MY LOVE For MAFIA

MY LOVE For MAFIA
FLASHBACK



Kain putih dengan tumpahkan tinta hitam, apakah mudah menghilangkannya? tidak, begitu juga rasa benciku terhadapmu! ~Shysy Lisa Anneth.


__________________


-Ini Flashback waktu pembantaian besar besaran di barat ya;)


Bom buatan yang diambil dari hasil penjualan ilegal ini diledakkan di salah satu perbatasan negara ini. Penjagaan yang semula ketat menjadi sedikit sepi. Dua orang bertopeng, bersembunyi di balik pohon sambil membawa senapan jarak jauh ditangannya. Mereka adalah Lisa dan Arsen, Lisa sendiri dibalik topengnya ia meneteskan air mata jika sampai pria yang ia sukai mati ditangan nya. Namun, apalah daya jika Aldrick merupakan orang suruhan yang digunakan Viona untuk membunuh semua keluarganya.


"Jangan melamun, bisa-bisa kamu yang akan mati disini." Peringat Arsen.


"Diam atau kamu yang akan ku bunuh Arsen." Dingin Lisa.


"Cih, gak ada harga dirinya aku disini sebagai pemimpin mafia." Heran Arsen membidik sasarannya ke arah Aldrick.


"Tunggu, biar aku saja." Datar Lisa membuang senapannya.


"Heh? kau gila melawan Aldrick tanpa senjata?" Pekik Arsen.


"Cih, aku sudah tau kelemahannya. Kamu diam disini awasi dan jaga aku dari belakang." Ketus Lisa pergi meninggalakan Arsen.


*


Aldrick heran, bagaimana bisa mafioso gabungan dari dua organisasi bisa tumbang dengan mudah. Apalagi dengan bom kecil seperti ini, Aldrick dengan bodoh nya dia maju tanpa membawa pelindung tubuh dan menampakan dirinya secara terang terangan dihadapan musuh. Entah kemana akal sehatnya, jika saja bukan Lisa yang menyerangnya, tentu Aldrick sudah mati di menit awal.


"Boss, pasukan kita hanya terisisa 200 orang saja." Lapor mafioso memegangi lengannya yang terkena timah panas.


"Bagaimana bisa? Aku melatihmu agar bisa menjaga diri. Bagaimana ini?" Panik Aldrick.


Dor


Peluru diluncurkan keatas membuat Aldrick dan satu mafioso tersebut secara serentak tiarap. Mereka melindungi kepalanya masing masing. Lisa tersenyum sinis sebelum menyimpan kembali pistolnya di tempatnya.


Prok.. prokk.. prokk..


"Siapa kamu? apa mau mu?" Dingin Aldrick.


Lisa menggelengkan kepala pelan, gadis itu tetap tak mau bicara dan kemudian meletakkan jempolnya di leher dan menariknya seperti mengisyaratkan jika ia akan membunuh Aldrick.


Sretttttt.. Bugh.. Bugh..


Lisa memberikan bogeman 2 kali di wajah Aldrick saat pria tersebut tak siap. Aldrick terkejut namun dia tetap membalas serangan dari Lisa.


Bughhh.. Bughh.. Bughh..


Lisa yang belajar kungfu beberapa bulan ini sangat membantu dirinya agar menjaga diri untuk tidak mudah disakiti. Dia membangun tembok agar tak mudah terpengaruh dengan kata-kata manis.


Dor!


Lisa terkejut kemudian menoleh kearah Arsen yang sudah meluncurkan peluru mengenai dada Aldrick. Lisa meneteskan air mata terakhir saat melihat tubuh Aldrick jatuh ke tanah. Gadis ini membuka topeng nya kemudian mengusap air matanya kasar dan pergi. Sebelum itu dia menembaki semua mafioso yang masih tersisa dan menyeret tubuh Arsen agar pulang.


"Maaf, tadi kelepasan. Aku sudah tidak tahan untuk tidak membunuhnya." Keluh Arsen melepas jubahnya yang terkena potongan daging manusia.


"Hemm." Balas Lisa datar.


"Kamu marah denganku?" Tanya Arsen lagi.


"Perhatikan jalanmu Arsen, aku belum mau mati muda." Sinis Lisa tanpa menatap Arsen.


"Dih, nyesel tau aku ngajarin kamu kungfu. Kamu juga lebih nyebelin dari yang pertama kali ketemu." Kesal Arsen membuat Lisa tersenyum tipis.


"Thanks." Singkatnya mengalihkan arah pandangannya.


Lisa melamun memikirkan adiknya yang seperti masih tertarik dengan Zefann, adiknya terlihat sedikit kurus karena memikirkan pria berdarah jepang dan china itu. Aulia juga mewanti-wanti Lisa agar tidak membunuh Zefann karena Zefann tidak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan orang tuanya. Kebetulan saja, pria itu tidak ada saat Lisa ingin membantainya.