
Aldrick menghela nafas panjang sebelum tersenyum dan menangkup kedua pipi Lisa, dia ingin mencium kembali bibir chery tersebut, tapi ia takut jika Lisa akan bertambah marah. Aldrick menyatukan kening nya dan kening Lisa, tak ada penolakan dari wanita itu, ia hanya memejamkan matanya, mencium aroma tubuh yang ia rindukan selama ini, tak bisa dipungkiri jika dia sudah jatuh terlalu dalam dengan pesona seorang Aldrick Barrack Fonata.
"Boleh aku jujur?" Tanya Aldrick lembut diangguki lemah oleh Lisa.
"Awal pernikahan kita memang dengan dasar kasihan, aku tidak mencintaimu, tapi hanya kasihan dengan nasibmu dan dengan perasaan bersalah." Kata Aldrick menarik kepalanya dan duduk disamping Lisa.
"Tapi, jika kamu mengatakan kalau aku tidak menyayangimu, itu salah! Pesonamu menarik-ku ke dimensi hidupmu. Aku tak pernah tau apa rasa cinta sebelumnya. Aku tak pernah berbicara panjang lebar sebelumnya. Tapi, kedatanganmu membalikan semuanya." Lanjut Aldrick tersenyum dan menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Lisa.
"Aku mencintaimu, mencintai segala kekurangan dan kelebihanmu. Aku disini membawa janji, janji sehidup semati yang telah kita buat bersama. Maukah kamu kembali bersamaku, my little wife?" Lirih Aldrick mencium kedua tangan Lisa.
Lisa menghela nafas panjang sebelum membuangnya perlahan, "Aku tidak bisa mempercayaimu dengan mudah," Kata Lisa membuat Aldrick tersenyum kecut.
"Tapi, kau bisa buktikan jika kamu bisa menjadi Papa yang terbaik untuk anak anakku!" Lirih Lisa sedikit menyunggingkan senyum, membuat Aldrick menarik Lisa kedekapannya.
Lisa membalas pelukan Aldrick kuat, jujur hatinya masih sakit. Tapi dia tidak boleh egois, dia masih punya anak anak yang membutuhkan seorang ayah. Lisa turun dari brankar setelah pelukannya terurai. Dia mengambil plester dan menutup tangan bekas infus dengan plester. Aldrick hanya membiarkan Lisa berulah sesuka hati. Dia tak ingin Lisa kembali marah.
"Dimana ruangan Zefann?" Tanya Lisa membuat Aldrick tersadar.
"Kamu naik kursi roda saja, biar aku dorong." Kata Aldrick dibalas gelengan oleh Lisa.
"Aku masih bisa berjalan." Tolak Lisa.
"Jangan membandel Lisa, patuh dengan suami!" Kata Aldrick tegas.
Lisa mengangguk pasrah kemudian duduk di kursi roda. Aldrick mendorong kursi roda keluar membuat dua bocah kembar yang menunggu diluar langsung menoleh.
"Mama mau kemana?" Kata mereka serempak.
"Mau jenguk saudara Mama, ayo ikut sayang." Kata Lisa lembut diangguki keduanya.
Aldrick tersenyum kearah dua bocah kembar tersebut, Shabita membalas senyum manis dan Thalita yang membalas senyum sinis. Lisa tersenyum dan mengelus rambut Thalita yang sifatnya sangat mirip dengan Papa (Elang), namun kuat seperti Mama nya (Liah). Lisa menggeleng membuat Thalita mengulas senyum dan mengecup pipi Mamanya yang terlihat pucat.
Aldrick membawa Lisa menuju ruangan Zefann, sesekali ia mencium rambut Lisa dari belakang membuat Thalita waspada dan mengeluarkan pisau lipat nya kembali. Shabita menggelengkan kepala melihat sifat posesif kakak kembarnya.
Krieettt
Aldrick menjadi panik dan mendekap kedua bocah tersebut agar tidak melihatnya.
"Ekhemm!" Dehem Aldrick membuat Zefann terkejut dan melepaskan pangutannya dari bibir Aulia, dia membenarkan kancing baju Aulia yang terbuka dua.
Aldrick membawa sikembar keluar, Lisa menahan senyum dan mendekati mereka berdua yang terlihat gugup. Aulia menundukan wajahnya karena malu.
"Aulia!" Panggil Lisa lirih membuat Aulia menangis.
"Kak, maafin Aulia. Aulia salah kak, kakak jangan marah, Hiks." Kata Aulia sesenggukan dan memeluk Lisa.
"Kamu tau kesalahan kamu?" Tanya Lisa datar diangguki Aulia.
"Kakak ipar," Panggil Zefann berjongkok dan memegangi kedua tangan Lisa.
"Apa yang barusan kalian lakukan?" Kata Lisa tetap datar tanpa melirik keduanya.
Aulia hanya bisa menangis dan menunduk, Zefann menghela nafas panjang.
"Maaf kak, hampir saja aku melakukan kesalahan yang fatal. Aku gagal menahan nafsu saat melihat Aulia." Kata Zefann.
"Hemm.. baiklah, lain kali jangan ulangi lagi." Kata Lisa disertai senyuman membuat Zefann dan Aulia reflek memeluk Lisa.
"Terimakasih kak." Kata mereka berdua.
"Lep.. pass!!" Kata Lisa terbata karena sesak.
Zefann dan Aulia melepaskan pelukan sambil cengengesan membuat Lisa menggelengkan kepala.
"Tapi, kalian harus menikah!"
"Apa?!"