MY LOVE For MAFIA

MY LOVE For MAFIA
PEMAKAMAN



Lisa tersenyum saat kedua anak angkat nya sangat pintar dan tidak merepotkannya. Mungkin mereka tau kalau bunda nya masih muda dan sedang dalam cuaca hati yang memburuk. Lisa menggantikan baju si kembar dengan baju yang dibelinya tadi. Sebenarnya Lisa sudah ada persiapan membeli banyak baju bayi dan diletakkan di bagasi sesuai permintaan mendiang Mamanya. Lisa tak henti hentinya mengecup wajah Thalitha dan Sabitha yang mirip dengan Mama nya, sedangkan mata dan hidungnya mirip Elang.


"Kuatkan hati hamba tuhan." Lirih Lisa memakai baju serba hitam.


Lisa tersenyum kemudian meletakkan Thalita ke gendongannya, dia menunggu Aulia selesai mandi untuk membantu menggendong Sabitha.


"AULIAA.. KENAPA LAMA BANGET!" Teriak Lisa membuat Sabitha terkejut dan menangis.


"HAHAHAHA!!" Tawa Aulia memenuhi ruangan membuat Thalita ikut menangis.


"Kenapa kenceng banget sih, lihat Thalita sama Sabitha nangis nih." Kesal Lisa menepuk nepuk bokong keduanya hingga kembali terlelap.


"Anak bunda pinter," Lirih Lisa kemudian menggendong Sabitha dan menyerah kan Thalita ke Aulia.


Aulia menerima dengan senang hati adiknya itu, mereka keluar dari rumah dan melajukannya ke tempat pemakaman umum. Bu Aini menguburkan keluarga Lisa dan Aulia di samping kuburan Alizabete, Marisa, Ryan, dan Alexander. Lisa sudah tak bisa membendung air mata nya yang selalu luruh jatuh membasahi pipi nya. Dia sudah tak bisa berpura pura kuat kembali dihadapan orang lain. Prosesi pemakaman dengan agama nya pun berjalan tanpa ada insiden pertumpahan darah kembali. Semua orang pulang satu persatu menyisakan Lisa, Aulia, Bu Aini beserta suaminya dan sahabat Mama dan Papa nya.


"Mama, Papa, Oma, Opa, maafin Lisa gabisa nyelametin kalian semua. Hikss.. Lisa sayang kalian." Isak tangis Lisa membuat orang orang yang ada disana ikut meneteskan air mata.


"Kak, ikhlas." Lirih Aulia makin membuat Lisa terisak.


Diego dan Azura berjongkok disamping Lisa, Azura menepuk bahu Lisa dan mengelusnya sayang. "Yang sabar ya, tuhan ingin menjadikan hamba nya seorang yang kuat." Lirih Azura sambil tersenyum yang dibalas anggukan lemah dari Lisa.


"Sekarang kita pulang, kasihan sikembar jika terlalu lama disini." Ujar Celsea mewakili sahabatnya yang lain.


Lisa dan Aulia mengecup nisan Mama dan Papanya bergantian, "Lisa sayang Mama, Papa. Lisa janji akan merawat dan memberikan kasih sayang sama si kembar seperti kasih sayang orang tua." Lirih Lisa meneteskan air mata terakhir yang mengenai tanah kuburan Mama nya. Lisa dan Aulia berdiri kemudian menghampiri Bu Aini dengan suaminya.


"Bu, terimakasih banyak sudah membantu kami." Lirih Lisa.


"Kalian jangan terlalu larut dalam kesedihan ya." Ujar suami Bu Aini diangguki Aulia dan Lisa.


"Kami permisi bu, pak. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya." Ucap Lisa dan Aulia berbarengan membuat Aini dan suaminya tersenyum.


Anak yang sopan, semoga selalu bahagia dan dimudahkan segala urusannya. ~Bu Aini.


Di perjalanan kembali ke mobil, Aulia tak sengaja menabrak bahu seorang pria membuatnya terhuyung ke depan dan tubuhnya ditahan oleh tangan kekar tersebut, Aulia menghapus air matanya kemudian mendongak keatas mendapati Pak Zefann yang menatapnya jengkel.


"Kalau jalan hati-hati, boneka hantu kamu gak ikut?" Sinis Zefann yang berniat menjahili Aulia seperti tadi pagi saat disekolah.


Aulia hanya menatap Zefann sendu, dia kemudian memeluk Thalita dan pergi dari sana membuat Zefann mengerutkan dahi dan sedikit khawatir melihat mata Aulia yang sembab dan membawa anak yang baru lahir dipemakaman.


"Kenapa dia? Jangan-jangan?" Wajah Zefann mulai panik, dia kemudian menekan nomor di ponselnya dan menelpon seseorang.


______________________________


Aulia dan Lisa sudah sampai di rumah, keduanya saling menguatkan dan bersikap seolah tak terjadi apa apa sebelumnya. Lisa membelikan kereta dorong untuk si kembar agar memudahkannya untuk membawanya kemana-mana. Sedangkan Aulia, gadis itu mencoba membuatkan susu formula untuk si kembar dengan takarannya.


"Ini kepanasan gak ya?" Gumam Aulia meneteskan susu ke punggung tangannya.


"Heemm.. terlalu panas!" Kesal Aulia kemudian merendam sebentar botol susu dengan air biasa.


Sedangkan di taman belakang, Lisa kalang kabut saat Thalita dan Sabitha menangis bersamaan karena lapar. Lisa mengumpat sumpah serapah dalam hati karena Aulia sangat lama membuatkan susu.


"Auliaaa, mana susu nya. Baby Twins udah laparrr!!" Ujar Lisa setengah berteriak membuat Aulia langsung berlari membawa botol susu.