MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 78 - Felli dan Bagas



Pagi-pagi sekali sepasang calon pengantin ini sudah mempersiapkan diri untuk pernikahannya.


Felli bersiap di rumahnya dan Bagas di rumah pak RT.


Jam 8 nanti ijab kabul akan dilaksanakan.


Jika kemarin bagi Bagas waktu berjalan begitu lama, namun hari ini rasanya berjalan begitu cepat.


Tiba-tiba ia sudah berada di rumah Felli dan duduk di meja ijab kabul. Tiba-tiba mengucapkan kalimat sakral itu dengan begitu lancar dan menjadikan Felli sebagai istri Sahnya. Tiba-tiba hari berlalu dan berganti malam.


Lalu tiba-tiba kini ia sudah berada di kamar pengantin bersama sang istri, Felli.


Bagas tersenyum menatap istrinya yang begitu cantik. Gaun pengantin sesak itu sudah dilepas, diganti lingerie tipis yang begitu longgar.


Bahkan Bagas sangat yakin jika kedua gundukan sintal yang tak berpenyangga itu  selalu bergerak mengikuti pergerakan Felli.


Fantasi liar Bagas sudah tidak bisa dikendalikan lagi.


"Sini," pinta Bagas, ia meminta Felli untuk segera naik ke atas ranjang. Bukan berbaring namun duduk diatas pangkuannya yang sedang duduk dan bersandar di sandaran ranjang.


Dan Felli menurut, duduk disana hingga lingerienya tersingkap.


"Malam ini hujan, jadi mendesaahlah yang keras," bisik Bagas tepat ditelinga Felli, sebuah ucapan yang terdengar begitu nakal. Namun Felli pun begitu menyukainya.


Tanpa canggung-canggung keduanya saling berpagut, tidak bertemu selama seminggu lebih membuat rindu keduanya menggebu. Mereka saling berlomba, mencumbu lebih dalam.


Membuat permainan semakin panas dengan sentuhan kasar. Bahkan saking gemesnya, Bagas sampai menggigit dagu Felli.


Sementara Felli mengeluh sakit dan nikmat sekaligus.


Lingerie tipis itu perlahan turun hingga jatuh di pinggang Felli, membuat kedua gundukan itu terbuka dan berayun manja.  Bagas membuka mulutnya lebar-lebar dan mencoba meraupnya, tapi gagal karena dada sang istri cukup besar.


Berakhir melumaati pucuknya saja.


Seperti ucapan Bagas, Felli benar-benar mendesaah dengan keras. Hujan malam ini seolah kado dari tuhan atas pernikahan keduanya. 


Dan pagi-pagi sekali cuaca berubah jadi cerah, secerah wajah sang pengantin baru yang semalam berulang kali melakukan pelepasan. 


Kini Bagas dan Felli mendatangi rumah Sena, mengantar kepulangan keluarga Bagas dan keluarga Hanan yang akan kembali ke Jakarta.


"Saka, kamu kapan kembali ke Jakarta? ingat kata mama, di Jakarta nanti kamu tinggal saja bersama kami," ucap Mariam, bertanya pada kakak menantunya ini.


Semalam sebelum beristirahat, mereka berkumpul dan membicarakan banyak hal. Terutama tentang Saka yang mereka belum tahu bagaimana hidupnya.


"Tidak usah Ma, aku akan tetap tinggal di Bengkel," jawab Saka, menjawab dengan gayanya yang acuh. 


Mana sudi dia tinggal di rumah itu, tiap malam ia pasti akan mendengar ******* sang adik, hi! hanya membayangkannya saja sudah membuat Saka merinding. 


"Terserah kamu, pokoknya mama akan tunggu kamu datang ke rumah," jawab Mariam pula tak kalah ketusnya. 


"Kalau mbak Nadia tinggal di rumah mama Mariam, aku mau tinggal disana," jawab Saka lagi yang malah menggoda ibu dua anak itu. 


Aksa dan Axel yang mendengarnya hanya terkekeh saja. Semalam sebelum mereka tidur pun Saka selalu bertanya-tanya tentang mama Nadia. 


Tapi kedua remaja ini sudah memberi ultimatum pada om Saka, bahwa mamanya tidak boleh disakiti lagi. Kini adalah saatnya mama Nadia bahagia. 


Plak!


"Aduh!" keluh saka saat lengannya langsung mendapatkan pukulan keras dari sang ibu.


"Sakit Mak!" keluh saka, pukulan ibunya itu memang tidak main-main.


Nadia yang jadi pembicaraan pun hanya tersenyum. Menanggapi ucapan Saka hanya sebagai candaan.


Selesai berpamitan mereka semua segera kembali ke Jakarta.