
Lisa kembali ke tempat penyiksaan sambil meminum soda yang ada di tangan nya. Sesampai nya dia disana, dia tersedak soda hingga menyemburkan minumannya ke samping. Mulut nya menganga melihat aksi gila Thalita yang bukan seperti anak seusia nya. Dia memotong jari tangan Viona dengan keadaan tangan Viona terikat atas bantuan mafioso.
"Thalita? What the hell? " Pekik Lisa menghampiri anak nya.
"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Lisa tak percaya.
"Kata nya mau buat sate? gimana sih Ma, Thalita kan lagi ngambil daging nya." Kata Thalita polos sambil memotongi tangan Viona di atas telenan.
"Lalu? Kenapa Viona menutup mata? apa dia sudah Mati? Astaga Thalita!!" Kata Lisa mengusap wajah frustasi.
Thalita menggeleng, "Dia bikin telinga Thalita sakit, ke sombongan nya tak sebanding dengan teriakan nya. Jadi Thalita bius." Kesal Thalita kesal dan membarut barut tangan Viona kasar.
Lisa menghela nafas lega, dia hanya ingin mendengar Viona berteriak kesakitan dan meminta agar dia mati saja, tapi itu tidak akan dilakukan Lisa begitu saja. Lisa berjalan mendekati salah satu mafioso yang berdiri tak jauh dari pintu besi. Mafioso itu menunduk hormat seperti kebiasaan orang jepang lain.
"Nona Thalita sangat sadis, Nyonya." Kata mafioso bergedik ngeri membuat Lisa menggelengkan kepala.
"Dia seperti itu tidak ada yang mengajari nya, semua alami dari bakat nya." Kata Lisa pelan.
"Sungguh?" Kata Mafioso tak percaya, dan diangguki Lisa.
"Boleh minta tolong? Tolong ambilkan air dingin dan jeruk nipis, kecap, bawang merah iris, cabai iris dan tomat iris." Kata Lisa diangguki mafioso.
"Baik nyonya."
Lisa mengamati Thalita dari jauh, sebenarnya, Lisa saja tidak berminat masuk mafia milik nenek nya itu. Tapi karena di selimuti dendam, Lisa mencari tau tentang kebenaran mafia BL dan BS yang ternyata diketuai nenek dan Mama nya. Lisa akhirnya mengaktifkan kembali mafia itu dengan bantuan Om Heru, sahabat Elang. Dari situ Lisa belajar bela diri dan memakai senjata. Empat tahun lalu, saat pertama kali dia ikut bergabung untuk membantu menyerang markas lawan, dia ingin sekali muntah akibat kepala menggelinding tepat di kaki nya, apalagi saat darah berceceran, dan mata yang melotot, jangan lupakan lidah yang menjulur membuat Lisa terbayang hingga satu tahun sesudah nya.
"Ini salah gue karena melibatkan Thalita ke dalam dunia kejam itu." Kata Lisa lirih.
"Oh my god, itu Thalita?" Suara terkejut dari belakang membuat Lisa ikut terkejut.
Bugh!
Lisa membogem dada Aldrick membuat pria itu meringis, Lisa pun mengelus-elus dada Aldrick yang terasa sakit.
"Kamu ngagetin aja kak." Kata Lisa kesal.
"Dia benar Thalita?" Ulang Aldrick yang melihat Thalita sangat senang dan cekatan menusuk jari itu ke tusuk sate.
"Menurutmu?" Ketus Lisa.
"Child psyco." Kata Aldrick sambil menggelengkan kepala.
"Apa dia tidak jijik dengan itu semua?" Tanya Aldrick membuat Lisa makin kesal.
"Gimana mau jijik, dia saja bilang kalau darah itu manis." Ketus Lisa mencak-mencak lalu pergi.
Lisa mendengus kesal, peran nya yang seharusnya dia untuk menyiksa Viona telah di ambil alih oleh anak gadis yang imut itu. Jika saja dia tidak sayang dengan Thalita, sudah pasti Thalita akan di kembalikan ke perut ibu nya.
*
"Akhirnya selesai, Yeayy!!" Sorak Thalita senang dan mengangkat sate nya tinggi-tinggi.
Thalita berdiri dan menghampiri salah satu mafioso, "Om, tolong bakarin dong, jangan gosong ya, jangan dimakan juga, ini khusus untuk tamu Mama." Kata Thalita memberikan nampan berisi sate jari manusia.
"Saya tidak minat dengan sate ini Nona, jika ingin, saya akan lebih suka kalau Nona membuatkan sate dari lembu." Kata Mafioso membuat Thalita tertawa.
"Minta saja uang sama Papa untuk membeli makanan, jika Papa menolak, bilang saja kalau ini permintaan dari Thalita." Kata Thalita diangguki psnuh semangat mafioso.
"Terimakasih nona." Kata Mafioso.
"Thalita!" Kesal Thalita meralat kata-kata nya.
Thalita berjalan menuju Lisa dan Aldrick yang sedang duduk dan memperhatikannya. Thalita duduk ditengah-tengah mereka dan menyandarkan kepala nya di dada Papa nya. Aldrick tersenyum dan mengelus rambut Thalita sayang.
"Seharusnya itu tugas Mama, Thalita." Kesal Lisa membuat Thalita menoleh sambil memperhatikan cengiran manisnya.
"Thalita gemas dengan jari-jari iblis itu, karena jari itu yang digunakan untuk memukul Selatan dan Galaksi." Kesal Thalita membuat Lisa melotot.
"Dia melukai Galaksi dan Selatan?" Pekik Lisa geram.
Thalita mengangguk, "Kalau tidak, pasti Selatan dan Galaksi tidak jatuh sakit." Kata Thalita membuat Lisa mengepal tangan nya.
"Tenang, hari ini akan kita balas perbuatannya selama ini." Kata Aldrick menenangkan Lisa.
Thalita teringat akan ucapan Mama saat di perjalanan tadi, Thalita beralih menatap Aldrick dengan serius. Thalita menggoyangkan tangan Aldrick dengan tangan mungilnya yang masih berlumuran darah segar yang hampir mengering itu.
"Papa." Bisik Thalita mendekatkan bibirnya di telinga Aldrick.
"Iya? Ada apa?" Tanya balik Aldrick sambil berbisik.
"Ayo kita pulang ke negara Papa, Thalita ingin naik buaya." Rengek Thalita berbisik membuat Aldrick melotot.
"Apa?! Dia bukan untuk di tunggangi Thalita, kalau Thalita mau, nanti naik kuda sama Papa." Bujuk Aldrick yang mendapatkan gelengan maut dari Thalita.
"Thalita cuma mau naik buaya, mereka lucu saat moncong nya mencabik daging." Kata Thalita sukses membuat Aldrick kalang kabut.
Kalau gak dituruti, bisa jadi aku seperti Viona. ~Batin Aldrick
"Iya, nanti kita pulang kesana." Kata Aldrick pasrah.