
Sepanjang perjalanan itu akhirnya Saka menceritakan perihal dirinya. Tentang dia yang memang tipikal pria brengsek pada Mariam, tetapi dia sudah bertobat dengan sungguh-sungguh.
Semenjak tahu kerasnya dunia perantauan, dia begitu menyesal karena pernah berbuat jahat, bahkan durhaka pada kedua orang tuanya, dan hidup hanya ingin foya-foya.
Dan dia juga jujur pada Mariam, bahwa dia sudah tidak suci lagi, dia pernah sebejat itu dulu. Namun, kini dia tengah berusaha mensucikan diri.
Semenjak itu, dia tidak pernah lagi bermimpi untuk mendapatkan seorang gadis sebagai istrinya. Kalau memang dia diberi kesempatan untuk menikah, dia akan lebih memilih menikahi janda.
Dan seolah Allah mengabulkan semua doanya, dia bertemu dengan mbak Nadia. Janda cantik beranak 2 yang berhasil memporak porandakan hidupnya. Mata sayu Nadia yang mengisyaratkan kesedihan membuatnya ingin terus membahagiakan wanita itu.
"Saka nggak pernah niat buat nikahin gadis, Ma. Saka mau nikahin janda aja. Eh tiba-tiba Mbak Nanad dateng sendiri ke Palembang, itu artinya Allah jawab doa-doa Saka kan, Ma? Mbak Nanad emang buat Saka, kan?" Tanyanya pada Mariam dengan sungguh-sungguh.
Bahkan dia sedikit mengguncang bahu Mariam, berharap wanita paruh baya itu menjawab iya.
Dia berharap memang Nadia yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak, hidupnya yang tidak begitu sempurna. Dan Nadia lah yang akan menyempurnakannya.
Mendengar pertanyaan itu, Mariam bingung mau menjawab apa. Memang lah manusia tidak mungkin ada yang sempurna, semuanya pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa.
"Ya semoga saja Nadia memang jodohmu. Kalau kamu mau sungguh-sungguh sama dia, ya tunjukan kesungguhanmu. Jangan pernah main-main lagi, karena Nadia itu sudah pernah disakiti." Jelas Mariam akhirnya, walau bagaimanapun, dia sudah menganggap Nadia sebagai putrinya.
Saka manggut-manggut. "Saka pasti berusaha untuk jadi yang terbaik buat Mbak Nanad, Ma."
Pelan, Mariam mengangguk sambil mengulum senyum. "Tapi kalau Nadia memang tidak mau, jangan dipaksa ya, Ka. Itu semua tidak baik." Mariam kembali memberi wanti-wanti pada kakak ipar putranya itu.
Semuanya sudah dia anggap sebagai anak, yang perlu dinasihati dan disayangi.
Dan pembicaraan dengan Saka itu, mengingatkan Mariam pada sang putra sulung, Hanaf. Dia sudah begitu lama tidak bertemu dengan lelaki itu.
Jauh dalam lubuk hati Mariam, dia sangat merindukan Hanaf. Hingga akhirnya dinding ego yang terbangun dalam hati Mariam hancur secara perlahan, dia berniat untuk menemui putra sulungnya itu.
Dan sebelum itu, dia akan menghubungi Nadia terlebih dahulu. Dia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, dan mencari nama kontak Nadia. Tak menunggu lama, pada dering kedua Nadia sudah menjawab panggilannya.
Mariam mengulum senyum.
"Assalamualaikum, Ma?" sapa Nadia di ujung sana. Dia baru saja mengantarkan anak-anaknya ke sekolah.
Mariam segera menjawab salam itu. Tak banyak basa-basi, Mariam langsung memberitahu perihal keinginannya untuk menemui Hanaf pada Nadia.
Walau bagaimanapun, Hanaf tetaplah darah dagingnya, sebanyak apapun kesalahan lelaki itu, nyatanya darah memang lebih kental daripada air.
Mariam tetap menyayangi Hanaf, sebagaimana dia menyayangi Hanan.
Di luar dugaannya, Nadia pun ternyata ingin ikut menemui Hanaf. Karena walau bagaimanapun, Hanaf tetaplah ayah dari kedua putranya, Aksa dan Axel.
Dan Nadia ingin pisah baik-baik dengan Hanaf, lelaki yang begitu dicintainya. Hingga akhirnya, Mariam dan Nadia sepakat untuk menemui Hanaf di penjara esok hari.
Mereka akan menjenguk Hanaf bersama-sama.