
Pagi-pagi sekali, Hanan membawa sang ibu untuk pergi ke Palembang. Bagas dan Felli ikut bersama mereka. Sementara Yoana nemilih untuk tinggal, bukan masalah trauma naik perahu ketek, namun memang karena ada pekerjaan Hanan yang tidak bisa ditinggal dan ia yang menggantikan.
Namun sudah berulang kali juga, Yoana mengingatkan Hanan jika sebaiknya sebelum naik perahu ketek itu, mereka suntik anti mabuk. Karena obat-obatan biasa tidak akan mempan.
Diingatkan seperti itu Hanan malah terkekeh.
Ada-ada saja, jawabnya kala itu sambil menggelengkan kepala.
Ya sudahlah, batin Yoana pasrah.
Dari Jakarta ke Palembang, mereka menggunakan helikopter. Dari Palembang kota ke desanya Sena, mereka menggunakan perahu ketek.
"Kita niak ini Ma," ucap Felli yang kala itu lebih menyerupai tour guide. Mariam meminta Felli untuk memanggilnya dengan sebutan Mama, sama seperti Sena.
Mariam tersenyum, ini bukan pertama kalinya ia menaiki perahu ini. Dulu, saat masih berjuang bersama sang suami ia sempat menaiki perahu ketek.
Mariam lalu menganguk dan menerima uluran tangan Felli untuk segera masuk. Satu perahu ketek itu sudah mereka sewa untuk 4 orang.
Hanan dan Bagas pun mengikuti.
Hanan sedikit terkejut, saat mesin perahu itu dinyalakan. Terdengar sangat kasar di telinganya.
"Bismilah sayang," ucap Mariam pada semua orang.
Dan setelah itu, perahu mulai melaju.
Beberpa jam kemudian, mereka sudah sampai dipinggiran desa.
Mesin perahu ketek itu sudah mati, menyisahkan dua pria yang nyaris mati pula.
"Huwek!" muntah Hanan dan Bagas kompak.
"Huwek!" mereka muntah lagi.
"Huwek!" dan lagi.
"Bagaiman ini Ma? kasihan om Hanan dan pak Bagas, tapi kita masih harus jalan, 20 menit lagi baru sampai di rumah Sena," ucap Felli dengan cemas, was was tak menentu.
Disini juga tidak ada ojek, apalagi kursi roda, yang ada ya cuma keranda. Batin Felli bingung sekali.
"Ya sudah, kita papah saja mereka. Kamu pegangi Bagas, biar mama pegang Hanan," usul Mariam dan Felli menyetujui tanpa pikir panjang.
Disepanjang perjalanan itu, ada sepasang jantung yang berdetak tak beraturan.
Kedua pipi Felli merah bak kepiting rebus, wajahnya merona. Tak menyangka jika reaksi tubuhnya akan sedasyat ini.
Ternyata berdekatan dengan Bagas sesuatu yang buruk baginya.
Karena kondisi Hanan dan Bagas yang tidak memungkinkan, kedua pria itu langsung dibawa ke rumah pak RT dan di rawat disana.
Jadilah hanya Mariam yang menemui kedua orang tua Sena.
Berulang kali Mariam memohon maaf, atas ketidakmampuan sang anak dalam naik perahu ketek.
Sarni dan Rudi menggeleng, mereka berdua justru merasa iba.
Panjang lebar Mariam menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu untuk mempersunting Sena untuk sang anak Hanan.
Tanpa segan pun Mariam menceritakan jika Hanan adalah seorang duda dan memiliki satu anak yang masih berusia 3 bulan, Noah namanya.
Demi lamarannya diterima, bahkan Mariam pun mengatakan jika ia bersedia merawat Noah jika seandainya anak itu menjadi penghalang dianatara Hanan dan Sena.
"Tidak Bu, tidak seperti itu. Jika Sena menikah dengan nak Hanan, maka Noah juga adalah tanggung jawabnya. Kami sebagai orang tua hanya bisa merestui, mendoakan yang terbaik untuk Sena," balas Sarni.
