MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR 37 - Sudah Fel, Minum Dulu



Siang itu, suara desaahan seorang wanita terdengar jelas dari dalam kamar Hanan. Tak hanya itu saja, sesekalipun Lora mendengar suaminya mengeram penuh nikmat.


Dua minggu sudah wanita sundal itu tinggal disini, bahkan Hanan pun memperkenalkan pada semua pelayan jika Felli adalah calon istri mudanya.


Mendengar itu, Lora hanya mampu menggelengkan kepalanya tak bisa apa-apa. Bahkan untuk membantah pun lidahnya sudah kelu.


Betapa kejam sang suami.


Bahkan kehadiran Noah diantara mereka tak merubah apapun, malah membuat jarak mereka semakin membentang lebar.


Setiap hari Lora selalu disuguhkan keintiman antara Hanan dan Felli. Kini ia tak sanggup lagi.


Kepalanya sudah mendidih, tak peduli apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang didalam sana. Lora menggedor pintu sang suami dengan keras.


Dok dok dok!


Dok dok dok!


"Buka pintunya!!" teriak Lora hingga wajahnya memerah.


Di dalam sana Felli tersentak, namun ia tak bisa menghentikan desah nikmatnya.


"Sudah Fell, minumlah dulu," ucap Hanan seraya membuka bajunya yang masih terbalut rapi.


Dengan buru-buru, Felli minum dan menyingkirkan seblak makanan kesukaannya, pedas yang membuatnya terengah. Lalu segera beranjak ke atas ranjang dan menurunkan gaunya. Bersembunyi dibawah selimut, memasang wajah kesal.


Dirasa siap, Hanan membuka pintu. Ia bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk yang melilit diseluruh pinggang.


"Berisik!" bentak Hanan langsung, hingga Lora tersentak kaget.


"Bukan kamu yang seharusnya marah. Yang seharusnya marah itu aku Mas! berani-beraninya kamu menyentuh wanita sundal itu di rumah ini!" kesal Lora yang suaranya juga sudah mulai meninggi.


"Itu bukan urusanmu, bahkan jika aku ingin bercinta di sofa ruang tengah pun kamu tetap tak bisa mencegahnya," balas Hanan tak kalah sengit, dipikirnya Hanan tak tau percitaan Lora dan Hanaf di rumah ini beberapa waktu yang lalu.


Para pelayan dirumah ini adalah pelayan setianya, setiap gerak gerik Lora selalu jadi bahan perhatian.


"Jahat kamu Mas, JAHAT!!" pekik Lora, kemarahannya makin menjadi saat melihat Felli menutupi tubuh polosnya dengan selimut diatas ranjang. Ia hendak masuk dan menghajar Felli, namun Hanan dengan cepat mencekal tangan Lora. Menarik dan mendorongnya keluar hingga ia terjungkal diatas lantai.


"Ingatlah posisimu Lora, kamu hanya istri statusku, bukan istriku yang sesungguhnya," ucap Hanan dingin, ia lalu menutup pintu itu dengan keras.


Menyisahkan Lora yang menangis histeris.


"Baiklah, aku juga akan bersenang-senang seperti yang kamu lakukan," teriak Lora, dan Hanan masih mampu mendengarnya.


Hanan menyeringai, tak peduli. Tujuannya hanya 1, menyingkirkan Lora dari hidupnya.


"Pakailah bajumu," ucap Hanan pada Felli, Hanan pun melakukan hal yang sama, kembali memakai pakaiannya sendiri.


"Aku nggak lepas baju kok Om, cuma diplorotin," jawab Felli dengan terkekeh.


2 minggu tinggal disini, ia cukup tahu siapa Lora. Seorang wanita yang entah memiliki hati atau tidak, bahkan Lora tak peduli saat Noah menangis rewel. Semakin hari, ia semakin semangat untuk memanas-manasi Lora, hingga wanita ular itu pergi dan Sena bisa kembali bersama Hanan, yang kini sudah menjadi kekasih sepupunya itu.


"Aku akan ke kantor lagi, ingat, jangan tinggalkan rumah ini. Kamu hanya aman jika berada disini," jelas Hanan, seraya memakai jasnya kembali.


Felli mengangguk patuh.


Dan Hanan segera pergi meninggalkan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Berulang kali ia menghubungi Hanaf, namun panggilannya selalu tak terhubung. Bukannya merasa tenang, ia malah semakin kesal. Dua bersaudara yang membuat darah tingginya naik.


