
Hari berlalu, hingga saatnya Hanan terpaksa harus kembali pergi bekerja.
Selama Hanan libur, Hanaf terus berulah semuanya di perusaaan . CEO Exstrafood itu selalu memanfaatkan jabatannya untuk berbuat semaunya.
Hanaf pikir, Hanan tidak akan peduli dengan semua yang ia lakukan, Hanaf pikir, Hanan hanya akan fokus pada istri barunya, Sena.
Namun ternyata, dugaan Hanaf itu salah besar, selama Hanan mengambil cuti, Yoana bekerja keras untuk mengumpulkan semua bukti kecuranga-kecurangan sang presdir itu.
Sementara Hanan, terus mengawasi. Memantau semuanya melalui laporan Yoana da Bagas.
Sena, mengantar kepergian suaminya itu dengan senyum yang mengembang, mengantar Hanan sampai di depan teras rumah. Di depan sana, mobil sang suami sudah menunggu. Lengkap dengan Bagas yang sudah berada di
dalamnya.
“Kamu senang sekali ya mau ku tinggal,” ucap Hanan, seraya menatap tajam sang istri.
Yang ditatap malah terkekeh, lalu memeluk lengan
suaminya erat.
“Iya sayang, aku seneng banget,” jujur Sena, lalu menelusupkan kepalanya disela-sela lengan suaminya itu, menciumi aroma tubuh sang suami yang begitu segar.
“Apa perlu nanti malam ku beri hukuman?” tanya Hanan, mengancam.
Dan yang diancam, lagi-lagi tidak peduli. Yang penting dari pagi sampai sore nanti, ia terbebas dari hentakan-hentakan sang suami.
Dengan senyumnya yang masih dikulum, Seba melepaskan dekapannya lalu menatap kedua netra sang suami yang sedang menatapnya tajam.
“Sayang, jangan marah-marah terus, cari uang yang banyak ya, kan sebentar lagi kita nambah anak,” bujuk Sena, sengaja membawa-bawa anak agar suaminya ini menurut.
Dan benar saja, mendengar ucapan istrinya itu, Hanan mulai menghembuskan napsnya pelan, mencoba ihklas untuk pergi bekerja pagi ini.
“Siang nanti temui aku di kantor ya?”
“Aku tidak tahu ruangan mas Hanan,” bala Sena cepat dan memang begitulah adanya.
Rasanya pun begitu janggal jika kini Sena harus kembali ke perusahaan itu lagi, sementara semua orang belum tahu apa statusnya saat ini.
Bukan lagi karyawan, bukan hanya mantan karyawan pula, melainkan istri dari salah satu pewaris perusahaan itu.
“Aku akan meminta Bagas untuk menjemputmu,” tawar Hanan lagi, belum menyerah.
Kini, Sena yang menarik dan menghmbusnkan napasnya pelan. Hingga membuat Hanan mengerutkan dahinya, heran.
“Kenapa?” tanya Hana langsung.
“Aku tidak berani kembali ke perusahaan itu Mas, bagaimana jika aku bertemu dengan Rara dan Rangga. Terus bagaimana kalau aku bertemu dengan pak Suryo? Bagaimana jika aku bertemu dengan orang-orang devisi pengawasan, mereka pasti mengira selama ini aku menggoda Mas Hanan,” jawab Sena, sesuai yang ada diisi kepalanya, wajahnya mendadak murung, ia bahkan sedikit menunduk dan menghindari tatapan sang suami.
Hanan tersenyum, Sena tidak tahu jika sebelumnya ia sudah membuat pengumuman di perusahaan ExstraFood. Hanan memberi tahu semua orang jika kini ia sudah menikah lagi, dengan seorang mantan karyawan ExstaFood, Afsena Putri.
Dalam pemberitahuan itupun Hanan mengatakan, jika kelak semua orang diharuskan menghormati Sena, sama seperti mereka menghormati dirinya dan semua keluarga petinggi ExstaFood.
Rara dan Bagas pun mendengar pengumuman itu. Awalnya mereka sangat terkejut, namun saat melihat foto ijab kabul Sena dan Hanan secara langsung yang disebar oleh Bagas, akhirnya mereka berdua mulai percaya.
Mereka ikut senang, karena temannya kini menjadi seorang Nyonya. Tak tanggung-tanggung, Sena menikah dengan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
“Setelah aku pergi nanti, cobalah hubungi Rara,” ucap Hanan kemudian, ia lalu menyentuh dagu sang istri dan mengangkatnya hingga tatapan mereka kembali bertemu.
Mencium sekilas bibir ranum yang sedang mencebik itu.
“Ingat, nanti Bagas akan menjemputmu,” ucap Hanan, dengan senyumnya yang terkembang.
Sena tak bisa menjawab apa-apa lagi, hanya memperhatikan suaminya itu yang mulai masuk ke dalam mobil dan segera berlalu dari sana. Keluar dari halaman rumah dan kemudian menghilang.
Sena, memutuskan untuk kembali masuk.
Mobil yang dikendarai Bagas tidak pergi ke perusahaan ExstraFood, melainkan ke salah satu hotel bintang lima di Kota Jakarta.
Memarkirkan mobilnya di basement hotel itu dan segera naik keatas sana.
“Kamar berapa?” tanya Hanan dengan terus melangkahkan kakinya lebar.
“3021, Pak.”
Tak ada kata lagi, mereka berdua terus melangkahkan kakinya menuju kamar 3021.
Menemui pengacara mendiang sang ayah, yang sudah berhasil ditemukan oleh Yoana dan Bagas.