MY LOVE For MAFIA

MY LOVE For MAFIA
LELAH



Rumah besar Hawasaki terlihat senyap dan tegang, biasanya seperti ini akan ada pertumpahan darah di mansion bak istana rumah hantu. Mansion ini memang terlihat seperti mansion biasa, namun siapa yang tau kalau diruangan bawah tanah, tempat terjadinya penyiksaan atas seseorang yang berani ikut campur dengan urusan keluarga Barrack Fonata. Derap langkah kaki mendekat terdengar di indra pendengaran korban. Dia sudah nampak ketakutan dan gelisah, bahkan keringat dingin membasahi tubuhnya.


Krieeeettt.. Brumm.


Suara pagar besi didorong hingga menimbulkan bunyi yang mendentumkan gendang telinga. Aldrick dan Zefann datang kesana sambil membawa samurai andalannya yang masih tidur nyenyak disarungnya. Manik mata tajam nan dingin dari keduanya membuat sang mata mata dari Qi Wo Jione makin ketakutan.


"Katakan padaku, apa saja yang sudah kamu laporkan pada Mama?" Tanya Aldrick dingin.


"Mm..maa maaf tuan, saya sudah memberikan foto dan info saat anda ada di Restaurant bersama wanita dan anak nya." Jawabnya takut takut.


Aldrick tersenyum tipis, semua korban yang sudah masuk ke neraka dunia ini pasti akan berkata jujur. Karena mereka tau, berbohong atau jujur, cepat atau lambat, mereka akan tetap mati ditangan penguasa mafia Hawasaki.


Bugh Bugh Bugh Bugh


Zefann memukuli mata mata tersebut dengan bruntal hingga wajahnya babak belur, sedangkan Aldrick menunggu gilirannya sambil mengelus samurai yang ia keluarkan dari sarungnya. Aldrick tersenyum sinis saat orang di depannya seperti memohon ampunan dari nya dan Zefann. Aldrick mendekat dan,


Jrussssss


Aldrick menancapkan samurainya dengan perlahan di perutnya, Aldrick memang suka menyiksa musuh secara perlahan, teriakan dari orang didepannya makin membuat gairah akan darah memuncak. Dia mencabut dan menancapkannya kembali ke tubuh lainnya hingga orang tersebut tewas. Aldrick dengan muka dingin nya memukul kepala orang tersebut dengan tongkat baseball besi hingga membuat kepala orang tersebut pecah.


"Kita tunggu, sebentar lagi Qi Wo Jione akan meminta kita pulang." Ujar datar Zefann diangguki Aldrick.


Drrrrttttt


Ponsel Aldrick berdering, dia merogoh saku celana nya kemudian mengangkat telpon dari Mamanya.


"Pulang sekarang, Mama tidak akan memaafkan mu!"


"Saya akan pulang saat membawa gadis ku kesana!"


tut


Karena jengkel, Aldrick memutus sambungan sepihak, dia memasukan ponselnya kembali. Kemudian melepas jas penuh darah ke sembarang tempat hingga dia bertelanjang dada saat ini. Zefann hanya menggelengkan kepala melihat tubuh kakak nya yang atletis itu.


"Bagaimana dengan Lisa?" Pertanyaan seperti itu membuat Aldrick menoleh singkat.


"Baik," Jawab santai Aldrick.


"Kita harus cepat sebelum Qi Wo Jione akan menjodohkan kita secara paksa dengan Mauren dan Morfen." Keluh Zefann kesal.


"Jika itu terjadi, saya akan membunuh keduanya!" Ujar Aldrick dingin membuat Zefann membelalakan mata.


"Crazy! kau tak ingat siapa mereka? Mereka berasal dari pimpinan Yakuza." Pekik Zefann tak habis pikir.


"Lalu? saya akan memilih mengakhiri hidup saya. Saya sudah lelah berada didunia ini, keluar pun susah." Lirihnya membuat Zefann menepuk bahu Aldrick.


"Kita akan melalui nya bersama." Ujar Zefann diangguki Aldrick.


__________________________


Dilain tempat, tepatnya di kediaman Hawasaki utama. Wanita separuh baya yang masih terlihat muda itu duduk di taman samping mansion ditemani suami nya dan dua cup teh hijau khas negara nya.


Dia adalah Qi Wo Jione, dia meniup teh nya kemudian menyesapnya perlahan. Zeikoo Fonata menatap dingin kearah istri yang keras kepala itu.


"Apa yang kau lakukan dengan putra mu?"