MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR 38 - Menunggu, Seperti Janjiku



Sejak malam itu, Lora jadi jarang pulang. Tak peduli dengan adanya Noah, ia terus bersenang-senang sepanjang waktu.


Dan saat masa nifasnya selesai, tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi seseorang yang dulu memberinya sebuah kartu nama, menghabiskan malam penuh nikmat di salah satu hotel bintang 5.


Merasa ketagihan, akhirnya Lora sepakat menjadi partner ranjang orang itu. Tiap malam butuh sentuhan, Lora tinggal menghubungi Daniel.


Layaknya kembali muda, Lora meluapkan kekesalannya pada sang suami dengan cara bersenang-senang sendiri.


Seperti siang ini, ia kembali ke pusat perbelanjaan dan belajan kalang kabut, apapun yang menurutnya bagus ia akan beli, tak peduli kelak akan dipakainya atau tidak.


Seorang asisten memegangi semua belanjaannya, mengekor Lora yang sedang berjalan diantara baju-baju branded.


Namun langkah Lora terhenti, saat melihat sosok wanita yang tak asing. Salah satu wanita Hanan, dulu seingatnya wajah wanita itu sudah penuh dengan luka silet.


Tapi kenapa, kini wajah itu tetap saja mulus dan putih bersih. Lora mengepalkan tangan kuat, kemarahannya kembali tersulut.


Mengambil langkah besar, Lora langsung menghampiri wanita itu dan menjambak rambutnya kuat, hingga sang wanita terhuyung kebelakang dengan kesakitan.


"Wanita sundal, berani-beraninya kamu masih berkeliaran disekitarku ya? sialan!" umpat Lora sambil terus menghajar sang wanita.


Bukannya takut, wanita ini malah terkekeh dengan wajahnya yang menyeringai saat melihat wanita yang menghajarnya adalah Lora.


"Kembalikan uang suamiku! pasti dia yang membiayaimu operasi plastik kan? hah! dasar jalaang," pekik Lora hingga menarik perhatian semua orang.


Bahkan beberapa orang pun merekam perkelahian itu tanpa sepengetahuan keduanya.


"Lepaskan!" lawan sang wanita yang bernama Jeni.


Susah payah Jeni melepaskan rambutnya dari cengkraman Lora.


"Sejak awal mukaku memang tidak pernah rusak, dan aku tidak pernah memakai uang pak Hanan untuk operasi plastik," kesal Jeni. Ia ingat betul kejadian beberpa bulan lalu. Ia harus melayani orang suruhan Lora itu semalaman suntuk, agar wajahnya tidak disilet. Sementara foto yang dikirimkan dulu kepada Lora, itu hanya sebuah rekayasa.


"Orang suruhanmu waktu itu, lebih memilih menikmati tubuhku daripada merusaknya," bisik Jeni pada Lora dengan nada mengejek. Seolah mengingatkan, jika suaminya pun lebih memilih tubuhnya dibanding tubuh istrinya sendiri.


Mendengarkan itu, Lora semakin geram, kemarahannya benar-benar sudah sampai di ubun-ubun. Dengan brutal, Lora berniat merusak wajah wanita itu dengan tangannya sendiri.


Lora kembali menyerang Jeni dan berusaha mencakar wajah, ingin merusaknya. Tapi kali ini Jeni tak tinggal diam, ia melawan hingga terjadilah perkelahian anatara kedua orang itu.


Terpisah, saat pihak keamanan datang dan melerai keduanya.


Tapi Lora terus menyerang Jeni dengan kata-kata kasar.


Benar-benar tontonan yang apik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yoana, membawa berkas penting dalam di dalam amplop coklat untuk sang tuan. Setelah mengetuk pintu ruangan Hanan dan dipersilahkan masuk, Yoana memberikan berkas itu.


"Semua yang kita butuhkan sudah terkumpul, Pak. Bukan hanya ke pengadilan agama, tapi juga ke kepolisian berkas ini saya kirim," jelas Yoana.


