
Felli menggeleng, "jangan," katanya.
Dan mendengar itu Bagas tersenyum kecil, tak mungkin juga ia melakukan itu disini, dikamar Noah. Kamar anak sang Tuan.
"Aku tidak akan melakukannya, percayalah padaku," jujur Bagas. Ia memeluk Felli erat, mengatakan tentang perasaannya melalui pelukan itu.
Bagas memang tak suka berkata-kata, melalui perbuatannya, ia ingin Felli tahu, bahwa ia menyayanginya, tulus ingin memulai sebuah hubungan.
Felli hendak membalas pelukan itu tak kalah eratnya, namun niatnya terhenti seketika ketika ia tersadar akan sesuatu, matanya membola kala teringat tentang keperawanannya yang tak lagi ada. Buru-buru Felli melepas pelukan itu.
Mengambil jarak yang cukup jauh dari kekasihnya.
"Jangan Mas," lirih Felli, melihat wajah Bagas yang kecewa tentu saja ia merasa bersalah. Tapi Felli tak ingin Bagas akan meninggalkannya jika tahu ia sudah tidak perawan. Selama menjadi kekasih Bagas ia tak ingin ada kontak fisik, karena Felli tahu, akhirnya akan berakhir dimana.
"Kenapa?" tanya Bagas, ia kembali mengikis jarak dan mengunci pergerakan tubuh Felli.
"Aku belum siap," lirih Felli lagi seraya menunduk.
Namun Bagas tak kehabisan akal, malam ini ia memang tak ingin menyatu, hanya ingin membuat kenangan indah, dimalam pertama mereka menjadi sepasang kekasih.
Bagas mengangkat dagu Felli hingga tatapan keduanya bertemu, lagi, Bagas melabuhkan ciuman itu. Hingga membuat Felli ambruk, memeluk tubuh Bagas erat.
"Ingatlah, kamu adalah kekasihku," ucap Bagas tepat ditelinga Felli.
Dan Felli tak mampu memberikan tanggapan apapun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Hanan masih juga belum mulai bekerja. Sebenarnya ia sengaja terlihat malas-malasan, agar pergerakannya untuk menyelidiki Hanaf tak tercium.
Hanan bangun lebih dulu, jangan ditanya kenapa Sena tidak bangun-bangun. Semalam, Sena sudah bekerja keras untuk kembali menjadi seorang sugar baby.
"Sayang, bangun, aku sudah mengambilkanmu sarapan," ucap Hanan. Tadi, ia sudah pula mengambilkan sarapan untuk sang istri.
"Ayo bangun," ucap Hanan, lalu menoel salah satu dada sang istri yang menyembul diantara selimut.
Mata Sena langsung terbelalak., "Hih! geli" ketusnya pada sang suami.
Dan Hanan malah terkekeh, tiap hari Sena selalu saja membuatnya tertawa.
"Bangunlah, sarapan dulu. Habis ini aku mandikan."
"Tidak, aku akan mandi sendiri."
"Baiklah," jawab Hanan dengan menahan senyumnya.
Sena lalu bangkit dan mulai duduk disana, seraya memegangi selimut agar tidak melorot. Saat itu, Hanan menyuapi Sena dengan begitu telaten.
Lalu meraub bibir sang istri saat ada nasi yang tertinggal dibibir.
"Mas ih, cium-cium terus," kesal Sena sambil terus mengunyah.
"Mas sudah makan?" tanya Sena lagi dan Hanan mengangguk, ia memang susah sarapan bersama Bagas tadi.
Sesuai kesepakatan, akhirnya Sena mandi seorang diri. Sementara Hanan, memutuskan untuk masuk ke ruang kerja sang ayah. Ternyata, Mariam juga ada disana.
"Ma," panggil Hanan saat melihat ibunya itu berjongkok dibawah meja kerja sang ayah.
"Han, untung kamu kesini, bukannya brangkas papa ini passwordnya tanggal pernikahan mama dan papa ya? tapi mama coba daritadi kok tidak bisa," keluh Mariam seraya memanggil Hanan untuk mendekat dan menunjukkam brangkas itu yang masih terkunci rapat.
Hanan termenung, sejurus kemudian ia mencurigai Hanaf yang merubah password itu.
Lalu, sebenarnya apa yang ia sembunyikan? batin Hanan, dengan pikiran yang menerawang entah kemana.