Geram, Lora kembali meneguk vodka nya, entah sudah berapa gelas yang ia minum.


Bahkan rasanya, kini tubuhnya melayang terasa lebih ringan. Disaat seperti ini, alkohol dan club malam memang teman terbaik.


Musik terus berdentum tanpa henti, bahkan ditiap sudut ruangan orang bercinta sesuka hati. Diantara hingar bingar itu, Lora merasa sangat kesepian.


Hingga dirasa, sebuah tangan tiba-tiba melingkar dipinggngnya. Lora menoleh, dan dilihatnya pria hidung belang menatapnya penuh hasrat. Tampan memang, tapi tak setampam suaminya, Hanan.


"Singkirkan tanganmu," ucap Lora seraya memalingkan wajah, kembali memutar-mutar gelasnya lalu meneguk hingga tandas dan menuangnya lagi.


Tangan pria itu memang menyingkir, namun bukannya menjauh tapi malah berpindah tempat.


Tangan kekar pria itu menyentuh paha Lora yang terbuka, lalu menelusup ke dalam gaun itu dan menyentuh inti Lora dengan lembut.


Lora meremang, ia menggigit bibir bawahnya menahan tubuh agar tak menegang.


Hingga tak lama, suaranya keluar mendesah lirih. Sang pria dengan cepat memeluk tubuh Lora dari belakang dan memulai aksinya.


"Nikmati saja sayang, malam ini milikmu," desis pria itu tepat ditelinga Lora.


Lora tak menjawab apapun, namun saat tangan laki-laki itu hendak menusuknya dengan cepat ia menahan.


"Jangan, aku masih nifas," jawab Lora dengan senyum nakal, bagaimanapun ia tak mau melakukan hubungan kotor itu sekarang. Bisa-bisa malah membuat intinya infeksi.


"Aku bisa memuaskanmu tanpa itu," jawab si pria, ia bahkan mengelus dengan sayang inti Lora yang masih tertutup kain tipis itu.


Meremang, Lora mendesah. Saat ini ia memang butuh sentuhan.


Akhirnya Lora hanya pasrah saat tubuhnya ditarik melewati kerumunan orang-orang yang asik menikmati musik DJ. Terus melangkah menuju salah satu ruangan.


Ruangan kedap suara yang begitu remang, hanya ada sebuah sofa panjang dan layar monitor pemutar musik di dalam ruangam itu.


Masih berdiri dibelakang pintu, pria itu segera menyerang Lora. Mencium bibir merekah sang wanita tanpa ampun. Tangannya tak tinggal diam, ia menurunkan gaun Lora yang membelah dadanya, turun hingga kedua gundukan itu menyembul sempurna. Dilahapnya dengan ganas, hingga Lora menjerit nikmat.


Andaikan kini ia tidak sedang nifas, ingin sekali intinya disentak.


Dan seolah mengerti keinginan Lora, pria itu menurunkan penutup Inti sang wanita dan mengeluarkan pula senjatanya.


Tak sampai menyatu, tapi mereka membuat gesekan yang membawa kenikmatan.


"Rapatkan pahamu," titah sang pria dan Lora menurut, perlahan pria itu mulai menggerakkan pinggulnya dengan satu tangannya memainkan bagian atas inti Lora, memutar dan menekan sesuatu yang menyerupai biji.


Lora mendesah, menikmati kenikmatan yang sudah begitu lama ia inginkan. Dalam matanya yang tertutup, wajah Hanan yang ia bayangkan.


Bahkan dengan sendirinya Lora meremasi kedua dadanya, agar rasa itu ia raih dengan sempurna.


Dan entah dimenit keberapa, gelombang itu mendatangi Lora lebih dulu, pahanya makin mengepit ingin merasakan ganjalan yang lebih keras.


Hingga akhirnya ia ambruk terengah.


Sang pria menyeringai, ada kepuasan tersendiri ketika ia berhasil membuat lawan mainnya ambruk lemas seperti ini.


"Ini kartu namaku, hubungi aku jika masa nifasmu selesai. Aku akan memberikan kenikmatan yang lebih dari ini, cantik," ucap si Pria, seraya membenahi celananya. lalu menggigit sekilas pucuk Lora yang masih menegang belum ditutup.


Lora menjerit, namun ia tersenyum dan mengigit bibir bawahnya. Dengan segara, Lora mengambil kartu nama itu.