MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR 44 - Kamu siapa?



Sehari sebelum hari pernikahan.


Hanan, Mariam dan Bagas sudah berada di Palembang. Hanaf tak ikut mengantar kesana, karena ia sedang ada pertemuan bisnis di luar


negeri, Malaysia. Nadia dan kedua anaknya ikut bersama hanaf.


Tapi Hanaf berjanji, jika nanti ia kan menyambut


kedatangan Hanan dan istrinya itu ketika sudah sampai di Jakarta.


Jadilah, hanya Mariam dan Bagas yang mendampingi. Karena Yoana pun masih sibuk mencari bukti-bukti untuk mempenjarakan Hanaf, sang presdir.


“Han, bolehkah mama meminta sesuatu darimu?” tanya Mariam, setelah ia ikut duduk disamping sang anak yang sedang berada di balkon


kamar hotel.


Hanan menoleh dan melihat wajah sng ibu yang nampak sendu.


“Mama mau minta apa? Pasti aku turuti,” balas Hanan yakin. Ia bahkan bergeser mendekat dan memeluk pundak sang ibu.


Mariam tak langsung menjawab, ia membuat jeda yang cukup lama. Sedikit ragu untuk menyampaikan permintaannya ini.


“Setelah kamu menikah dengan Sena, bisakah kalian tinggal bersama mama.”


Hanan tersenyum ketika mendengar permintaan sang ibu itu. Sesuatu hal yang memang sudah menjadi rencananya. Setelah menikah, ia


memang ingin tinggal bersama Mariam.


Banyak alasannya, selain tak ingin ibunya merasa kesepain dimasa tua, Hanan juga merasa jika Sena akan lebih aman jika tinggal bersama sang ibu.


“Boleh, tapi aku minta kamarku dan Sena dibuat kedap suara, Mama tahukan maksudku?” jawab Hanan yang terdengar begitu menyebalkan


ditelinga Mariam.


Bahkan Mariam tak segan menepis tangan putranya yang sedang memeluk pundaknya.


“Hih! Kamu ini,” kesal Mariam dan Hanan terkekeh.


“Iya Ma, kami akan tinggal bersama Mama," jawab


Hanan yang mulai serius.


“Janji?”


“Iya Ma.”


Mendengar itu. Mariam benar-benar merasa lega. Dulu, saat menikah dengan lora, Hanan tak ingin tinggal bersamanya. Mariam tidak tahu, jika keputusan Hanan itu semuanya hanya demi sang ibu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harnya.


Hari ini adalah hari pernikahan Hanan dan Sena.


Kabar pernikahan sang adik itu terdengar sampai


ditelinga sang kakak, Saka yang kini berada jauh dari Palembang. Tapi Saka tak peduli sedikitpun dengan pernikahan sang adik itu. Ia pun sedikitpun tak ada niat untuk pulang. Hanya buang-buang waktu dan tenaga, pikirnya.


Terlebih saat membayangkan calon suami sang adik yang mungkin hanyalah pemuda kampung mereka juga, Saka bergidik jijik.


Lain Saka, lain pula Sena.


Kini Sena begitu bahagia, hari yang ditunggu-tunggunya tiba juga, menikah dengan sang sugar daddy, seorang pria yang pertama kali menyentuhnya lalu mengobrak abrik semua hidupnya.


Pria itu ternyata benar-benar menepati janji,


menikahi dirinya.


“Ya Allah cantiknyaa,” puji Felli pada sang sepupu,


kali ini Sena nampak begitu cantik. Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, yang pasti akan membuat semua orang terpana.


Sena hanya tesenyum, dipuji Felli ia malah semakin malu.


“Sepertinya mereka sudah datang Sen, aku intip dulu ya,” ucap Felli yang tiba-tiba berlari kearah jendela, dan benar saja, diluar sana ia sudah melihat kedatangan sang calon pria, didapmpingi oleh ibu dan asistennya.


“Kok aku yang deg degan ya Sen,” oceh Felli tak


habis-habis.


Jika Felli saja merasa gugup, lalu apa kabar Sena?


Kedua telapak tangan pengantin ini sudah dipenuhi oleh keringat dingin, Sena benar-benar gugup dan takut. Bahkan jantungya berdetak lebih cepat.


Apalagi saat mendengar suara pembawa acara


pernikahan itu mulai terdengar.


Sang MC mengatakan, jika sebentar lagi ijab kabul akan dilaksanakan.


Felli berulang kali menggosok-gosok kedua tangannya, ia sangat gugup. Entahlah, Sena yang menikah kenapa jadi ia yang gugup. Mungkin, karena ia dan Sena begiu dekat, jadi apapun perasaan yang dialami satu sama lain, mereka saling merasakannya.


“Sena, ayo, sudah disuruh keluar,” ucap seorang


wanita yang tiba-tiba masuk ke kamar pengantin. Dia adalah Tari, teman seumuran Felli dan Sena.


“Ayo Sen, Bismilah,” ajak Felli. Felli dan Tari lalu


mendampingi Sena untuk keluar dan mengtarkannya ke meja ijab kabul.


Seketika semua mata langsung tertuju pada sang


pengantin wanita, tak terkecuali Hanan yang menatap lekat wajah Sena.


Seperti terhipnotis, Hanan terus mengunci wajah Sena hingga gadis itu duduk persis disebelahnya.


“Mas Hanan? Mas Hanan?” panggil MC yang melihat Hanan bergeming.


Seketika semua tamu undangan tergelak, menertawakan pengantin pria yang terpesona pada Sena.


Bahkan Mariam yang duduk disebelah Hananpun ikut terkekeh, apalagi Bagas, wajahnya memerah menahan tawa.


“Han,” bisik Mariam sambil mencubit paha sang anak, seketik Hanan tersadar.


Sebelum semua orang kembali tertawa, MC itu mulai melanjutkan acaranya. Memberikan kuasa bicara pada sang penghulu.


Awalnya, Hanan dipandu untuk mengucapkan ijab kabul. Dan setalah yakin, akhirnya ijab kabul itu dikumandangkan dengan latang dan jelas.


Saya terima nikah dan kawinnya Afsena Putri binti Rudi Khoirudin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!


SAH?


SAH!!


ALHAMDULILAH! Ucap semua orang penuh syukur, bahkan Sarni dan Rudi pun sampai meneteskan air matanya. Tugas mereka sudah selesai, mereka akhirnya bisa menikahkan sang anak.


Setelah mengucapkan syukur itu, pak penghulu meminta pada sena untuk mencium punggung tangan kanan sang suami, dan Sena melakukannya


dengan takzim.


Lalu setelahnya, Hanan mencium kening sang istri


dengan penuh cinta.


“Kamu siapa?” tanya Hanan berbisik pada Sena,


mendengar pertanyaan itu, Sena mencebik merasa kesal.


Apa-apaan tanya seperti itu? batin Sena kesal.


“Apa kamu bidadari yang turun dari surga?” tanya Hanan lagi menggoda, dan Sena jadi menunduk, malu dan merona.


Khusus ijab kabul ini, Sena menggunakan hijab. Semua tubuhnya tertutup rapat, nampak cantik dan begitu anggun.


Tak hanya Hanan, bahkan kecantikkannya itu membuat semua orang pangling.


Sena lalu mencubit lengan Hanan, menghentikan tatapan sang suami yang terus menguncinnya. Dan lagi-lagi interaksi kedua pengantin itu membuat semua orang menahan senyum, merasa gemas saat melihat pengantin baru.