
Crash!
Satu lembar kertas jatuh dari dalam berkas yang dipegang oleh Mariam. Seketika, semua mata tertuju pada selembar kertas diatas lantai itu.
Nadia, berjongkok dan mengambilnya, karena kertas itu jatuh tak jauh dari kedua kakinya.
“Apa itu?” tanya Mariam, dan Nadia pun langsung menunjukkannya pada sang ibu mertua.
Kertas yang berbeda dari kertas surat wasiat, kertas yang dipegang Nadia lebih terlihat seperti sebuah catatan.
Hanan yang merasa penasaran pun ikut mendekat dan mengambil kertas itu.
“Biar ku baca,” ucap Hanan.
Kertas itu adalah catatan yang dibuat oleh sang ayah, ditulis menggunakan tulian tanganya sendiri.
Hanan hapal betul bagaimana tulisan sang ayah.
Dalam catatan itu, sang ayah memberi penjelasan kenapa ia tak memberikan harta pada Hanaf dan Hanan dalam jumlah sang sama. Selama ini, sang ayah sudah tahu semua kelakukan buruk anak sulungnya itu.
Dia tahu, saat Hanaf menghianati Nadia. Tak hanya satu, namun dengan beberapa wanita.
Dia tahu, saat Hanaf menggelepkan uang perusahaan. Padahal uang itu adalah hak para karyawan.
Dia tahu, jika hanaf memiliki niat buruk pada sang adik. Menjebak Hanan dan membuat hidup adiknya itu tidak tenang.
Selama ini, dia pendam sendiri rahasia besar itu. Rahasia yang membuatnya terbunuh secara perlahan.
“Apa isinya Han?” tanya Nadia pada sang adik ipar, seketika Hanan tersentak. Ketika menyadari kakak iparnya itu ada disana.
“Bu-bukan apa-apa Mbak, ini hanya catatan biasa,” jawab hanan, gugup. Jika ayahnya bia menyembunyikan semua ini, maka ia pun akan melakukan hal yang sama. Ibu dan kakak iparnya tidak perlu tahu tentang ini, sebuah rahasia yang hanya akan menimbulkan luka.
Hanan hanya ingin, Hanaf membawa kebejatannya sendiri sampai ia mati.
Melihat anaknya yang gugup tak seperti biasanya, Mariam kembali merebut kertas itu dengan paksa. Lalu kembali membacanya dengan Nadia.
Seketika, Mariam menurunkan kertas itu dan menatap sang menantu yang terlihat tergugu. Namun Nadia segera tersadar dan balik menatap sang ibu mertua, seraya mengulas tersenyum kecil.
Senyum, yang terlihat begitu getir.
Bahkan air mata Nadia jatuh saat itu juga.
Meski pun rasanya itu akan sangat mustahil.
Hal terburuk bagi seorang istri adalah saat mengetahui suaminya berhianat.
“Nad, maafkan Mama Nak,” ucap Mariam, hanya satu kalimat itulah yang bisa ia ucapkan.
Dan dilihatnya sang menantu malah menggeleng.
“Mama tidak perlu meminta maaf, aku baik-baik saja ma,” jawab Nadia lirih, ia menghapus air matanya sendiri.
“Mungkin ayah salah mengira Mbak, mungkin catatan itu salah.” Hanan, ikut buka suara.
Dan lagi-lagi dilihatnya Nadia yang menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Ayah benar Han, mas Hanaf memang sudah menghianati aku dan anak-anak kami. Aku sudah tahu itu sejak lama,” jelas Nadia, dengan tenggorokkannya yang terasa tercekak.
Nadia, sama saja seperti Hanan. Ia menutupi semuanya rapat hanya demi memiliki keluarga yang utuh.
Menyimpan semua kesedihannya seorang diri, lalu terlihat hidup bahagia didepan semua orang.
“Mbak juga tahu, dia berselingkuh dengan Lora,” lirih Nadia, hingga membuat Mariam tersentak.
Mariam bahkan sampai menutup mulutnya yang menganga menggunakan kedua tangan.
“Apa maksud kamu Nad?” tanya Mariam, tidak percaya. Ia tak menyangka, jika Hanaf akan setega itu.
“Mbak Nadia benar Ma, mas Hanaf memiliki hubungan dengan Lora, bahkan sebelum Lora menikah denganku.” Hanan yang menjawab.
Hening.
Tak ada lagi kata yang terdengar diantara mereka.
Hanya isakan tangis Mariam dan Nadia yang memenuhi ruangan itu. Bahkan mereka saling memeluk erat.
Cukup lama, hingga akhirnya tangis kedua wanita ini reda.
Mariam bahkan langsung membuat keputusan untuk semuanya. Meminta Nadia untuk bercerai dengan Hanaf dan meminta Hanan untuk mempenjarakan sang anak pertama.
Lalu menutupi semuanya, agar Axel dan Aska tak sampai tahu kebejatan sang ayah.