
Aldrick dan Lisa menoleh bersamaan, dia terkejut saat melihat Thalita ada diambang pintu sambil tersenyum tipis. Thalita berjalan menuju kasur Mamanya dan membaringkan tubuh beserta menjadikan paha Mama nya bantal. Dia memejamkan kedua mata nya menerima usapan lembut dari sang Mama.
"Kirim saja Thata kesana, Thata akan membantu mereka keluar dari sana." Kata Thalita lirih.
"Jangan!" Kata Aldrick dan Lisa bersamaan.
"Disana bahaya sayang, kamu jangan coba-coba kesana sendirian." Tegas Aldrick membuat Thalita menoleh tipis.
"Biarkan Mama dan Papa yang akan mengambil saudaramu kembali, kamu cukup dirumah bersama Shasa." Kata Lisa tegas.
"Tidak, Thata bisa masuk dan menolong Galaksi dan Selatan. Thata akan menghubungi Mama lewat Chip yang pernah om Heru berikan." Kata Thalita yakin.
"THALITA!" Hardik Lisa dengan nada tinggi membuat Thalita menunduk.
"Sayang." Peringat Aldrick menggelengkan kepala.
Lisa memalingkan wajahnya, dia menangis dalam diam dan tak ingin ia perlihatkan kepada anaknya. Aldrick menoleh kearah Thalita yang menundukan wajah nya. Aldrick menghela nafas, dia menggendong tubuh anak angkatnya menuju taman. Tak ada penolakan saat Thalita di gendong Aldrick, gadis itu sangat takut melihat kemarahan Mamanya. Aldrick tersenyum sambil mengelus rambut panjang Thalita, dia meletakkan bocah tersebut di gazebo.
"Mama tidak marah sama Thata, Mama cuma gak mau kehilangan Thata. Cukup Galaksi dan Selatan yang ada dimansion dan Papa sama Mama bakal ngambil mereka kembali." Kata Aldrick lembut tak mendapatkan sahutan dari Thalita.
"Papa tau kalau Thata ingin membantu. Tapi asal Thalita tau, ini belum tandingan Thata, bahkan Papa sama Mama jika melawannya akan kewalahan." Jelas Aldrick membuat Thalita mendongak.
"Thata bisa membunuh wanita iblis itu dalam satu jam." Dingin Thalita.
Aldrick menggeleng, "Bukan wanita itu, tapi orang-orang yang menjaganya, mereka sangat kuat." Kata Aldrick membuat Thalita terdiam.
____________________________
Di tempat lain, tepat nya diapartemen Zefann. Lisa sedang tertidur di kamar yang berbeda dengan Zefann. Gadis itu memeluk boneka beruang yang dibelikan Zefann. Sedangkan Lilulu diletakkan di lemari, ia takut jika Lilulu menyakiti Zefann. Dikamar lain, Zefann tidak bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa kali ia berusaha memejamkan mata, namun tidak bisa.
"Aulia udah tidur belum ya?" Gumam Zefann keluar dari kamarnya.
Zefann berjalan pelan dan membuka pintu kamar Aulia, dia melihat Aulia tertidur dengan pulas. Wajah blasterannya yang teduh membuat Zefann mengantuk. Pria itu naik ke kasur dengan pelan dan berbaring disamping Aulia. Dia memainkan anak rambut Aulia sebelum tidur.
"Aku ingin memiliki mu selamanya." Lirih Zefann mengecup singkat kening Aulia.
Zefann ikut terlelap di samping Aulia dengan Aulia yang direngkuh erat Zefann. Pagi hari, Aulia terbangun dengan posisi terlentang, dia menyibak selimut dan mendapati tangan kekar ada diperutnya. Dan kepala Zefann ada di bahunya.
"Astaga, sejak kapan om pedofil ada disini?" Pekik Aulia pelan.
"Gak ada akhlak!" Rutu Aulia menyingkirkan tangan Zefann.
Aulia beranjak dari duduknya, namun tangan kekar yang menahan tubuhnya membuat dia kembali jatuh ke ranjang. Aulia menampol kepala Zefann kesal.
"Ngeselin banget sih? sejak kapan om ada disini?" Kata Aulia ngegaz.
"Gausah ngomong keras-keras, pagi-pagi suaramu yang cepreng itu membuatku sakit kepala." Kata Zefann jengkel tanpa membuka mata.
"Oh gitu ternyata, katanya mau bantu ngambil ponakan aku? mana? kamu aja masih ngebo disini!" Kesal Aulia menepis kesal tangan Zefann yang ada di dadanya.
"Ngebo?" Tanya Zefann tak paham.
"Ngebo itu, pria yang tertidur dengan tampan. Sama sepertimu!" Kata Aulia tersenyum terpaksa lalu pergi ke kamar mandi.
Ngebo aja nggak tau, ngeselin banget om pedofil satu ini. Untung aja ganteng. ~Rutu Aulia dalam hati.