MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR 47 - Kamu Jahat Mas



Tak kehabisan akal, Hanan awalnya berkata hanya ingin membuat Sena merasa lebih baik. Mandi, berendam air hangat dan Hanan akan memberikan pijatan ringan.


Awalnya Sena menikmati, karena Hanan benar-benar memijat pinggang hingga pundaknya dengan lembut.


Terasa begitu nyaman, hingga lambat laun Hanan berkata, untuk memijat intinya.


Sena tak bisa menolak, karena belum sempat menjawab, tangan nakal suaminya itu sudah bersarang disana.


Akhirnya bukannya menolak, Sena malah mendesah, bahkan akhirnya Senalah yang meminta untuk lebih.


"Kamu jahat Mas," keluh Sena saat pelepasannya datang, sementara Hanan masih bediri tegak menantang.


Hanan terkekeh, lalu memutar tubuh sang istri untuk memunggunginya. Didalam bathup itu, keduanya kembali menyatu untuk yang kedua kali.


"Kalau posisinya seperti ini akan cepat sayang, percayalah," ucap Hanan dan hanya dijawab lenguhan oleh Sena.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selesai sarapan dan membersihkan tubuh, Hanan dan Sena memutusan untuk keluar, menemui Noah yang sedang berada di dalam kamarnya sendiri bersama sang babysister, Tia.


Saat itu juga, Hanan meminta Tia untuk kleuar lebih dulu. Hanan, ingin memiliki waktu hanya bersama keluarga kecilnya.


Ini adalah kali pertama Sena bertemu dengan Noah. Jujur saja, ada rasa yang mengganjal dihatinya. Merasa tak pantas, merasa tak sanggup untuk menjadi ibu sambung yang baik untuk Noah.


Bayi mungil itu sudah kembali terlelap setelah subuh tadi terbangun.


“Noah, anak pertama kita,” jelas Hanan seraya memeluk pinggang sang istri untuk lebih dekat. Mereka berdiri disamping boxs bayi Noah.


Sena menoleh dan menatap lekat kedua mata sang suami.


“Apa Noah mau menganggapku sebagai ibu sambungnya Mas?” Tanya Sena yang tak percaya diri.


Mendengar itu, Hanan memposisikan tubuh mereka untuk saling berhadapan, lalu menyelipkan rambut sang istri yang tergerai kebelakang telinga.


“Dengarkan baik-baik,” ucap Hanan dan Sena bergeming, menunggu apa yang akan diucapkan selanjutnya oleh sang suami.


“Berhentilah memikirkan sesuatu hal yang akan membutmu sakit hati, cukup sayangi Noah seperti kamu menyayangi aku, nanti, Noah sendiri yang akan merasakan ketulusanmu.” Jelas Hanan panjang kali lebar. Berucap dengan menatap dalam kedua netra sang istri.


Hingga dilihatya bibir Sena yang mulai terangkat, membentuk sebuah senyuman, cantik sekali.


“Aku ingin kamu hanya tinggal di rumah dan tidak usah bekerja, apa kamu mau?”


Sena mengangguk.


“Aku akan mengirim uang untuk membantu mamak dan bapak di Palembang, jadi kamu tidak perlu mencemaskan mereka.”


“Terima kasih Sayang,” balas Sena, ia memeluk suaminya erat.


Tak disadari oleh keduanya, jika Tia mengintip mereka. Jujur saja, ia merasa iri melihat keberuntungn yang didapat oleh Sena, bisa menikah dengan seroang pewaris ExstraFood, padahal Tia tahu betul jika Sena hanyalah gadis desa.


Sena benar-benar datang ke rumah ini dan


menggantikan posisi majikannya, Lora.


Sebelum benar-benar dipenjara, Lora berpesan pada Tia, untuk membuat anaknya, Noah membenci perempuan licik itu. Saat itu Tia


mengangguk patuh, terlebih ia mendapatkan bayaran lebih untuk itu semua.


Dengan perlahan, Tia kembali menutup pitu itu. Lalu beranjak pergi dari sana dengan mengendap.


Di ujung sana, Nadia menatap bingung dengan kelakukan Tia. Merasa heran, akhirnya Nadia pun mendatangi kamar Noah.


Dibukanya pintu kamar itu tanpa mengetuk lebih dulu, seketika Hanan dan Sena pun menoleh ke arah pintu yang terbuka.


“Mbak Nadia,” sapa Hanan dan Nadia pun masuk ke dalam kamar itu.


“Apa kalian sudah lama disini?” tanya Nadia langsung, Hanan dan Sena komppak mengangguk.


“Kalian meminta Tia untuk keluar?” tanya Nadialagi yang membuat kening Hanan berkerut, bingung.


Sena menganguk dan Hanan yang buka suara untuk menjawab, “Iya Mbak, dari awal kami masuk aku  sudah memintanya untuk keluar, kenapa?” Tanya Hanan yang jadi curiga.


“Dia sepertinya menguping pembicaraan kalian tadi, Mbak lihat dengan jelas, dia baru saja meninggalkan  pintu kamar ini dengan mengendap,” jelas Nadia apa adanya sesuai dengan yang dia lihat.


Mendengar itu Hanan dan Sena saling pandang.


Benarkah? Batin keduanya kompak, padahal tadi mereka melihat dengan jelas Tia yang kelur dan menutup pintu.


“Tia itu pelayannya Lora, sebaiknya kalian cari babysister yang baru, mbak rasanya tidak nyaman kalau Noah dijaga oleh Tia,” ucap Nadia.


Hanan dan Sena makin bingung dibuatnya, terlebih selama ini bagi Hanan Tia tak pernah membuat kesalahan sedikitpun, bahkan saat


ia pergi ke Palembang, Tia menjaga anaknya dengan baik. Namun Hanan tak bisa mengabaikan begitu saja ucapan sang kakak ipar.


“iya Mbak, nanti aku cari penggantinya,” jawab Hanan kemudian dan Nadia bernapas lega.


Lalu Nadia pamit keluar dan kembali meninggalkan sepasang suami istri itu di dalam sana.


“Apa iya mbak Tia berniat jahat pada Noah Mas?” tanya Sena yang mendadak merasa tak nyaman pula, setahu Sena Tia adalah pengasuh yang baik, sebelumnya ia sudah banyak tahu tentang Tia dari Felli.


“Nanti kita lihat di CCTV, lihat rekaman di dalam kamar ini dan juga keadaan diluar kamar. Seperti yang diucapkan mbak Nadia atau tidak. Kalau benar, tinggal kita ganti saja babysisternya, itu tidak sulit,” jelas Hanan yang tak ingin membuat Sena merasa cemas, meski hatinya sendiripun merasa geram.


Sena mengangguk, namun setelah itu Sena meminta untuk membawa Noah ke kamar mereka saja dan Hanan menyetujui.


Mencegah lebih baik daripada mengobati, begitulah yang mereka pikirkan.