MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 87 - Pertemuan dan Perpisahan



Akhirnya pagi-pagi sekali Nadia pamit pada kedua putranya untuk berangkat ke Jakarta. Sementara Aksa dan Axel dia titipkan pada asisten rumah tangganya. Dan Nadia begitu bersyukur, kedua anaknya itu selalu mengerti bagaimana kondisinya. Aksa dan Axel tidak keberatan dia akan bertemu dengan ayah mereka, Hanaf.


Pukul 9 pagi, Nadia sampai di kota padat tersebut. Tepatnya di kediaman Mariam. Dan ternyata, wanita paruh baya itu sudah menunggu kehadirannya.


Rencananya, mereka hanya akan datang berdua, tanpa Hanan maupun Sena.


"Ma, kita langsung berangkat saja yah?" pinta Nadia, dan dijawab anggukan antusias oleh Mariam.


"Iya, Nad. Kita sama-sama ke sana."


Tanpa mengulur waktu, kedua wanita berbeda generasi itu, langsung meminta supir untuk mengantar mereka ke penjara. Untuk menemui orang yang sama, yaitu Hanaf.


Pintu sel Hanaf kembali dibuka, dia sudah menebak siapa yang datang. Pastilah sang adik, Hanan. Karena kini dia sudah tidak memiliki tempat lagi di hati Mariam maupun Nadia, kesalahannya terlalu besar, hingga diapun merasa tak pantas mendapat maaf dari kedua wanita itu.


Namun, alangkah terkejutnya saat dia melihat ke arah kursi yang di isi oleh dua orang yang begitu dia nanti kehadirannya. Akhirnya penantiannya datang juga.


Deg!


Jantung Hanaf mencelos, dia terperangah merasa tak percaya.


Sementara di ujung sana, Nadia dan Mariam kompak memandang ke arahnya dengan tatapan sendu, seketika air mata Hanan meleleh begitu saja, membasahi pipinya yang terlihat semakin tirus, dia tidak menyangka akan hadirnya dua orang itu.


Cepat-cepat Hanan melangkah, dan langsung bersimpuh di kaki sang ibu untuk meminta pengampunan yang begitu banyak. "Ma, maafin Hanaf. Maafin Hanaf, Ma." Ujarnya tersedu-sedu. Dia begitu merasa bersalah pada Mariam.


Dosanya seolah tak tertebus. Dan hal itu disaksikan sendiri oleh mata telanjang Nadia dan Mariam, kedua orang itu menatap Hanaf dengan tatapan iba.


Lelaki itu terlihat begitu lemah tak berdaya, bahkan tubuhnya sangat kurus, dengan cekungan mata yang terlihat begitu kentara. Mariam dan Nadia yakin, Hanaf sangat tersiksa di dalam penjara.


"Mama sudah memaafkanmu, Han. Kamu yang sabar, Nak. Teruslah berdoa dan jangan pernah putus asa." Ucap Mariam tak kalah bersedih, seraya mengusap kepala Hanaf dengan lembut, sementara di sampingnya Nadia terus mengelus punggung mantan mertuanya itu sambil ikut menangis.


Perlahan, Hanaf mengangkat kepalanya, dia melihat ke arah Nadia yang ikut sesenggukan di tempatnya. Dia sadar, dia dan Nadia sudah resmi bercerai, dan kalau boleh meminta, dia ingin sekali lagi mendapatkan kesempatan untuk kembali dengan wanita itu.


Hanaf meraih tangan Nadia, dia menunduk sebentar dan menatap wanita yang telah disakitinya dengan tatapan mengiba. Nadia tak menepis perlakuan Hanaf, jauh dalam lubuk hatinya, dia masih sangat mencintai lelaki itu.


"Nad, aku tahu, kesalahanku padamu begitu besar, tapi aku mohon. Aku mohon biarkan aku menebus kesalahanku, beri aku kesempatan sekali lagi untuk menjadi suamimu. Aku tidak hanya ingin menjadi ayah dari kedua anak kita, aku juga ingin tetap menjadi orang yang kamu cintai. Maafkan aku, Nad. Aku mohon." Hanaf menunduk dan senantiasa menggenggam tangan Nadia dengan bercucuran air mata.


Dia berharap banyak kepada wanita itu, agar mau menerimanya kembali. Melihat itu, Nadia yang masih begitu mencintai Hanaf pun ikut merasa sesak, rongga udaranya bagai terhimpit, tetapi tak dipungkiri bahwa sakitnya berumah tangga dengan lelaki itu, masih membekas begitu utuh. Dia trauma.


Dan akhirnya Nadia menggelengkan kepalanya, dia yakin dengan berpisah dia dan Hanaf akan menemukan kebahagiaan mereka masing-masing. "Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa." Nadia tersedu-sedu dengan terus menggelengkan kepala.


Hanaf semakin dibuat merana dengan jawaban Nadia. Hatinya begitu hancur melihat penolakan wanita yang dicintainya itu, ibu dari anak-anaknya.


Tapi Hanaf tidak bisa memaksakan kehendak. Dia hanya berucap. "Aku akan coba mengerti, tapi ingat Nad, bahwa sampai kapanpun aku akan menganggap bahwa kamu adalah istriku satu-satunya."


Mendengar itu, tangis Nadia semakin pecah. Mariam yang berada di sampingnya terus menenangkan, dan menguatkan ibu dua anak itu.


Dan akhirnya, waktu yang mereka miliki terkikis begitu cepat, sebelum mereka pulang, karena jam besuk sudah hampir habis, Hanaf mengajukan satu permintaan, bahwa dia ingin dipeluk.


Tanpa ba bi bu, Mariam langsung memeluk Hanaf, memeluk dengan sangat erat. "Mama akan tunggu kamu, Han. Sampai kapanpun, Mama akan tunggu kamu pulang. Sampai bertemu di rumah 15 tahun yang akan datang." Ucap Mariam.


Ikut terhanyut Nadia pun ikut memeluk Hanaf. Dan Hanaf membalas tak kalah erat pelukan Nadia, menumpahkan semua kerinduan yang bersarang di dadanya. Hingga tanpa sadar, Hanaf menciumi puncak kepala Nadia berulang kali, menyisakan sebuah desiran di hati.