
Seseorang di seberang sana mengerutkan dahi di saat ke khawatiran nya memuncak karena kehilangan Aulia di saat seperti ini.
"Lisa? apa maksudmu? Aku Zefann. Apa Lia ada bersamamu?"
"Mengapa suara kamu berbeda sayang? ada apa hemm? Iya, nanti akan ku puaskan kamu."
"Shit!! Dia mabuk. Dimana kau saat ini? Katakan padaku!"
"Apa sih sayang, iya habis ini aku pulang. Tenang saja, aku baik baik saja. Dan ingat ini, jangan pernah membenciku atas kematian orang tuamu."
Tut.
"Sial, jadi Lisa sudah tau? Jika Aldrick mabuk berarti Lisa tak bersamanya. Gawat, Aulia?!" Maki Zefann langsung pulang dari kantornya menuju tempat dimana Aldrick biasa mabuk.
Jangan membuatku khawatir Lia. Gumam Zefann dalam hati.
Zefann melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Bar. Hati nya berkecamuk saat mendengar telpon dari orang rumah jika Aulia tak lagi disana. Aulia dan Zefann hidup satu rumah yang berbeda dengan Lisa dan Aldrick, alasannya karena tak ingin mengganggu malam Lisa dan Aldrick saat ini walau Aulia terus menolak untuk tidur satu atap dengannya.
Zefann mengusap wajah nya kasar saat melihat Aldrick dibopong 2 orang suruhannya menuju mobilnya, dia saat ini sangat marah karena masalah kakaknya, dia harus kehilangan Aulia saat ini. Gadis indigo itu punya banyak jurus seribu satu cara untuk membuat orang orang disekitarnya terpengaruh oleh magic nya.
"Lihat? Karena mu sekarang Aulia pergi!" Maki Zefann yang tak digubris Aldrick.
Karena geram, Zefann membawa pulang Aldrick ke rumah nya. Pria itu menyeret tubuh kakaknya ke kamar mandi dan mengguyurkan tubuh kakaknya di malam yang dingin ini dengan air dingin dan membuatkan segelas susu hangat. Perlahan kesadaran Aldrick pulih walau masih terasa berat dan pusing.
"Dimana Lisa?" Tanya Aldrick memegangi kepalanya.
"Karena keegoisanmu itu, Lisa pergi bersama kedua anak nya dan Aulia. Aku tak tau dimana mereka sekarang, dia disini tidak begitu banyak memiliki data diri sehingga memudahkannya untuk kabur dari negara ini." Emosi Zefann membanting lampu tidur yang ada di nakas hingga pecah.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Aldrick dingin.
Aldrick langsung berdiri dari duduknya, dia menyambar kunci mobil milik Zefann dan membawanya pergi untuk mencari Lisa. Tak lupa dia menghubungi orang suruhannya untuk ikut andil mencari istri kecilnya tersebut. Dilain tempat, Lisa sedang di sekap oleh salah satu musuh Aldrick. Pria itu tersenyum sinis melihat walah Lisa yang tak ada takut takutnya dengan dirinya.
"Siapa namamu?" Tanya pria itu dingin.
"Lisa." Jawabnya seadanya.
"Cih, kau tak takut dengan ku bung?" Kata pria tersebut tak suka.
"Untuk apa takut, kau makan makanan yang sama seperti ku, kau bukan tuhan, dan walaupun kau seorang mafia yang siap menghabisi nyawaku, aku tak peduli." Sinis Lisa datar.
"Hemm.. pilihan Aldrick memang beda dari yang lain." Gumam Arsen tersenyum.
"Jangan katakan nama itu lagi." Dingin Lisa.
"Why? bukankah kau mencintainya?" Tanya Arsen.
"Berhentilah bermain-main denganku Arsen, kemarikan anak dan saudaraku." Bentak Lisa membuat Arsen terkejut.
"Kau membentakku?!" Tanya Arsen kesal.
"Kalau iya kenapa? cepat kemarikan adik dan anakku atau aku akan membunuhmu." Dingin Lisa.
"Cobalah kalau bisa." Ejek Arsen.
Lisa tersenyum sinis, tubuhnya dibawah kendali sihir Aulia. Gadis itu menatap dalam netra Arsen lalu menjentikkan jarinya membuat pria tersebut tak bisa menggerakan tubuhnya, melihat hal tersebut membuatnya panik. Lisa membawa katana yang ada disamping ranjang Arsen, dia melangkahkan kaki mendekat lalu meletakkan katana tersebut di leher Arsen.
"Aku tak akan membunuhmu jika kamu mau membantu ku Arsen." Lirih Lisa menyeringai.