
Pagi hari satu keluarga itu kembali bertemu di meja makan. Awalnya mereka menikmati hidangan dengan tenang, hingga Saka yang memiliki otak usil, sengaja ingin menggoda Sena.
"Sen, mantannya suami kamu cantik banget ya?" Ceteluknya tiba-tiba dengan senyum jenaka.
Semua orang yang ada di sana, kompak menghentikan kunyahan mereka dan menatap ke arah Saka. Apalagi Hanan, dia memicing tak suka pada kakak iparnya itu.
Bicara apa bocah ini? Gumam Hanan dalam hati.
"Apa maksud Kakak ngomong begitu?" Sena tak menjawab, dia justru balik bertanya.
Hatinya baru saja tenang, tetapi kini kembali dibuat gusar.
"Nggak ada maksud apa-apa. Aku cuma mau bilang kalau mantan pacar suami kamu itu lebih cantik, lebih seksi, lebih enak dipandang ah pokoknya lebih-lebih deh dari kamu." Ucapnya tanpa merasa berdosa, bahkan dia tersenyum saat mengatakan itu semua.
Mendengar itu, Hanan semakin dibuat geram, dia mengepalkan tangannya di bawah sana. Sementara Sena kembali menekuk wajahnya, ingatan semalam kembali begitu saja, tentang Airin yang tiba-tiba datang ke rumahnya, wanita cantik, seksi jauh melebihi dirinya.
Dan usapan tangan Hanan membuat Sena menoleh ke arah suaminya itu. Hanan menggeleng, memberi isyarat agar Sena tidak perlu meladeni Saka.
Namun, kali ini Sena tidak bisa langsung tenang begitu saja.
"Hati-hati lho, Sen. Takut suami kamu nanti CLBK. Hehe. Aku nggak punya niat apa-apa ya, cuma mau ngingetin aja." Saka kembali menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
Tetapi sebelum itu, Mariam mencubit kecil paha Saka, begitu menyadari mata Sena kini mulai berkaca-kaca.
"Aw! Sakit, Ma. Kok Saka dicubit-cubit sih." Rengeknya sambil mengusap paha yang terasa sedikit panas akibat cubitan Mariam.
Sementara Sena tiba-tiba mengelap pinggiran matanya. Ibu hamil itu menangis, dia benar-benar takut Hanan akan berpaling darinya, seperti apa yang diucapkan sang Kakak, Saka.
Mendengar Sena yang sesenggukan di tempatnya, Hanan menatap istrinya dan langsung menangkup kedua sisi wajah Sena. "Hei, Sayang. Ada apa? Kenapa menangis?"
Air mata Sena terus merembes, sementara Saka hanya garuk-garuk kepala, dengan wajah tanpa dosa.
Menyadari arah pembicaraan Sena, Hanan langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Saka, pastilah gara-gara ucapan lelaki itu.
"Apa?" tanya Saka menjawab tatapan mata Hanan.
"Berhentilah bicara yang tidak-tidak, ku sumpal nanti mulutmu!" Cetus Hanan merasa geram.
"Apa sih, orang aku cuma mewanti-wanti adikku, takut suaminya CLBK sama mantan."
"Haish, pergi sana! Pergi dari rumah ini. Ucapan omong kosongmu itu hanya membuat orang darah tinggi, tahu!" Hanan tak berhenti memaki, sementara Sena masih sesenggukan dalam pelukan Hanan.
"Salahku memangnya dimana? Aku kan bicara apa adanya!" Saka tak kalah mengotot, mereka berdua bagai anjing dan kucing, tak pernah akur bila berdekatan, membuat Mariam merasa pusing sendiri mendengar cekcok mereka.
Akhirnya demi memisahkan sang anak dengan kakak iparnya, Mariam mengajak Saka untuk pergi ke bengkelnya.
"Huh, dasar suami takut istri!" Cibir Saka sebelum pergi, membuat Hanan kembali melotot, jika tidak buru-buru Mariam menarik Saka, mungkin akan terjadi baku hantam diantara dua lelaki itu.
Mariam dan Saka akan pergi ke bengkel dengan diantar oleh seorang sopir. Sambil menikmati perjalanan, Mariam menatap ke arah Saka.
"Ka, kamu tidak ada niat menikah?" Tanya Mariam tiba-tiba, melihat Saka yang sudah berumur seperti putranya, sudah sepantasnya lelaki itu memiliki seorang pendamping hidup.
"Ya niat mah ada, Ma." Jawab Saka santai.
"Terus kenapa sampai sekarang kamu belum menikah?" tanya Mariam lagi.
Saka menghela nafas. "Masalahnya, mbak Nadianya mau nggak sama aku?"
"Hah, bagaimana?"