
Aldrick tersenyum sinis mendengar ucapan Mamanya yang berkata seperti itu, bukan kah dia juga salah mendidik nya hingga seperti ini. Bayangkan saja, Aldrick kecil saat berumur 5 tahun harus mengikuti pelatihan tembak dan memanah di mansion nya. Peluru meleset atau anak panah yang melukai tubuhnya ia dapatkan tanpa menangis demi membuat Mama nya tersenyum bahagia. Dan sekarang? apa yang ia katakan dengan membalas budi? Pikir Aldrick.
"Ingat ini Mama, sejak kecil aku tak pernah mendapatkan kasih sayang seperti anak seusiaku. Dimana anak anak asyik bermain dengan yang lain, bagaimana dengan kisahku? hanya pertumpahan darah tanpa ada tangisan di mansionmu!"
Qi Wo Jione hanya diam mendengarkan kemarahan putra nya, dia menyadari kalau memang didikannya dimasa lalu adalah salah. Namun bukankah nasi sudah menjadi bubur? sudah terlanjur tidak bisa dibenarkan dengan mudah kecuali dibuat kerupuk.
"Dan untuk perjodohan ku dengan Mauren atau sesiapa pun itu. Aku tak akan pernah mau. Aku akan mencari pelabuhanku sendiri!"
"Tapi Mauren juga gadis mafia seperti kita, dengan adanya perjodohan ini. Maka organisasi kita akan semakin kuat dan kalau kalian menikah akan menghasilkan keturunan khas mafia kita Aldrick!" Bantah Qi Wo Jione
Aldrick tersenyum sinis menanggapi ucapan Mama nya yang masih memperhatikan organisasi dibandingkan kebahagiaan anaknya. Aldrick dan Zefann sudah dijodohkan dengan Mauren dan Morfen. Mereka memang sama sama cantik dan kuat. Mereka beberapa kali diperintahkan oleh orang tuanya untuk menjaga perbatasan yang banyak penyusup bahkan serigala ganas yang siap merobek kulit mulusnya.
"Apa dipikiran Mama saat ini hanya penerus Mafia? Bukan kebahagiaan anakmu?"
"Kamu akan bahagia dengan pilihan Mama. Mama atau Papa tidak akan menyetujui calon yang bukan keturunan dari Mafia!" Tutup Qi Wo Jione marah dan memutus sambungan sepihak.
Zefann hanya menjadi pendengar perdebatan Mama dan Kakak nya. Dia memang tak pernah membantah Mamanya soal perjodohannya dengan Morfen, tapi apalah daya jika dia memang tak menyayangi Morfen. Aldrick memijit kepalanya yang pusing, niatnya pergi ke negara orang adalah menghindari perjodohan tanpa melukai hati orang tuanya. Tapi nampaknya orang tuanya tidak peduli akan hal tersebut.
"Kenapa? Aulia sedang bersedih saat ini. Bahkan dia mengacuhkanku!" Lirih Zefann membuat Aldrick menepuk pundaknya.
"Sudah saat nya kamu bahagia, cukup aku saja yang menderita karena Mama. Kamu, kejarlah cintamu." Ujar Aldrick kembali ke mode awalnya, tak kenal kawan dan lawan. Dia akan formal kepada semua orang.
"Kak," Panggil Zefann lirih yang melihat kakaknya pergi keluar untuk menenangkan diri.
Aldrick memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia pergi ke kebun binatang untuk menghilangkan stresnya, biasanya dia akan pergi ke Bar untuk mabuk agar bisa menghilangkan rasa suntuknya. Namun, entah mengapa rasanya seperti ada panggilan telepati antara hati yang mengajaknya kemari. dia turun dan berjalan menuju tempat hewan hewan buas. Tak disangka dia bertemu dengan Lisa yang mendorong kereta bayi kembar sedang mengamati harimau harimau dewasa dari dekat tanpa takut akan terjadi penyerangan dari hewan tersebut. Bahkan yang membuat Aldrick tercengang adalah saat Lisa mengelus kepala hewan tersebut seperti mengelus kucing.
"Lisa!" Panggil Aldrick membuat Lisa menoleh dan menatapnya kesal.
"Ada apa pak?" Tanya Lisa dongkol.
"Kamu ngapain disini?" Pertanyaan tak berbobot membuat Lisa makin kesal.
"Cuci baju!"