat suasana hatinya jadi berbunga-bunga.
Jika tadi niatnya ingin memperingati Saka, kini Hanan menemui sang kakak ipar berniat untuk menjalin hubungan yang baik.
Keluar dari dalam kamar, Hanan langsung berkeliling mencari keberadaan sang kakak ipar. Sampai akhirnya ia berada di ruang tamu dan melihat Saka berada di teras rumah.
Tubuhnya bergoyang ke kanan dan ke kiri berulang, mengayun-ayunkan sesuatu di lengannya.
Dan betapa terkejutnya Hanan saat melihat yang di gendong Saka adalah baby Noah.
Hatinya jadi tersentuh, tak menyangka pria yang dikiranya brengsek ternyata memiliki hati yang baik.
Hanan jadi merasa bersalah, ia lalu menghampiri Saka dan anaknya.
"Nah ini dek, bapakmu. ***-*** aja kerjaannya sama mamak mu di kamar, nih gendong!" ucap Saka langsung saat melihat Hanan menghampiri dirinya, lalu menyerahkan baby Noah pada sang ayah.
Bukan apa-apa, sebenarnya Saka takut membuat baby Noah menangis.
Dan mendengar ucapan Saka itu, Hanan terperangah sampai tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya menganga dengan kedua tangan yang menerima baby Noah.
Wah, ternyata dia benar-benar brengsek. batin Hanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bagas : Aku tau Thor aku sadar disini cuma numpang! tapi kapan aku nikah? 😭😭
Author : Besok.
Bagas : Bener ya 😻
Author : Hem.