
Tak menunggu lama, setelah ia resmi menduda. Hanan memerintahkan Yoana dan Bagas untuk segera mengurus surat-surat pernikahannya dengan Sena.
Beginilah enaknya jadi seorang pria, tak ada masa iddah. Sehari setelah bercerai, ia bisa menikahi wanita manapun.
Dengan uang dan kekuasannya, Hanan sudah bisa membawa surat-surat resmi itu untuk mempersunting Sena, 2 hari kedepan.
"Anda yakin pak, ingin ke rumah Sena menggunakan perahu ketek?" tanya Yoana, menatap tak percaya, jujur saja, ia masih trauma.
"Jangan hanya panggil Sena, panggil dia Nyonya," jawab Hanan dengan senyumnya yang lebar.
Yoana hanya mampu menggigit bibir bawahnya, salah, sudah kebiasaan sih. Bahkan ia sering sekali mendengar Tuannya memanggil Sensen, ia sempat ikut-ikut pula.
Saat ini, Yoana dan Hanan sedang membahas susunan acara pernikahannya besok. Karena itulah membahas tentang perahu ketek segala.
"Uruslah bagaimana baiknya," ucap Hanan lalu bangkit, ia hendak pulang dan mengatakan semua rencananya pada sang ibu. Perihal mempersunting Sena dan membawa gadis berdarah Palembang itu untuk kembali ke Jakarta.
Yoana pun ikut bangkit, lalu menunduk hormat dan mempersilahkan Hanan untuk pergi lebih dulu. Tinggalah Yoana seorang diri di ruangan wakil presdir.
"Hii, hanya membayangkannya saja sudah buat aku mual," gumam Yoana mengingat perahu ketek, dulu ia sempat mabuk parah ketika naik itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
20 menit perjalanan, akhirnya Hanan sampai di rumah Mariam.
Karena begitu antusias, ia hingga berlari menemui sang ibu yang sedang berada di taman belakang, tiap sore begini, Mariam selalu memberi makan ikan-ikan peliharaannya.
"Assalamualaikum, Ma," sapa Hanan lalu tanpa permisi memeluk sang ibu dari arah belakang, manja.
"Sudah tua, Manja," ledek Mariam dengan wajahhya yang datar.
Hanan melerai pelukan itu dan ikut berdiri disamping sang ibu. Mariam menoleh, melihat sang anak yang begitu nampak bahagia.
"Orang itu habis bercerai biasanya murung, gundah gulana. Tapi kamu ..." ucap Mariam menggantung.
"Tapi kalu aku, maaf maaf saja, tidak akan," balas Hanan lalu terkekeh.
Lora hanyalah masa lalu kelamnya, kini ia tak ingin mengingat-ingat itu lagi, ia hanya akan jadikan sebagai bahan candaan.
Hanan berusaha keras untuk menjadi ayah siaga, selama persidangan cerainya dengan Lora berjalan. Hanan selalu tidur di kamar Noah, ia bahkan sudah bisa membuatkan susu untuk anak kesayangannya itu.
Hanan, ingin menebus semua kesalahannya pada sang anak. Dulu ia begitu acuh, dan kini tidak akan pernah lagi terulang akan hal seperti itu.
"Noah bersama Felli dan Tia Ma, dia baik-baik saja," jawab Hanan apa adanya, bahkan demi memberikan yang terbaik, Hanan memberi dua babysister untuk sang anak, Felli dan Tia.
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Mariam lagi, selesai memberi makan ikan, Mariam lebih dulu mencuci tangannya.
Lalu duduk di salah satu gazebo bersama sang anak.
"Aku akak segera menikahi Sena Ma," jawab Hanan jujur, memang seperti itulah rencananya dekat-dekat ini.
Mariam tak langsung menjawab, ia menatap lekat anak bungsunya ini.
"Menikah?"
"Iya," jawab Hanan yakin, ia bahkan memberi tahu Mariam jika ia sudah mengurus surat-surat nikahnya dengan Sena.
Saat ia ke Palembang besok, ia bisa segera mengucapkan ijab kabul.
"Han, jangan terlalu terburu-buru Nak. Lebih baik, kamu datangi dulu rumah Sena, perkenalkan siapa kamu, apa statusmu pada kedua orang tua Sena," jawab Mariam dengan suara yang sangat lembut, mencoba memberikan pengertian.
Mariam tahu, jika selama ini Hanan sudah menunggu-nunggu, hari untuk menikahi sang gadis pujaan, Sena.
Tapi Hanan bukanlah pria lajang. Ia seorang duda beranak 1. Bahkan anaknya masih bayi.
Mungkin Sena bisa menerima, tapi bagaimana dengan kedua orang tua Sena?
Ihklaskah mereka menikahkan sang anak dengan Hanan.
Mendengar itu, Hanan meghembuskan napasnya kasar. Sialnya, hatinya pun membenarkan ucapan sang ibu.
"Datang dan kenalkan dirimu lebih dulu."