Hanan menerima dan membuka berkas itu, beberapa foto tentang kelakuan bejat sang istri tertera jelas disana. Penelantaran anak adalah senjata Hanan untuk berpisah dengan Lora sekaligus mempenjarakan wanita itu.


"Bagus, jangan ditunda lagi dan segera selesaikan. Aku sudah muak melihat wajahnya."


Dengan tersenyum kecil, Hanan mengambil ponselnya dan menghubungi sang kekasih di ujung sana. Rasanya hari berjalan begitu lama, jika tak ia habiskan bersama Sena.


"Assalamualaikum sayang," jawab Sena setelah cukup lama panggilan itu hanya berdering.


"Walaikumsalam, kenapa lama sekali baru diangkat?" tanya Hanan posesif.


"Tadi ada orang belanja di warung sayang, aku layani dia dulu," jawab Sena jujur, kini ia yang mendapat jatah jaga warung di rumah sementara sang ibu berjualan di pasar apung.


Sejak sang ayah mengalami struk, Sena tak pernah memakai lagi uang pemberian Hanan selama ini. Termasuk sisa uang 250 juta yang dulu kala, Sena menyumbangkan semua uang itu disebuah lembaga bantuan masyarakat dengan nama Hamba Allah.


Meski susah payah mengumpulkan, namun Sena berniat mengobati sang ayah dengan uang halal.


Dan usahanya itu membuahkan hasil, meski belum sembuh total, tapi kini setidaknya sang ayah sudah bisa kembali berbicara dengan normal. Tak kesusahan seperti beberapa waktu lalu.


"Baiklah, aku tidak akan marah. Karena sebentar lagi, kamu hanya akan melayaniku," jawab Hanan dengan mengulum senyumnya.


Sena yang mendengarkan itu, hanya mencebik.


Sudah nyaris 2 bulan, tapi Hanan tak juga datang kesini untuk meminamg. Tiap hari kerjanya hanya mengganggu Sena dengan banyaknya panggilan telepon dan pesan.


Seolah jabatan wakil presdir itu tak membuatnya sibuk barang sedikitpun.


"Sayang, bagaimana keadaan Noah?" tanya Sena, mengalihkan pembicaraan.


"Baik sayang, Felli menjaganya dengan baik," jawab Hanan apa adanya.


Sebelum membawa Felli masuk ke dalam rumahnya, Hanan sudah lebih dulu meminta izin pada Sena. Hanan membutuhkan Felli untuk menjaga sang anak juga membuat Lora marah.


Tak percaya pada wanita lain, akhirnya Sena menyebutkan nama Felli.


Saat pertama Hanan memanggil Felli dulu, ia juga sudah meminta maaf tentang 1 hal. Tentang memutasi Felli ke cabang Palembang dan memisahkannya pada Sena.


Semua itu memang kerjaannya yang memanfaatkan jabatan.


Saat itu Felli mencebik, mulai terasa masuk akal kenapa semuanya bisa terjadi.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi aku akan melamarmu," jelas Hanan dan Sena mengangguk, seolah Hanan bisa melihat gerakan kepalanya itu.


Felli pun sering menghubungi Sena dan memberi tahu tentang Lora. Mengetahui kebenarannya, Sena malah lebih fokus pada Noah, betapa malangnya nasib anak tanpa dosa itu.


Tak mendapatkan kasih sayang dari sang ibu, pun ayahnya yang hanya bisa menyayangi diam-diam.


Tetap bersikap acuh jika Lora melihat.


"Aku akan menunggu sayang, seperti janjiku," jawab Sena, setelah cukup lama terdiam.


"Dan aku akan datang, memenuhi janjiku."


Di dalam panggilan itu, keduanya sama-sama tersenyum tipis. Seolah kini mereka sedang berhadapan dan saling tatap.


Jauh memang, tapi terasa dekat.