
"Liah, anak kamu haus."
Suara Amel membuat lamunan Liah buyar. Liah tersenyum kemudian mengambil alih anak nya dari gendongan Amel. Wajah Thalita sangat teduh dibandingkan Aulia dan Lisa. Liah memberikan ASI kepada Thalita terlebih dahulu. Lisa terkekeh saat melihat adiknya yang begitu lucu saat minum ASI.
Sedangkan Aulia, gadis itu masih mengamati wajah kedua adiknya yang nampak berbeda dari nya dan Lisa. Liah seakan tau kebingungan putrinya pun angkat bicara.
"Kalau kamu tanya, adek mirip siapa. Jawabannya gak mirip siapa siapa, contohnya kamu sama Lisa. Sama pabriknya tapi beda bentuk." Kesal Liah membuat Aulia terkekeh.
"Mama tau aja, kirain nemu dimana gitu Ma." Ujar Aulia membuat para orang tua menggelengkan kepala.
"Dulu Mama nemu kamu di kang cilok depan rumah." Asal Liah membuat Lisa tertawa melihat sikap adiknya yang lucu.
Sesaat kemudian, Lisa teringat akan sebuah geng pembunuhan yang ada dijalan Mawar 09 tadi sore. Ia berniat bertanya kepada Mama nya namun takut kalau Mama dan Papa nya akan marah. Liah tak sengaja melihat kegelisahan putri pertamanya. Liah tau kalau wajah Lisa saat ini pasti akan bertanya tentang Mafia.
"Kenapa, mau tanya soal Mafia lagi?" Tebak Liah membuat Lisa menunduk.
"Maaf Ma," Lirih Lisa membuat Liah menghembuskan nafas panjang.
"Sekarang apapun tergantung kalian menghadapi serta menyikapi permasalahan yang ada. Mama dan Papa gak akan bisa selalu bersama kalian."
Lisa menatap Mama nya sendu, "Mama sama Papa bakalan panjang umur. Lisa jamin." Ujar Lisa meneteskan air mata.
"Itu kamu tau, kita gabakal tau apa yang terjadi setelah ini."
Yang lain nampak hanya menyimak, sedangkan Shella berpura-pura tertawa dengan Thalita. Elang juga hanya menunduk, jujur saja ada perasaan tak enak dihati nya saat ini. Lisa diam diam meneteskan air mata. Liah pun mengambil lengan putri nya dengan tangan kanan dan mengusap nya perlahan.
"Jika benar terjadi sesuatu di hari nanti, Mama minta kamu jadikan Thalitha dan Sabitha anak angkat kamu." Ucapan Liah membuat Lisa terkejut.
"Kenapa mesti anak angkat, mereka adik aku Mama." Ujar Lisa bingung.
"Suatu saat lagi kamu akan menemukan cintamu Nak, dan Mama harap nereka bisa saja mendapatkan kasih sayang kedua orang tua." Ujar Liah tak henti hentinya mengecup pipi anak nya itu.
Lisa hanya diam, dia menangis dalam diam. Aulia dan yang lain juga demikian, Elang sudah bisa menebak jika akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Elang memberikan Thalita ke gendongan Aulia yang paling dekat dengan pintu keluar, dengan tangis yang menyakitkan, Aulia menerima adiknya dan mendekapnya.
Liah tersenyum setelah memberikan ASI kepada Sabitha. Dia mengecupi wajah Sabitha dengan sayang. Liah meneteskan air mata hingga terjatuh ke pipi tembab Sabitha. Dia memberikan Sabitha ke Lisa dan dengan segera Lisa mendekap adiknya yang ia sayang itu.
"Pergi sebelum terlambat." Ujar Liah menangis terisak sambil mencium pipi anaknya.
"Mama." Lirih Lisa dibalas gelengan oleh Liah dan Elang.
Lisa berlari sembunyi dibalik pintu ruangan sebelah bersama Aulia dan kedua adiknya. Beberapa saat kemudian terdengar suara dobrakan keras membuat Lisa menggigit bibir bawahnya. Lisa mengintip dari celah pintu dan betapa terkejutnya Lisa saat melihat ada Viona.