MY LOVE For MAFIA

MY LOVE For MAFIA
USAHA PERTAMA!



Thalita memutar otak untuk mencari cara, bagaimana caranya mengurangi penjagaan dengan cepat dan efektif. Dia dan saudaranya sudah berada disini selama 16 jam, dan dia hanya tidur selama 5 jam saja. Dia meletakkan tangannya didagu dan mengusap-ngusapnya perlahan, beberapa saat kemudian, ia tersenyum manis memandangi saudara nya. Galaksi dan Selatan menggelengkan kepala saat akal bulus Thalita keluar. Thalita berdiri dan mengintip dari lubang kunci, ia melihat ada sekitar 4 orang penjaga tanpa senjata yang ada disana.


"Huh.. hahh.." Thalita menghela nafas dan menggedor gedor pintu.


Dor Dor Dor Dor..


"OM BUKAIN PINTUNYA!! THALITA GAK TAHAN!!!" Teriak Thalita tanpa menghentikan gedoran pintu.


"OM CEPETTT OMM!!!" Teriaknya lagi.


Diluar ruangan, para penjaga menutup telinga karena gedoran pintu yang keras, mereka menjadi kesal sendiri karena kelakuan Thalita.


"Ada apa sih?" Kesal salah satu penjaga pada temannya.


"Lo aja yang masuk, aku malas berurusan dengan anak kecil." Kata temannya.


"Cih, teman macam apa itu." Kata nya dan membuka kunci.


Ceklek.


Thalita tersenyum kecut saat melihat penjaga tersebut, dia berpura-pura takut dan memegangi perutnya membuat penjaga tersebut menaikan sebelah alisnya.


"Tha.. Thata mau buang air besar Om." Kata Thalita pelan.


"Ya sudah ayo, setelah ini kamu buatkan kami minuman seperti biasa, dan kamu bersihkan kolam." Kata Penjaga menunjuk Galaksi dan Selatan secara bergantian.


Sombong amat, kayak boss aja. Awas aja, kematianmu dihitung mundur dalam 5 menit. ~Batin Thalita geram.


Thalita, Galaksi, dan Selatan keluar dari ruangan. Mereka menuju urusannya masing masing kecuali Thalita yang kekamar mandi. Para penjaga telah kembali ke tempat semula membuat Thalita mendengus kesal.


"Haishh.. menyusahkan!" Kesal nya berjalan didepan Thalita.


Pada akhirnya penjaga tersebut mengantar Thalita ke kamar mandi, Sepanjang perjalanan menunju kamar mandi, Thalita mengamati keadaan sekitar. Sesampainya di kamar mandi, Thalita melihat tembok tersebut sangat tebal, Thalita menduga jika ada seseorang yang berteriak tidak akan terdengar dari luar. Thalita tersenyum manis dan berbalik menatap penjaga itu.


"Sudah kan?" Kata Penjaga tersebut berbalik ingin kembali ke tempat semula.


"Tunggu, kenapa Om mau pergi, kalau ada kecoa gimana? kalau ada tikus? nanti kalau ada ular gimana? kalau aku digigit terus mati gimana? Om mau aku gentayangin?" Kata Thalita membuat penjaga tersebut bingung karena pertanyaan beruntun dari Thalita. Dia bergedik ngeri jika yang dikatakan Thalita ada benarnya.


"Baiklah, aku tunggu disini. Cepat." Kata Penjaga diangguki Thalita.


Hehehe.. berhasil! ~Sorak senang Thalita dalam hati.


Thalita berlari masuk kamar mandi, beberapa detik kemudian ia kembali keluar menampakan wajah memerah seperti menahan sakit, penjaga tersebut mengerutkan dahi nya.


"Air nya habis, Thalita gak nyampe buat nyalain air nya. Cepet Om, udah gak tahan." Rengek Thalita memegangi perutnya seakan rasa sakitnya makin menambah.


"Nyusahin aja kamu bisanya. Dasar bocah." Kesal nya kemudian masuk kedalam toilet.


Thalita tertawa tanpa suara di lorong kamar mandi, dia menunggu penjaga tersebut masuk kedalamnya.


"Mana? Air nya banyak dan masih bersih juga." Gumamnya sambil memperhatikan air didalam bak Mandi.


Brak! Klek!


Penjaga tersebut terkejut saat mendengar pintu tertutup dan suara jika pintunya terkunci. Dia membalikan wajah dan terkejut saat melihat gadis kecil itu mencondongkan pisau lipat tepat pada dadanya.


Jlebb!!