
Jlebbb!!
Pria itu melotot menahan sakit di dadanya, Thalita melepaskan tangannya dan membiarkan pisau lipat menancap di dadanya. Tubuh penjaga tersebut ambruk dengan tangan memegangi pisau lipat Thalita. Thalita menggelengkan kepala kemudian menginjak pisau lipat tersebut hingga pisaunya makin tertanjap dalam di dada orang tersebut. Seketika penjaga tersebut tewas dengan mata yang melotot.
"Sekarang siapa yang nyusahin?" Kesal Thalita menyeret tubuh penjaga tersebut ke belakang bathup.
"Berat banget sih, makan apaan selama hidup? Beton tujuh rupa? atau kacang bentuk jagung?" Kata Thalita terus mendumel.
"Jangan gentayangin Thata ya?" Kata Thalita terkekeh kecil saat melihat mayat tersebut tidak terlihat.
Thalita menyiram darah yang ada di lantai menggunakan air dan pembersih lantai, bau anyir darah perlahan menghilang dan digantikan dengan bau harum. Thalita menyelupkan pisau lipatnya di air sehingga pisau nya kembali bersih, dia meletakkan pisaunya disela pergelangan jaketnya.
Thalita keluar dari kamar mandi dan menutupnya seperti semula, penjagaan di dalam mansion sudah berkurang satu. Dia berjalan menuju segerombolan penjaga dengan tubuh tegap.
"Om, temen Om ada yang pingsan dikamar mandi Om. Tadi katanya pusing, terus waktu mau Thalita bantu berdiri malah jatuh pingsan." Kata Thalita dengan wajah polosnya.
"Dimana dia?" Tanya salah satu orang tersebut.
"Di toilet yang lorong nya panjang itu loh Om." Kata Thalita lagi.
"Baiklah, terimakasih gadis kecil." Katanya diangguki Thalita.
Sepuluh orang bertubuh kekar masuk kedalam kamar mandi yang luas itu, mereka celingak celinguk mencari temannya yang pingsan, tak ditemukan apapun disana. Hanya ada percikan darah yang masih baru.
"Apa ini? apa gadis cilik itu mempermainkan kita?" Tanya salah satu orang itu.
"Lalu darah siapa ini?" Tanya orang itu.
"Entahlah, lebih baik kita kembali." Kata nya membalikan badan.
Tubuh mereka semua kompak basah kuyup, Thalita tersenyum saat mereka memegangi kepalanya yang terasa pusing akibat obat bius yang diberikan Thalita didalam air tersebut. Mereka satu persatu berjatuhan di lantai. Seperti sebelumnya, Thalita menusuk jantung, perut, dan pergelangan tangan membuat orang orang tersebut mati dalam keadaan tidak sadar.
Jangan kamu pikir gadis cilik yang polos ini akan takut dengan darah, aku makin suka jika darah segar itu menyentuh bibirku ~Batin Thalita mengusap percikan darah yang ada dibibirnya.
"Manis." Gumamnya sambil menyeringai.
"Sebelas orang telah tiada, masih tersisa 39 orang lagi yang ada didalam." Kata Thalita mengelap semua darah yang ada ditubuhnya dan mengusapkan pengharum ruangan ke jaketnya.
"Kenapa malam lama sekali?" Keluh nya.
*
Di lain tempat, Lisa membulatkan mata nya saat mendengar semua perkataan dari anak nya. Dia tak menyangka jika Thalita bisa membunuh sebelas orang dengan waktu yang singkat. Belum sampai satu jam, ooh ralat, belum sampai 15 menit ia lakukan dan sebelas orang telah tewas ditangannya? Aldrick saja benar benar tercengang, ia tidak menyangka jika Thalita memiliki jiwa psyco yang besar.
"Apa dia benar-benar Thalita?" Kata Zefann ikut tercengang.
"Aku rasa bukan." Jawab Aulia.
"Kamu ajari apa saja anak kamu?" Tanya Aldrick masih mendengarkan suara Thalita dari sana.
Lisa menggeleng, "Aku tidak pernah mengajarinya seperti ini, hanya bela diri biasa yang diajarkan Arsen padaku. Tapi? kenapa dia tak merasa bersalah sama sekali?" Kata Lisa heran.
"Hah.. dia mungkin memiliki sedikit kelainan." Kata Aulia.
"Psikopat." Gumam Aldrick pelan.
"Kita berangkat sekarang, sebentar lagi matahari sudah mulai tenggelam dan Thalita akan mengadakan pembunuhan besar-besaran." Kata Lisa diangguki semua.