Bahkan Sarni pun mengatakan jika Sena juga bukanlah orang yang sempurna, masih banyak kekurangannya. Sarni bahkan memohon, agar kelak Mariam pun menerima Sena apa adanya, menyayangi Sena seperti anaknya sendiri.
Mariam tersenyum, ia lalu memeluk sang calon besan erat dan Sarni pun membalasnya.
Perbincangan malam itu usai, mereka sepakat untuk menggelar pernikahan 2 minggu lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, kesadaran Hanan dan Bagas kembali. Hanan terkejut saat melihat jam dipergelangan tangannya menunjukkan waktu jam setengah 9 malam.
Diterima atau ditolak?
Kapan nikahnya?
Hanan keluar dari dalam kamarnya dan mencari keberadaan sang ibu. Untunglah saat itu ia langsung melihat Mariam.
"Ma," panggil Hanan seraya mendekat.
"Kenapa sekarang sudah malam, bagaimana dengan kedua orang tua Sena?" tanya Hanan tidak sabaran.
"Sabar Han, semuanya sudah beres. 2 minggu lagi kalian menikah. Besok kita sudah bisa pulang."
"Pulang? aku saja belum bertemu dengan Sena Ma!" kesal Hanan.
"Anggap saja kalian sedang dipingit."
"Dipingit?!" tanya Hanan dengan suara meninggi, ia memegani tengkuknya yang terasa berdenyut.
Tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang mama.
Melihat itu Mariam terkekeh, tak peduli Mariam langsung berlalu, masuk ke dalam kamarnya sendiri dan beristirahat.
Sementara Hanan berulang kali menggelengkan kepalanya.
"Tidak, malam ini tidak boleh berakhir begitu saja."
Dengan yakin, Hanan memutuskan untuk ke rumah Sena. Tak jauh dari rumah pak RT tempatnya menginap.
Dengan pelan, ia mulai mengetuk.
Mengetuk jendela yang diyakininya sebagai jendela sang calon istri.
Dan benar saja, dilihatnya Sena yang membuka tirai itu.
Dengan perasaan takut, Sena membuka jendelanya. Dan tanpa permisi, Hanan masuk seperti seorang pencuri.
Belum sempat Sena protes, Hanan sudah membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman. Ciuman rindu yang begitu dalam.
2 bulan lebih mereka tidak bertemu, tak ada pula belaian apalagi sentuhan. Hanan, tak bisa menundanya lagi, terlebih ia sudah berada disini.
Awalnya Sena berontak, namun lambat laun ia menggantungkan kedua tangannya dileher sang kekasih.
Hingga tak terasa, Hanan terus mendorongnya hingga mereka berbaring diatas ranjang.
Suara decapan tersengar merdu, terlebih sebelumnya Sena sudah mematikan lampu.
Tangan Hanan merayap turun, namun dengan cepat Sena menghentikan.
"Sayang, ingat janjimu," bisik Sena dengan suara terengah.
"Aku hanya ingin memegangnya, tidak memasukinya," balas Hanan cari pembelaan.
"MAMAK!" teriak Sena, dan Hanan langsung membekap mulut itu dengan satu tangannya.
"Gadis nakal," desis Hanan seraya menarik hidung Sena gemas.
Sena terkekeh, pintunya tadi sudah ia kunci.
"Aku merindukanmu, sangat," desis Hanan dengan tatapannya yang dalam, menatap Sena yang berada dibawah tindihannya.
"Aku juga merindukanmu, sayangku."
"Cium lagi ya? sedikiit," pinta Hanan.
Dan dengan terkekeh, Sena lebih dulu memulai penyatuan bibir mereka. Karena sebenarnya, Sena pun begitu rindu. Namun salah satu diantara mereka harus ada yang bisa menahan.
Agar tak ada penyatuan itu lagi sebelum mereka menikah.
Cukup lama keduanya saling berpaut lalu memeluk erat.
Hingga dipertiga malam, Hanan baru keluar dari dalam kamar Sena.