
Aldrick terkesiap, dia mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian melihat ayunan dan sosok tersebut hilang. Aldrick meneteskan air mata, apa yang dikatakan anak tadi? 'Kamu bukan Papaku?' Aldrick bingung juga sedih, ia bingung dengan akal sehatnya sendiri. Tepukan dikakinya membuat Aldrick menoleh kebawah mendapati ada gadis manis sedang sedih.
Aldrick duduk kemudian memangku gadis cilik tersebut.
"Kamu kenapa sendirian? Dimana orang tua mu?" Tanya Aldrick sedikit kaku membuat gadis tersebut sedikit takut.
"Ma..Mama masuk rumah sakit, Shasa gak boleh masuk ruangan Mama dulu." Ujarnya sendu.
"Nama kamu Shasa?" Tanya Aldrick diangguki gadis tersebut.
"Om kenapa melamun disini?" Tanya Shasa menatap bingung Aldrick.
"Ah nggak, om gak melamun. Cuma berfikir aja kalau Om punya anak secantik Shasa." Balas Aldrick mulai melembut.
"Om nggak punya dedek?" Tanya Shasa polos.
Aldrick menggeleng, "Om kehilangan mereka, termasuk istri Om." Balas Aldrick sendu.
"Om jangan sedih, Shasa mau kok kalau Om anggap Shasa anak. Shasa juga nggak punya ayah." Ujar gadis cilik itu lagi.
"Memang ayah Shasa kemana?" Tanya Aldrick.
"Kata Mama, Ayah meninggal." Jawab Shasa.
*
Aldrick Pov.
Perasaan ini? Perasaan apa ini? Rasa ini tak pernah aku rasakan sebelumnya. Siapa gadis cantik ini? Lalu bayangan tadi? Apa dia Thalita dan Shabita? Wajah teduh ini hanya dimiliki keluarga Lisa sebelumnya. Sifat polos dan absurd ini mengingatkan ku dengan 'Dia' gadis luar biasa yang bisa membuatku gila dalam jangka waktu tertentu. Tatapan mata tajam dan manik mata hitam legam sama seperti Papa Lisa (Elang).
"Om!"
"Eh iya, ada apa sayang?"
"Mau bantuin Shasa gak?" Tanya nya dengan imut.
"Shasa mau minta bantuan apa?"
"Tolong telponin tante, Shasa gak bisa masuk tanpa ada orang dewasa." Wajah imut itu mirip Lisa, sangat mirip.
"Kamu hafal nomor tante kamu?"
Matanya mengerjap lucu, "Tante pernah menuliskan nomornya di bekal makanan Shasa." Balasnya.
"Lalu, dimana sekarang?"
"Ada sama Mama di dalam ruangan. Om boleh ngambilin?" Tanya nya memelas.
"Tentu saja, ayo Om antar."
Jantung Aldrick berdetak tak beraturan saat mendekati ruang UGD. Dia menggendong Shasa kemudian masuk keruangangan setelah diberi izin oleh dokter. Shasa memeluk leher Aldrick, gadis tersebut takut dengan macam-macam alat medis yang tidak ia ketahui namanya. Aldrick mengelus punggung Shasa membuat gadis tersebut tenang.
Mata Aldrick terpaku pada satu tatapan, gadis itu! Gadis yang ia cari beberapa tahun belakangan ini. Aldrick menurunkan Shasa dari gendongannya, Pria itu memeluk erat tubuh Lisa yang tak sadarkan diri. Shasa hanya diam menyaksikan Mamanya dipeluk erat oleh Aldrick.
"Aku menemukanmu! Sayang, cepatlah sadar. Aku merindukanmu.. Aku menyayangimu.. Aku minta maaf atas segala kesalahanku padamu!" Lirih Aldrick menumpahkan tangis nya di pelukan Lisa.
"Om jahat, Om siapa peluk peluk Mama?!"
Aldrick menoleh kebawah, kedua gadis cantik yang mirip. Dan disampingnya ada Aulia yang sedang tercengang. Gadis itu sudah bersiap merapalkan magicnya namun Aldrick sudah lebih tau.
"Kamu jangan coba-coba menyihirku.. Zefann kecelakaan karena memikirikanmu." Lirih Aldrick.
Tangan Aulia yang semula mengepal, terurai. "Dimana dia?" Tanya Aulia lemah.
"Ruang mawar 23B," Balas Aldrick.
"Jaga Kakak dan anak-anak nya. Aku akan segera kembali. Dan jika kamu mau balas dendam? Akan kubunuh untuk kesekian kali ragamu." Dingin Aulia.
Aldrick menangis bahagia, dia duduk dan mengecupi pipi Lisa dengan sayang. Pria itu merengkuh erat tubuh Lisa seakan tak mau melepasnya kembali. Thalita menjadi kesal sendiri, gadis itu menggigit paha Aldrick membuat pria tersebut meringis.
"Auhhh.. Kenapa Thalita gigit Papa?" Tanya Aldrick.
"Papa? Thalita tidak punya Papa. Papa Thalita sudah meninggal sejak Thalita kecil!" Bentak Thalita membuat Aldrick terkejut.
"Papa ini adalah Papa kamu.. Dulu Mama menghilang dan sekarang Papa menemukannya kembali." Kata Aldrick sabar.
"Bohong hikss.. Jangan sakiti Mama, Mama sudah sangat menderita. Setiap malam Mama menangis." Tangis Thalita pecah membuat kembarannya turun dari sofa.
"Thalitaa!" Panggil Sabitha.
Aldrick memangku keduanya kemudian memeluk erat tubuh mereka. Dua gadis cantik ini mengingatkannya pada kedua orang tua Lisa. Aldrick bertekad untuk membunuh Viona saat Lisa sadar nanti. Thalita meronta saat dipeluk Aldrick, namun dijantung nya berdebar. Perasaan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Pola pikir gadis yang satu ini sangat cepat, dia paham betul perasaan Mamanya.
"Ini Papa nak." Kata Aldrick menumpahkan tangis nya.
"Bohong, Thalita gak sudi punya Papa sepertimu. Om jahat karena bikin Mama setiap malam menangis sendiri di kamar." Thalita menjawab dengan deraian air mata.
Aldrick tertegun, anak seusia Thalita bisa berbicara seperti itu. Apa sebegitu buruk nya dia dimata Thalita, hingga gadis tersebut bisa berujar dengan lancar seperti tadi.
*
*
*
Cuma mau bilang, bagi member yang pernah masuk grub tapi kemarin dikeluarkan.. Author minta maaf. Ada sedikit masalah di grub, tapi sudah selesai.. Bagi kalian yang berfikir kalau author sombong terus ngeluarin kalian.. jangan lah ya😅, author gak gitu.. silahkan kalau mau masuk kembali ke GC😚